Pandemi Tak Halangi Korut Uji Rudal

Korut makin sering melakukan uji coba rudal-rudal balistik di tengah pandemi Covid-19 dan kesulitan ekonomi akibat embargo int'l dan banjir besar Agustus lalu.

PANDEMI global Covid-19 dan himpitan ekonomi tidak  menyurutkan, apalagi menghentikan, malah membuat Korea Utara lebih sering menguji coba rudal-rudal balistik dan senjata nuklirnya.

Kantor Berita Yonhap, Korea Selatan melaporkan, Korut menguji coba rudal di kawasan laut di timur Semenanjung Korea, Selasa (19/10), diduga sebagai respons pertemuan trilateral antara AS, Korsel dan Jepang  yang merupakan negara-negara seterunya.

Tidak dirinci rudal berkemampuan terbang setinggi 60 Km dan berjangkauan 560 Km itu diluncurkan dari situs peluncuran di darat, permukaan laut, kapal selam atau platform peluncuran yang dipasang di dasar laut.

Sebelumnya (pada 28 Sept), Korut juga membuat ketar-ketir  tetangganya, Korsel dan pihak Barat, dengan meluncurkan rudal  hipersonik yang menurut analis Barat, dirancang untuk menyerang target di lokasi-lokasi di pedalaman Korsel.

Uji coba rudal terbaru itu  digelar beberapa pekan setelah Korut menguji coba rudal jelajah jarak jauh berkecepatan  hipersonik dari atas rangkaian KA yang dianggap sebagai ancaman oleh musuh-musuhnya.

 Uji Coba ke-5

Sementara Associated Press dan AFP melaporkan (20/10), uji coba rudal yang dilakukan Korut, Selasa lalu (19/10) adalah  yang ke-5 sejak September lalu dan uji coba pertama rudal balistik yang diluncurkan dari kapal kapal selam (SLBM) dalam dua tahun terakhir.

Korut terlibat dalam dialog enam pihak (Korsel, Korut, China, Jepang, AS dan Rusia) sepanjang  2003 – 2009 memuat larangan bagi Korut pengembangan senjata nuklir, pengayaan uranium dan plutonium.

Sanksi pemeriksaaan terhadap kapal-kapal kargo Korut yang berlayar di wilayah perairan negara anggota PBB akhirnya dijatuhkan akibat Korut mengabaikannya, tetap menjalankan reaktor nuklir dan menguji coba rudal.

“Uji coba ini berkontribusi besar untuk menempatkan teknologi pertahanan negara dalam level tinggi dan  meningkatkan kemampuan operasional bawah laut AL,” demikian laporan kantor berita resmi Korut, KCNA.

Rezim Pyongyang sejauh ini mengklaim bebas dari Covid-19 walau hal itu mengundang tanda mengingat tingginya interaksi warga Korut dan tetangganya, China, negeriyang diduga  asal-muasal penyebaran virus SARS-CoV-2 penyebab pandemi Covid-19.

Selain akibat banjir besar Agustus lalu, perekonomian Korut  diberitakan pihak luar terpuruk akibat sanksi  yang dikenakan PBB akibat pengabaiannya atas larangan ujji coba rudal nuklir secara illegal.

Sesuai dengan ketetapan DK PBB, negara-negara anggotanya diberi hak untuk memeriksa setiap kapal kargo Korut yang berlayar di wilayah mereka dan menyita barang illegal yang diangkutnya.

Krisis Pangan

Penyelidik PBB Thomas Ojea Quintana dalam laporannya yang dirilis (20/10) mengungkapkan, Korut dilanda krisis pangan yang makin parah di Korut yang penduduknya  di bawah pembatasan prokes ketat Covid-19.

“Akibat terisolasi (oleh dunia luar-red), anak-anak dan orang tua di Korut adalah penduduk paling rentan di benua Asia terhadap risiko kelaparan, “ kata Thomas Ojea.

Sektor pertanian Korut paling banyak menghadapi kesulitan  sejalan dengan anjloknya impor pupuk dan kebutuhan lain terutama dari China akibat berbagai pembatasan di tengah pandemi dan juga banjir besar pada Agustus lalu.

“Kesulitan ekonomi juga berujung makin rentannya pelanggaran HAM terhadap kalangan penduduk biasa, “ tutur  Ojea.

Konflik di Semenjung Korea agaknya masih berlangsung lama, dan yang paling menderita, tentu saja rakyat Korut. (AP/AFP/ns)