Kepala Ikan Busuk di Polri

Di Jakut sejumlah polii dipecat dalam upacara karena terlibat narkoba.

SELAMA beberapa bulan terakhir ini, citra polisi sebagai bayangkara negara benar-benar tercoreng. Sejumlah oknumnya mengalami dekadensi moral, dari tindakan asusila, pembunuhan sampai pungli  sebagai lagu lama. Kapolri Jendral Sigit Listyo Prabowo sampai mengatakan, “Ikan busuk dimulai dari kepalanya. Karena itulah, “ikan” yang tak bisa  menertibkan ekornya, akan saya potong kepalanya.”

Masalah “kepala ikan busuk” ini pernah disampaikan juga oleh Amien Rais menjelang Pilpres 2019 lalu. Kata dia, jika presidennya busuk, maka rakyatnya akan ikut busuk pula karenanya. Ternyata Kapolri Listyo Sigit sekarang mengucapkan  hal yang sama, meski scopenya lebih kecil, hanya tingkat kepolisian saja. Tapi yang jelas, beliau sangat geram dengan kelakuan oknum-oknum polisi ini.

Soal kepala ikan ini, jika ikannya kakap, dalam kondisi tidak busuk tentunya, lezat sekali. Di RM Padang harganya bisa sampai Rp 75.000,-  Namun di institusi Polri, kakap dalam arti korupsi besar-besaran, pernah terjadi di tahun  2012. Kala itu Kakorlantas Polri Irjen Djoko Susilo ditangkap KPK gara-gara korupsi proyek alat simulator SIM seharga Rp 196 miliar. Kini dia sudah kepenak nggone di LP Sukamiskin Bandung selama 18 tahun.

Mungkin ini korupsi terbesar sepanjang sejarah kepolisian RI. Ternyata kenakalan oknum-oknum Polri tak terhenti sampai di situ, meski hanya kecil-kecilan dan bukan kejahatan pada negara. Tak kalah mengejutkan adalah, banyaknya oknum polisi yang terlibat perbuatan asusila, cabul dan perzinaan. Bayangkan, para prajurit bayangkara negara itu pada terlibat skandal seks. Kata Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo, selama periode Januari sampai Oktober 2021 terdapat 86 anggota Polri yang terlibat soal-soal begituan.

Misalnya di Pati, seorang Polwan mesum di hotel Semarang bersama senior atasannya yang sama-sama polisi. Lalu di Serdang Bedagai (Sumut), seorang Kasatreskrim selingkuh dengan Polwan juga. Kenapa bapak-bapak polisi tega mesum dengan sejumlah Polwan? Di samping karena kebersamaan dalam kerja, rata-rata Polwan itu memang cantik. Dengan rok span seragamnya, ditambah betisnya yang mbunting padi, bikin sesama polisi pria lerrrr……lupa sama yang di rumah.

Di Lombok Timur NTB lebih menyeramkan dan bikin bulu bergidik! Seorang Bripka menembak mati temannya yang Briptu, gara-gara istrinya diselingkuhi. Dan yang kurang ajar masih dalam urusan selangkangan juga, seorang Kapolsek di Parigi Mautong (Sulteng) memperkosa gadis anak seorang tahanan dengan bujukan ayahnya akan dilepas.

Di luar skandal seks, Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo mencatat,  pelanggaran pidana paling banyak berupa penyalahgunaan narkoba, yakni sebanyak 327 kasus; penganiayaan 82 kasus; pencurian 7 kasus; penggelapan 17 kasus; pungli, gratifikasi, penyimpangan anggaran dan korupsi sebanyak 48 kasus.

Sesuai janjinya, Kapolri Listyo Sigit langsung unjuk gigi terhadap “ikan-ikan” busuk tersebut. Tak hanya ekornya alias si pelaku langsung, atasan yang dianggap tak bisa membina anak buahnya kena getahnya pula, alias dicopot. Bahkan ada, yang pamer duit di medsos istrinya, suami yang pejabat kepolisian kehilangan jabatan.

Ada tujuh pejabat yang dicopot yakni, Dirpolairud Polda Sulbar Kombes Pol Franciscus X Tarigan, Kapolres Labuhan Batu Polda Sumut AKBP Deni Kurniawan, Kapolres Pasaman Polda Sumbar AKBP Dedi Nur Andriansyah, Kapolres Tebing Tinggi Polda Sumut AKBP Agus Sugiyarso, Kapolres Nganjuk Polda Jatim AKBP Jimmy Tana, Kapolres Nunukan Polda Kaltara AKBP Saiful Anwar, dan Kapolres Luwu Utara Polda Sulsel AKBP Irwan Sunuddin. Ketujuh perwira menengah itu ditarik menjadi Pamen Yanma Polri.

Mengapa begitu banyak polisi khususnya dan penegak hukum pada umumnya, mengalami dekadensi moral? Di samping hilangnya pendidikan budi pekerti di bangku SD sejak diberlakukannya Kurikulum 1975, juga rekrutmen tenaga penegak hukum yang banyak diwarnai suap, becking dan sistem famili. Aparat penegak hukum yang ikut membangun negeri sekarang ini, rata-rata adalah generasi kelahiran tahun 1970-an ke atas, yang berusia 30-50 tahunan. Mereka ini di SD sudah tidak menerima pelajaran Budi Pekerti, karena semuanya sudah terserap dalam PMP (Pendidikan Moral Pancasila) dan pendidikan agama.

Akibat dari semua ini, kemerosotan moral bukan saja di kalangan penegak hukum, tapi juga di institusi lain. Karenanya ahli hukum Todung Mulia Lubis pernah  mengatakan, trias politika Montesqiu telah berubah jadi trias koruptika, karena lembaga eksekutip, yudikatip dan legislatif semua tercemar oleh perilaku korupsi. Korupsi dalam bentuk uang merugikan perekonomian negara, merosotnya moral mengancam peradaban. (Cantrik Metaram).