Thomas Cup Tanpa “Merah Putih”

Tim Bulu tangkis Indonesia merebut kembali Piala Thomas Cup setelah lepas 19 tahun dengan menekuk China 3 - 0 di Ceres Arena, Aarhus, Denmark (17/10). Sayangnya, Merah Putih tidak bisa dikibarkan karena sanksi yang dikenakan WADA.

PIALA Thomas berhasil kembali direbut tim bulutangkis Indonesia dalam laga di Arena Ceres, kota Aarhus, Denmark, Minggu (16/10),  mengakhiri penantian panjang selama 19 tahun.

Jonathan Christie yang bermain pada partai ketiga atau terakhir, unggul lawan Li Shi Feng dengan skor 21 – 14, 18-21 dan 21 – 14 sehingga memastikan Piala Thomas,  lambang supermasi kejuaraan bulu tangkis dunia dalam genggaman tangan.

Di partai ganda, pasangan Fajar Alfian dan M. Rian Ardiyanto berhasil menekuk pasangan China, He Ji Ting dan Zhao Hao Dung dua set langsung, 21 – 12 dan 21 -19, sedangkan Anthoni Sinisuka Ginting mengalahkan Lu Guangzou 18 – 21, 21 – 14 dan 21 – 16.

Sayangnya, bendera Merah Putih tidak bisa dikibarkan mengiringi lagu kebangsaan “Indonesia Raya” pada upacara penghargaan karena  sanksi Badan Antidoping Dunia (WADA) pada Lembaga Antidoping Indonesia (LADI) yang dinyatakan tidak mematuhi program pengujian (tentang doping) sesuai direkomendasikan

Setelah membuat hattrick, tiga kali juara pada laga Thomas Cup 1998, 2000 dan 2002, prestasi tim Indonesia khususnya pemain tunggal melorot pada turnamen bulutangkis tahun-tahun berikutnya.

Setelah 2002, Indonesia hanya dua kali lolos sampai ke final, pada 2010 dan 2016, namun  terjegal oleh China masing-masing dengan hasil 0 – 3 dan 2 – 3 .

Sementara itu Wakil Ketua LADI, Rheza Maulana dalam keterangan tertulis singkat mengakui akhir pekan lalu mengakui adanya persoalan  terkait  target tes doping, administrasi, dan kepengurusan.

Rheza tanpa menyebutkan penyebabnya dan merinci permasalahannya juga menyatakan, dalam kurun waktu setahun, LADI sudah tiga kali gonta-ganti kepengurusan sehingga memicu terjadinya  miskomunikasi internal dan eksternal.

Sedangkan Menpora Zainudin Amali dalam penjelasannya menyebutkan, sanksi yang dikenakan WADA pada LADI yang berujung larangan pengibaran Merah Putih sebenarnya bisa diselesaikan jika kejadiannya tidak berbarengan dengan transisi dalam kepengurusan LADI.

Sorot Tajam Sikap Pemerintah

Sementara mantan juara Asian Games, Olimpiade dan juara dunia bulutangkis (BWF)   Taufik Hidayat, menyorot tajam pemerintah (kemenpora) yang dinilainya tidak berkoordinasi baik dengan LADI.

Dalam dialog di TV, Selasa pagi (19/10), Zainudin meluruskan pernyataan Taufik yang menyebutkan, pemerintah mestinya lebih tanggap karena orang-orangnya juga ada yang ditempatkan dalam kepengurusan LADI.

Menurut Zainudin, kini sudah tidak ada lagi orang-orang pemerintah dalam kepengurusan LADI, karena sesuai dengan statusnya sebagai lembaga independen, WADA yang membawahi LADI melarang  kehadiran unsur pemerintah dalam kepengurusan LADI.

“Tapi paling tidak, kan pemerintah (kemenpora) bisa mengingatkan atau membantu LADI mengatasi persoalan (terkait testing doping), ” kilah Taufik.

Namun dalam kesempatan itu Menpora pun meminta maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia atas peristiwa tidak berkibarnya bendera Merah Putih di kejuaraan Piala Thomas 2020.

“Saya mohon maaf, karena kita semua jadi tidak enak, seharusnya kita menikmati kembalinya Piala Thomas, tetapi kenikmatan  berkurang karena Merah Putih tak bisa dikibarkan,” kata Menpora.

Sanksi WADA memuat larangan pengibaran bendera Merah Putih dalam event atau turnamen olahraga internasional selain olimpiade dan paralimpiade.

Yang mencemaskan adalah larangan penyelenggaraan turnamen atau event olahraga int’l di dalam negeri sebelum sanksi WADA dicabut, padahal pencabutannya paling cepat, diperekirakan baru bisa diurus  dalam tiga bulan.

Dalam perspektif lebih luas, yang dilakukan LADI terkait fungsinya mengatur program testing doping, bisa dijadikan pembelajaran, pengabaian hal-hal sepele bisa merugikan bangsa dan negara.

Klarifikasi oleh LADI tentang persoalan dan fakta yang terjadi ditunggu!