Manusia Mental Ayam

Jika tak ada rem agama dan hukum, kaum lelaki bisa seperti ayam. Maunya semua babon hendak dikawini.

AWALNYA tersentak juga membaca berita tentang seorang ayah perkosa 3 anak kandungnya di Luwu Timur (Sulsel). Tapi dari keterangan polisi setempat dan ayah kandung sendiri, berita itu  ternyata sekedar fitnah oleh bekas istrinya. Memang tak masuk akal juga sih, masak  seorang ayah tega perkosa  darah dagingnya sendiri yang berusia 8, 6, dan 4 tahun. Memangnya ayam? Ayam saja tak pernah mau kawini kuthuk (anak ayam baru menetas) baru turun dari petarangan (tempat pengeraman telur).

Tapi coba Anda ketik “perkosa anak kandung” di Mbah Google, lalu diklick…… Ya ampuuuun, bererot peristiwa manusia mental ayam, dari Sabang (Aceh) sampai Merauke (Papua) berjajar ayah-ayah celamitan, sambung-menyambung menjadi satu, itulah mental bejat sejumlah orang Indonesia. Mereka ini oknum-oknum manusia yang lebih dominan pada naluri ketimbang nalarnya.

Sekedar contoh, di  Aceh pertengahan September 2021 lalu seorang ayah bernama SN dari kota Subulussalam (Singkil) perkosa putrinya, Bunga sejak usia 12 sampai 14 tahun sekarang. Lalu dari Papua Barat, pada Mei lalu MK warga kota Sorong ditangkap polisi karena memperkosa anak kandungnya yang baru berusia 2 tahun. Kemudian J dari Kendari, Juni 2021 nodai 2 anaknya yang baru berusia 15 dan 13 tahun. Disusul kemudian dari Sumut, seorang ayah bernama Y (38) dari Langkat 5 hari lali perkosa anaknya yang duduk di SMP sejak tahun 2018.

Di kota-kota lain seperti Payakumbuh, Jambi, Banyuasin (Sumsel), Lampung Timur, Samarinda (Kaltim), Lombok (NTB), Banten, Bali,  dan sejumlah kota di Jawa; ada sejumlah warganya punya “andil” merusak citra seorang ayah, karena tega memperkosa anak kandungnya. Ini kan jadi seperti anak-anakan dari timun, kecil digendong-gendong gede dimakan sendiri.

Beberapa waktu yang lalu Presiden Jokowi menyerukan, bencilah pada produk asing dan cintailah produksi dalam negeri! Ternyata oleh sejumlah bapak rusak mental, anjuran presiden itu diterjemahkan lain. Karena di mata mereka anak juga termasuk produk dalam negeri, maka dengan teganya mereka memperkosanya. Bodo amat dengan urusan moral, yang penting berhasil memanjakan alat vital.

Jika mau bicara sejujurnya, manusia berjenis kelamin lelaki itu menjadikan seks sebagai panglima, bahkan cenderung seperti ayam. Jika tak ada aturan hukum agama, hukum negara dan adat, makhluk lelaki seperti jago kukuruyuk. Setiap melihat perempuan cantik, nafsunya langsung bangkit, lalu membayangkan yang ngeres-ngeres. Andaikan bisa berhoho hihi……bersamanya, alangkah asyiknya.

Tapi rem dan kendalinya ya itu tadi, sanksi hukum agama, hukum negara dan adat. Karena pertimbangan tersebut, manusia normal masih bisa mengendalikan hawa nafsunya secara terukur. Jika tak ada itu semua, woo…….setiap melihat perempuan cantik dikejarnya sampai dapat, jika tak mau ya diperkosa. Benar-benar seperti ayam!

Semua skandal seks ayah dan anak yang tercatat di Google, adalah bukti manusia yang tak mampu mengendalikan hawa nafsunya. Karena sudah seperti ayam, anak sendiri dikawini. Karena seperti ayam, ibu sendiri, ponakan atau tante dikawini. Ini benar-benar sudah sering terjadi. Apa lagi yang namanya makan adik ipar, itu kasus paling banyak terjadi dan terekam dalam Mbah Google. Sampai-sampai orang Jawa punya plesetan, ipar dalam bahasa Jawa disebut ipe, itu ternyata kepanjangan: iki ya penak!

Kenikmatan seksual adalah karunia Illahi pada umatnya. Sebab dengan kenikmatan seks tersebut dunia bisa berkembang pesat jumlah penduduknya, yang bahasa kerennya disebut bonus demografi. Namun demikian tak boleh disalah gunakan, sehingga agama dan UU negara mengaturnya. Hukum Islam (Qur’an) melarang orang berzina (surat Al Isra 32), dan KUHP pasal 284 juga menghukum pezinawan-pezinawati maksimal 1 tahun penjara. Bahkan di Aceh, mereka bisa dicambuk pantatnya berkali-kali sampai tepos.

Dengan mematuhi hukum agama dan negara, diharapkan pelanggaran seksual bisa dikurangi, sukur-sukur tak ada lagi, sehingga tak ada lagi ayah menjelma jadi ayam, majikan makan pembantu atau perkawinan dini gara-gara LKMD (Lamaran Keri Meteng Disik) alias hamil duluan. Iman harus kuat, sehingga “si imin” bisa dikendalikan. (Cantrik Metaram).