Pinjol Bikin Kobol-Kobol

Polisi sedang menggerebek pinjol ilegal di Cengkareng. Mereka semua anak-anak muda bermental durjana.

DAGELAN Peang-Penjol dari Banyumas, bikin orang tertawa ngakak. Tapi terjerat Pinjol (pinjaman online) ilegal, bikin perut mules. Selain bunganya bikin kantong kobol-kobol, peminjam bisa stress gara-gara dikejar-kejar debt kolektor. Karena itulah Presiden Jokowi sampai  mengintruksikan, sikat habis pinjol ilegal. Boleh percaya boleh tidak, 68 juta rakyat Indonesia terlibat dalam kegiatan ini, baik pengguna maupun penyelenggara. Baik yang bekerja bener atau sekedar tipu-tipu masyarakat.

Pinjol marak di negeri ini di samping kemudahan teknologi digital juga karena kesulitan ekonomi rakyat ketika diterpa pandemi Corona. Dulu orang larinya ke Kantor Pegadaian, yang katanya bisa mengatasi masalah tanpa masalah. Nyatanya pegadaian pemerintah sekarang tak semudah pegadaian dulu. Dulu dandang dan alat dapur lainnya bisa digadaikan, sekarang tidak lagi. Minimal barang elektronik.

Ke bank persyaratannya juga semakin ketat. Ke BRI misalnya, meski ada jaminan sertipikat tanah, jika pinjam Rp 50 juta tak punya aktivitas usaha, juga ditolak. Lalu ke mana larinya masyarakat yang punya kebutuhan mendadak tanpa solusi? Ya ke Pinjol yang sedang tumbuh bak cendawan di musim penghujan. Cuma harus hati-hati, Pinjol ini ada yang resmi, maksudnya dalam pengawasan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan Pinjol abal-abal alias tak berizin sehingga sepak terjang mereka sudah seperti preman.

Kegiatan Pinjol sudah melibatkan 68 juta penduduk Indonesia, yang kata Rhoma Irama; ada Jawa, ada Sunda, ada Batak dan lain-lainnya….. breng breng breng! Mereka ini terdiri dari pengguna dan penyelenggara. Untuk penyelenggara fintech (financial technologi) yang berizin OJK, jumlahnya sekitar 107, ini belum termasuk  43 anggota pendukung ekosistem fintech, di antaranya juga termasuk perusahaan penyedia jasa penagihan.

Sedangkan yang tak berijin jumlahnya ombyokan. Tapi yang jelas pihak Kementrian Kominfo telah menutup Pinjol nakal sebanyak 4.874 dari tahun 2018 hingga 15 Oktober lalu. Fintch-fintech model beginilah yang bikin susah rakyat miskin tambah susah karena dikejar-kejar debt kolektor gara-gara terjerat bunga yang beranak pinak.

Jumlah orang miskin di Indonesia sebetulnya lebih banyak ketimbang angka-angka yang dihadirkan BPS. Sebab BPS punya standar aneh, asal punya penghasilan di atas Rp 600.000,- sebulan sudah dianggap bukan orang miskin. Padahal faktanya hidup di negeri ini dengan penghasilan Rp 5 juta sebulan saja hidupnya bisa seperti lagu Bandar Jakarta karya Maladi, “Awan lembayung, sore kangkung……!” Bagaimana tak disebut warga miskin jika menunya hanya sayur mbayung dan oseng-oseng kangkung setiap hari. Pakai ikan pun dalam bentuk …..teri alias ikan asin.

Nah, rakyat miskin atau karena mendadak dimiskinkan Covid-19, paling banyak menjadi nasabah Pinjol, baik yang resmi maupun liar. Untuk yang Pinjol resmi, nasabah masih dapat perlakuan wajar selaku debitor. Tapi yang Pinjol abal-abal, ditagih debt kolektor rasanya jantung mau kontal!

Ambil contoh TM (39) warga Bandung Barat. Dia sampai masuk RS Kawaluyaan Kota Baru Parahiyangan, gara-gara terjebak Pinjol ilegal. Pada September lalu dia menerima SMS tagihan pinjol. Karena tak merasa pinjam, dia membantahnya. Rupanya TM pernah ambil Pinjol legal, sehingga penelpon tahu rekeningnya dan masuklah dana Rp 1,2 juta. Merasa tak pernah ajukan pinjaman, uang itu dikembalikannya. Tapi justru masuk rekeningnya lagi sebesar Rp 2,8 juta.

Dia mencoba mengambilnya, tapi yang bisa ditarik hanya 50 persennya.  Seminggu kemudian sudah ditelpon, diminta bayar pinjaman berikut bunganya. TM mencoba mengabaikan saja tagihan itu tapi langsung diteror, termasuk anggota keluarganya.  Bahkan teman-temannya juga jadi tahu, karena sengaja Pinjol ilegal itu  mau permalukannya. TM benar-benar tidak tenang jadinya, bahkan stress. Sebelum masuk RS Waluyaan karena sakit mendadak, dia sempat lapor polisi.

Polisi Bandung mulai bergerak. Berdasarkan nomer HP-nya penelpon TM, diketahui bahwa biangkeroknya di daerah Yogya. Benar saja, ketika polisi menggerebeknya di daerah Depok Sleman, berhasil ditangkap 83 pegawai kantor pinjol ilegal termasuk para debt kolektornya. Mereka diboyong ke Bandung sebagai tersangka, sementara RSO sebagai bos sekaligus pengendali aplikasi ditangkap di Jakarta.

Ini semua berawal dari sentilan Presiden Jokowi saat OJK Virtual Innovation Day 2021pada 11 Oktober lalu. Presiden mengatakan, di saat yang sama diterima laporan  banyak  terjadi penipuan dan tindak pidana keuangan. Korbannya masyarakat bawah yang tertipu dan terjerat bunga tinggi oleh pinjaman online. Mereka ditekan dengan berbagai cara untuk mengembalikan pinjamannya.

Berkat arahan Presiden, Kapolri Listyo Sigit bergerak cepat. Selain membekuk komplotan di Sleman, juga Pinjol-Pinjol liar di Tangerang, Cengkareng, Penjaringan dan Pluit. Mereka inilah Pinjol-pinjol ilegal yang mengelabui rakyat miskin sampai keuangan kobol-kobol karena terjerat bunga tinggi, bahkan ada pula yang sampai bunuh diri. (Cantrik Metaram)