Kematian Yasser Arafat Tetap Misteri

Kematian tokoh legendaris perlawanan rakyat Palestina terhadap Israel, Yasser Arafat sudah berlangsung 17 tahun lalu namun penyebabnya masih misteri.

YASSER Arafat, Ketua Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) (1969 – 2004) yang namanya legendaris sebagai simbul perlawanan rakyat Palestina terhadap Israel, wafat pada usia 75 tahun RS Militer Percy,  Clamart, Hauts de Seine, Perancis pada 11 Nov. 2004.

Sampai kini, sudah berjalan 17 tahun, penyebab kematiannya  masih menjadi kontroversi dan misteri, termasuk  dugaan akibat konspirasi lawan-lawannya, baik di dalam tubuh fraksi-fraksi di Palestina sendiri maupun oleh agen-agen Israel.

Pada 12 Oktober 2004, Arafat jatuh sakit saat berada di kantor pusat PLO di Tepi Barat dengan gejala flu, lalu  situasinya memburuk dan dibawa ke rumah sakit di Paris, Perancis untuk mendapatkan perawatan medis, namun nyawanya tidak berhasil diselamatkan.

Bertahun-tahun setelah kematiannya, teori konspirasi tentang penyebab sebenarnya terus berkembang dan masih banyak yang menganggap Israel yang bertanggung jawab.

Para peneliti di Swiss pada November 2013 merilis laporan yang mengungkapkan bahwa tes yang dilakukan pada jasad Arafat dan barang-barang miliknya mendukung teori bahwa mendiang pemimpin PLO itu diracun.

Bukti dari laporan tersebut menunjukkan bahwa polonium radioaktif, zat yang sangat beracun telah digunakan dan menjadi penyebab kematiannya. Suha, janda Yasser Arafat juga mendukung temuan tersebut dalam wawancara dengan sejumlah media sebagai bukti yang memperkuat dugaan bahwa Arafat sengaja dibunuh.

Sebaliknya, tim investigator medis Rusia yang dipanggil untuk menginvestigasi kasus tersebut,  menyatakan bahwa mereka yakin Arafat meninggal karena sebab alami.

Lahir di Kairo  

 Arafat, anak kelima dari tujuh bersaudara,  lahir di Kairo, 24 Agustus 1929 dan ayahya,  Abdel Rouf al-Qudwa berasal dari Palestina, sedangkan ibunya keturunan Mesir.

Pada usia empat tahun, Arafat ditinggal ibunya, diasuh oleh paman dari ibunya di Yerusalem, lalu tinggal bersama ayahnya di Kairo walau konon hubungan keduanya tidak dekat, terbukti ia tidak hadir pada pemakaman ayahnya  pada 1952.

Saat masih remaja, Arafat yang tinggal di Kairo mulai menyelundupkan senjata ke Palestina untuk digunakan melawan orang-orang Yahudi dan Inggeris yang mengambil tanah Palestina

Peran perlawanan ia jalani seumur hayatnya. Arafat yang kuliah di Universitas Faud I (kini Universitas Kairo) bergabung dengan pasukan tanah air melawan Yahudi dalam Perang Arab-Israel pada 1948 yang dimenangkan Israel dan menjadi awal terbentuknya negara Yahudi.

Arafat menggerakkan operasi perlawanan PLO terhadap Israel melalui  Yordania,  namun ia dan pendukungnya.

Ia dan pengikutya diusir oleh Raja Hussein pada awal 1980-an ke Lebanon dan dari sana melancarkan gerakan intifada pada pendudukan Israel di Tepi Barat dan Jalur Gaza

Sejak diangkat sebagai Ketua PLO pada 1969 hingga menjelang wafatnya,  Arafat selalu berada di garis depan mewakili Palestina dalam konflik berkepanjangan dengan Israel hingga upaya perdamaian.

Arafat pada Konferensi Madrid 1991 menandatangani pakta  perdamaian dengan Israel dan setelah itu melakukan beberapa kali upaya perdamaian terutama melalui  Kesepakatan Oslo (1993) dan KTT Camp David (2000).

Melalui Perjanjian Oslo, Arafat dan PM Yitzhak Rabin serta mantan PM Shimon Peres dari Israel membentuk kesepakatan perdamaian bersama, tapi syarat yang ditetapkan tidak pernah diterapkan.

Sejak 31 juli 2019 kemerdekaan Palestina sudah iakui 138 negara atau 71,5 persen dari 193 negara anggota PBB walau masih ada 50 negara yang tidak mengakuinya.

Sampai kini, 17 tahun setelah kematian Yasser Arafat, rakyat Palestina masih terus berjuang memperoleh hak-haknya termasuk  wilayah Gaza, Tepi Barat dan Yerusalem yang dijadikan permukiman Yahudi.