DASAMUKA GUGAT (2)

Dasamuka tetap ngeyel, bersikeras menuntut wayang ngercapada bebas dari kematian.

SEPERTI pelajar SMA tengah ujian ditunggui pengawas, para peserta sidang di Jonggring Sala jadi tidak nyaman. Istilahnya sekarang: gagal fokus! Apa lagi membaca chatingan di grup WA, Dasamuka ke kahyangan membawa sejumlah raseksa untuk berdemo. Tuntutannya juga ayak-ayak wae, minta dibebaskan dari kematian, agar setara dengan para dewa. Ya nggak mungkinlah, keenakan wayang PNS, kerja paling-paling 40 taun, uang pensiunannya jalan terus tak pernah henti.

SBG selaku penguasa Jonggring Salaka menskors sidang sejenak, untuk menanyakan apa gerangan maksud dan tujuannya Dasamuka naik ke kahyangan dumrojog tanpa larapan (baca: tanpa dikawal Satpam). Padahal aturan Jonggring Salaka sudah jelas, tamu ngercapada harus mengajukan izin sebulan sebelumnya, dan harus mengikuti prokes secara ketat. Sedangkan ini, tahu-tahu Dasamuka datang mak bedengus, tanpa pakai masker lagi!

“Ada keperluan apa jeneng kita masuk Bale Marcakunda dengan melanggar segala protap kahyangan?” tegur SBG dengan wajah tak bersahabat.

“Mohon maaf beribu-ribu maaf pukulun, sebagaimana yang tertera pada spanduk dan baliho, kami punya tuntutan sederhana, bebaskan makhluk ngercapada dari kematian, sehingga kami setara dengan para dewa.” Ujar Prabu Dasamuka seperti tanpa beban.

Semua yang mendengar tuntutan Dasamuka terkesima, lalu kemudian serentak tertawa, untung saja tidak sampai berguling-guling seperti bahasa medsos. Itu kan bikin kacau ekosistem di ngercapada dan kahyangan. Sudah menjadi hukum dunia, ada awal pasti ada akhir. Lha kalau mengikuti versi Dasamuka, ada kelahiran tak ada  kematian, ya penuhlah dunia.

“Jika tak ada kematian bagi wayang ngercapada, Betara Yamadipati lalu kerja apa? Banyak nganggur bisa ketularan jadi tukang nyinyir macam Fadli Zon nanti.” SBG bertanya pada Prabu Dasamuka.

“Itu mah gampang, pukulun. Taruh saja jadi komisaris utama, pasti mau dia.” Jawab Dasamuka seenak perutnya.

Patih Narada sedari tadi diam saja mendengar omongan raja Ngalengka tersebut. Tapi ketika Dasamuka sebagai titah ngercapada berani menggugat sistem di kahyangan, ini sudah kurang ajar. Ini layak disegerakan jadwal kematiannya, ketimbang hidup di dunia bikin rusuh titah ngercapada. Maka Patih Narada segera WA ke Betara Yamadipati, agar Prabu Dasamuka dicabut nyawanya sesegera mungkin.

Ternyata jawaban penguasa kahyangan Hargadumilah itu sangat mengejutkan. Kata Yamadipati setelah memeriksa buku Pustaka Laya, umur Dasamuka jatuh temponya tidak jelas, karena dia sudah memiliki ajian Pancasona warisan Resi Subali. Dimatikan seribu kali pun asal masih mampu menyentuh tanah, akan kembali hidup.

“Lho, kok ulun tidak tahu ya! Kapan serah terima ajian Pancasona itu?” tanya Betara Narada lewat chatingan.

“Wah, sudah kapan-kapan, tuh. Pukulun rupanya kudet (kurang update) ya?” ledek Betara Yamadipati.

Andaikan dialog itu dalam bentuk videocall, pastilah terlihat Betara Narada tersipu-sipu malu. Maklum, meski punya HP canggih Narada tak pernah memanfaatkan segala kelebihannya, karena tahunya hanya buat nelpon dan terima/kirim WA saja. Maka biar jagad maya heboh, Betara Narada tenang-tenang saja. Dia satu-satunya tokoh kahyangan yang tak pernah ngetwet.

Tapi melihat omongan Prabu Dasamuka semakin ngelantur, terpaksa patih kahyangan itu ikut angkat bicara. Tujuannya agar Dasamuka jadi wayang jangan terlalu mengada-ada, ikut intervensi hal-hal yang bukan wewenang dan domainnya. Ini benar-benar wayang yang tak tahu diuntung.

“Hai Dasamuka, mestinya jeneng kita sudah merasa bersyukur. Sebab dengan ajian Pancasona jeneng kita sudah terbebas dari kematian. Jadi tak perlu punya gagasan yang aneh-aneh di luar  kelaziman dan kepatutan. Ini namanya melawan takdir.” Kata Betara Narada mengingatkan.

“Lho, saya ini raja lho pukulun. Saya  harus bisa berbuat adil paramarta, kenikmatan bukan jadi monopoli penguasa, tapi juga buat rakyatnya. Saya nggak mau jadi raja hanya mementingkan diri sendiri.” Jawab Dasamuka sok idealis.

“Bagus dan luhur tekadmu, Dasamuka. Tapi kalau sampai menggugat soal kematian bagi titah ngercapada, itu sudah kontra produktif.” Betara Narada mulai meninggi.

Dasamuka memang wayang kelotokan, nggak ada takutnya sama dewa. Merasa protesnya menemui kebuntuan, dia ingin ketemu saja langsung kepada Yamadipati. Dia tinggalkan kahyangan tanpa pamit. Pendemo para barisan reksasa itu diarahkan untuk menuju kahyangan Hargodumilah. Demo akan dilanjutkan di sana. Jika perlu nginep.

Dasamuka memang punya niat jahat, dan itu sesuai dengan sebutan dia sebagai ratu durmalaning bumi (pempin paling jahat sedunia). Dia berencana untuk merebut buku Pustaka Laya pegangan Yamadipati. Jika buku tersebut berhasil disabot, pastilah Betara Yamadipati bingung tak bisa kerja, karena dia tak hafal jadwal kematian jutaan umat. Mau mencabut secara ngawur, pastilah diprotes Komnas HAM.

“Perhatikan ya, ketika saya berembug dengan Yamadipati, kalian diam-diam masuk gedong pusaka, curi itu buku Pustaka Laya. Pasti dia langsung nggak bisa kerja.” Kata Prabu Dasamuka begitu tiba di daerah kahyangan Hargodumilah.

“Memangnya Yamadipati nggak punya database di komputer?” Korlap Kala Drupala bertanya.

“Soal begituan dia masih gaptek, tahunya baru main WA doang.”

Demikianlah, Prabu Dasamuka telah berbagi tugas dengan barisan pendemo panasbung. Sementara dia melobi Yamadipati, para pendemo terus pentang spanduk menuntut penghapusan kematian wayang. Mereka sama sekali tak paham bahwa Yamadipati sekedar pelaksana, semua kebijakan di tangan SBG. (Ki Guno Watoncarita)