Korban Pinjol, Sudah Jatuh Tertimpa Tangga

Karyawan usaha Pinjol di Cipondoh, Tangerang, mengangkat tangan saat kegiatan mereka digrebek polisi (14/10). Sudah waktunya pinjol illegal dibasmi tuntas dan pelakunya ditangkapi karena aksi-aksi brutal mereka saat menagih dan memanfatakan peminjam yang terhimpit kesulitan ekonomi.

NASIB malang dialami ribuan nasabah korban usaha peminjaman uang online (pinjol), bak pepatah lama “Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Pula” karena begitu uang masuk di rekening mereka, persoalan lebih besar menjeratnya.

Selain literasi yang lemah, tidak membaca secara seksama pasal-pasal yang tertera dalam transaksi pinjam meminjam, sebagian besar dari mereka beralasan, meminjam uang karena kebutuhan mendesak.

Dari situs-situs perusahaan pinjol di medsos, tawaran pinjaman selain mudah, tanpa agunan, cukup mengirim data pribadi di KTP melalui online, hanya sekejap dalam hitungan menit, pinjaman cair melalui transfer ke rekening peminjam.

Di tengah himpitan ekonomi dialami jutaan orang akibat pandemi Covid-19 karena di-PHK tanpa pesangon, gaji atau honor dipotong,  usaha lumpuh bahkan stop akibat PSBB atau PPKM, padahal kebutuhan hidup untuk diri dan keluarga mutlak, meminjam dari pinjol merupakan pilihan satu-satunya.

Orang tentu tidak bisa berfikir panjang jika terdesak keperluan yang tidak bisa ditunda, seperti kehabisan beras untuk dimakan bersama keluarga hari itu, ada yang sakit atau mengalami kecelakaan atau musibah.

Nah di situ lah, peluang emas usaha pinjol muncul. Korban tidak sadar, begitu uang pinjaman masuk ke rekeningnya, sebenarnya ia sudah “masuk perangkap”, karena  selang beberapa hari kemudian mulai diteror oleh “debt collector”.

Selain ditagih dengan kata-kata kasar, debt collector mengancam akan mempermalukan korban di lingkungan kerja atau keluarga, termasuk menyunting foto dirinya menjadi konten pornografi, lalu menyebarkannya.

Nilai pinjaman pokok plus bunga yang ditagih juga tidak masuk akal.  Ada yang cuma meminjam Rp10 juta untuk tenor 30 hari, yang diterima cuma Rp8 juta, tapi tagihannya sampai Rp30 juta, atau pinjam Rp 30 juta, yang diterima cuma Rp25 juta, setelah beberapa bulan, tagihannya melonjak sampai Rp100 juta.

Peringatan Jokowi

Presiden Jokowi sendiri yang dalam pertemuan dengan OJK pada 11 Oktober lalu menilai, jasa keuangan berbasis teknologi (fintech) berpotensi menciptakan kekuatan ekonomi, namun menyayangkan adanya sejumlah  masyarakat yang tertipu atau terjerat pinjol.

Praktek usaha pinjol illegal telah berlangsung bertahun-tahun dan memangsa  ribuan warga kelas menengah ke bawah, bahkan sampai ada yang putus asa mengakhiri hidupnya karena tidak tahan dikejar-kejar dan dipermalukan penagih.

Paling tidak, tercatat lima korban jeratan pinjol yang bunuh diri pada 2021 yakni AW (pria 42 tahun) yang loncat dari atap mall di Bekasi (11/10), HP (pria, 25 tahun), pegawai bank di Bojonegoro (23/8), WPS (38) ibu rumah tangga di Wonogiri (4/10), OS (pria, 36 tahun) di Tulungagung (23/6) dan  ADS pria petugas Taman Hutan Rakyat di Gunung Kidul (30/8).

Kepolisian sendiri, seperti disampaikan Direktur Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Kombes Auliansyah Lubis (14/10), selama Oktober saja sudah mengamankan 40 perusahaan pinjol.

Dalam penggerebekkan di Ruko Crown Blok C-7, Green Lake City, Tangerang (14/10) ditemukan satu perusahaan  yang memiliki tiga aplikasi pinjol resmi dan 10 aplikasi illegal. Sebanyak 32 karyawan termasuk penagih, administrasi dan kreator (a.l. merekayasa foto korban menjadi konten pornografi, digelandang ke Polda Metro Jaya.

Pada hari yang sama, polisi juga melakukan penggerebekan di sebuah usaha pinjol dan menggelandang 86 karyawannya di Jl. Herman Yohanes, Kawasan Depok, Sleman Yogyakarta yang memiliki 22 aplikasi illegal dan satu aplikasi resmi untuk mengelabui petugas.

Berdasarkan catatan Satgas Waspada Investasi, sampai Juli lalu masih tercatat ada 442 perusahaan pinjol illegal yang beroperasi, setelah ditutup oleh OJK dari 1.993 pada 2019 dan 1.026 pada 2020. Sedangkan pinjol resmi yang tercatat di OJK ada 106.

Selain membasmi tuntas uaha pinjol illegal dan juga meningkatkan literasi masyarakat agar tidak terpikat oleh jeratan mereka, sudah waktunya juga memikirkan skema pinjaman darurat terutama bagi masyarakat kelas menengah ke bawah yang memerlukan pinjaman mendesak.

Sejumlah program Jaringan Pengaman Sosial (JPS) yang diberikan pemerintah seperti Program Keluarga Harapan, BST, Kartu Pekerja dan lainnya perlu diperluas lagi dan lebih penting lagi, rutin dan tepat sasaran agar warga yang terhimpit ekonomi tidak jatuh ke tangan para tengkulak atau pinjol illegal.