Timteng: PDKT Israel dan Arab Saudi

Foto: PM Israel saat itu, Benyamin Netanyahu (kiri) dan Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman mengadakan pertemuan rahasia November tahun lalu disusul lawatan pengusaha Yahudi AS ke Riyadh Nov 2021. Pengamat menduga, Saudi dan Israel sedang melakukan PDKT untuk membuka hubungan diplomatik.

“TIDAK ada kawan atau lawan sejati, yang ada hanya kepentingan abadi” ungkap pameo lawas yang mungkin pas untuk melukiskan perkembangan terakhir hubungan Arab Saudi dan Israel.

Signal perbaikan hubungan antara Saudi dan Israel makin nyata ditandai lawatan 20 pengusaha Yahudi Amerika atas undangan resmi pemerintah Saudi dan juga atas restu pemerintah AS ke kota Riyadh 4 November lalu.

Selama di Tanah Suci, para pengusaha itu juga sempat mengadakan pertemuan dengan keluarga kerajaan Al-Saud, sejumlah menteri dan petinggi lainnya.

“PDKT” Saudi dan Israel juga sudah dibangun sebelumnya a.l. dari  pertemuan rahasia antara PM Israel Benyamin Netanyahu dan  Putera Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman di kota Neom, Arab Saudi, November tahun lalu.

Sebelum itu,  otoritas Saudi juga memberikan izin bagi pesawat komersial Israel El-AL melintasi koridor udaranya untuk memperpendek jarak terbang dari dan ke Uni Arab Emirat.

Saudi walau satu kubu dengan negara-negara Arab lainnya dalam konteks konflik Arab dan Israel tidak terlibat langsung dalam peperangan  dan keduanya bersahabat dengan AS dan sama-sama bergantung pada pasokan alutsista dari negara itu.

Entah berapa puluh ribu nyawa yang melayang dari dua kubu akibat sejumlah konflik dan perang terbuka sejak era sebelum kemerdekaan Israel pada 1948, Perang Enam Hari, Juni 1967 dan Perang Yom Kippur, Oktober 1973.

Upaya perdamaian yang memebuahkan Perjanjian Camp David (1978) dan Perjanjian Oslo (1993) dimediasi negara-negara Adi Kuasa paling tidak berhasil menghindari perang selanjutnya walau  kedua kubu terus saling intai dan siap perang.

Walau rakyat Palestina menyebutnya sebagai penghianatan, Persetujuan Camp David melicinkan perjanjian menuju penandatanganan perjanjian damai Israel – Mesir pada tahun berikutnya (1979) disusul Israel  – Jordan pada 1994.

Konfrontasi dan perang yang diwarnai pertumpahan darah dan kerugian mulai ditinggalkan, terbukti sudah enam negara Arab yakni Mesir, Jordania, Bahrain, UEA, Maroko dan Sudan yang menjalin hubungan resmi dengan Israel.

Hubungan antara Israel dan sejumlah negara Arab tentu saja mengubah peta geopolitik di kawasan Timteng dan dari kubu Arab yang tersisa tinggal Iran dan Suriah yang berada di jalur garis keras melawan Israel.

Walau selangkah lebih maju, bertambahnya negara Arab yang membuka hubungan dengan Israel, belum memberikan jaminan, perdamaian yang komprehensif bakal segera terwujud karena masih terganjal isu Palestina dan juga perebutan hegemoni kawasan.