Pesawat KF-21 Wujud Impian BJ Habibie

Pesawat tempur generasi 4.5 Boramae KF-21 yang dikembangkan oleh RI dan Korsel diharapkan sudah bisa mengudara untuk dioperasikan TNI-AU dan AU Korsel pada 2023 nanti .

PRESIDEN ke-3 RI Prof. Dr. Ing BJ Habibie, jika masih hidup, tentu bangga, mimpi besarnya untuk menjadikan Indonesia sebagai negara industri penerbangan dilanjutkan oleh generasi penerusnya.

Habibie yang bekerja di perusahaan MBB Jerman dipanggil pulang oleh Presiden Soeharto dan sekembalinya di tanah air mendirikan PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN), satu-satunya industri pesawat terbang dan pertama di Asia Tenggara pada 26 April 1976.

Dengan singkatan tetap sama, IPTN berganti nama menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara pada 1 Oktober 1985 dan lalu berubah lagi menjadi PT Dirgantara Indonesia(DI) pada 24 Agustus 2000.

Habibie sendiri wafat pada usia 83 tahun pada 11 September 2019, sementara PT DI sudah sempat memproduksi beberapa jenis pesawat, baik bermitra dengan CASA, Spanyol, maupun menciptakan rancang-bangun atau purwa rupa oleh bangsa sendiri.

PT DI juga mengalami pasang surut, sempat mempekerjakan 16.000 karyawan termasuk ribuan insinyur sebelum terkena imbas krisis moneter global pada 1997, lalu bangkit lagi beberapa tahun kemudian dan kini mempekerjakan sekitar 4.400 orang saja.

Yang diproduksi a.l. pesawat angkut yang bisa dimodifikasi menjadi berbagai varian misalnya untuk patroli maritim, evakuasi medis dan intai seperti N-2130 dan N-250 (dihentikan produksinya akibat krismon 1997),   NC-212, CN-235 dan CN295 serta N-219.

Selain pesawat sayap tetap (fix wing), PT DI juga menggarap lisensi  helikopter antara lain dari Aerospatiale, Perancis dan Eurocopter (konsorsium Eropa) serta komponen sayap berbagai jenis pesawat produksi Airbus dan Boeing serta ragam komponen pesawat.

Pesawat Tempur KF-21 Boramae  

Lompatan besar dilakukan PT DI untuk merancang pembuatan pesawat tempur serbaguna KF-21 Boramae atau F-24 Phoenix bersama dengan Korea Selatan.

Rencana proyek pengembangan KF-21 pertama kali diumumkan oleh Presiden Korsel Kim Dae Jung pada 2001 dan ditandatangani pada 15 Juli 2010, namun sempat macet akibat kesulitan pendanaan dari pihak Indonesia.

Rancangan awalnya berdasarkan ketetapan Agency for Defence Development (ADD Korsel), KF-21 adalah pesawat tempur multi peran pilot tunggal, mesin ganda dan kualifikasi siluman dengan keandalan di atas Dassault Rafale (Perancis) atau  Eurofighter Typhoon.

KF-21 yang masuk jenis pesawat generasi 4.5 (a.l dengan teknologi radar, sistem pelacakan target dan integrasi antarsistem dan kemampuan siluman lebih maju dari generasi sebelumnya (4.0).

Jumlah rencana pesawat yang diproduksi 120 unit untuk AU Korsel dan 80 unit untuk TNI-AU antara 2023 sampai 2030.

Spesifikasi KF-21 a.l. berat kosong 11,8 ton , berat mak.17,2 ton, panjang 15,6 M, rentang sayap 9,8M, mesin P&W 100 atau GE (Amerika Serikat), kecepatan Mach 1.97 (2.432 Km/jam), daya tempuh 4.500 Km dan radius tempur 750 Km.

Tidak disebutkan jenis senjata yang akan digembol KF-21, namun sebagai pesawat tempur multi peran, tentu bisa disesuaikan dengan misi tempur dan palagan yang akan dihadapinya.

RI sejauha ini menginvestasikan sekitar Rp19,2 triliun (1,6 triliun Won) untuk proyek benilai 8,1 triliun Won (Rp97,2 triliun) tersebut. Tidak diketahui berapa harga KF-21 per unit, namun sebagai perbandingan, pesawat-pesawat generasi 4.5 lainnya seperti F-16 Fighting Falcon, Raphale atau Sukhoi SU-30 dibandrol pada kisaran harga Rp satu sampai Rp2 triliun.

Berbagai persenjataan bisa dipasang di badan atau rakrak di bawah kedua sayap mulai dari bom pintar, rudal dari udara ke udara, udara ke permukaan dan anti kapal selam serta kanon ringan.

Dengan diproduksinya KF-21, RI masuk deretan produsen dari hanya segelintir negara yang mampu memproduksi pesawat tempur yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

Bagi bangsa Indonesia, berbicara tentang pesawat atau industri dirgantara, pasti akan mengingatkan pada Pak Habibie. Semoga almarhum, beristirahat dengan tenang di alam sana!