Relasi dengan Israel, Siapa Takut?

Foto: Insiden antara tentara Israel dan remaja Palestina. Ada sejumlah pandangan bahwa pembukaan hubungan RI dan Israel justeru bisa meningkatkan peran RI membantu penyelesaian isu Palestina.

WACANA  pembukaan hubungan diplomatik dengan Israel selama ini agaknya  dianggap tabu bagi Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim dan secara politik mendukung perjuangan rakyat Palestina.

Oleh sebab itu pertemuan antar Menhan Prabowo Subianto dengan Kuasa Usaha Israel di Bahrain, Itay Tagner dalam suatu forum di Manama, Bahrain (21/11) dinilai sebagai kejutan.

Media Israel, Yedioth Ahronots menilai even tersebut sebagai   level pertemuan tertinggi Israel dan RI sejak hampir tiga dekade setelah Presiden Soeharto dan PM Yitzhak Rabin bertemu menyusul Kesepakatan Oslo antara Israel dan wakil-wakil Palestina  pada 1993.

Jubir Prabowo, Dahnil Simanjuntak  (Kompas, 22/11) menyebutkan, Menhan bertemu Tagner saat rehat di sela Manama Dialogue yang digelar 19 – 21 November dan diikuti para menlu, menhan dan tokoh-tokoh lain membahas isu keamanan dan politik di Timur Tengah.

RI secara langsung tidak memiliki konflik dengan Israel, walau selama ini kebijakan politiknya secara konsisten mendukung penuh perjuangan rakyat Palestina untuk mewujudkan negara merdeka dan berdaulat.

Hubungan dengan Israel, bagi yang setuju, justeru diharapkan akan mendorong diplomasi RI dalam konteks mendukung perjuangan Palestina, karena tanpa itu sulit untuk melakukan manuver-manuver atau prakarsa diplomatik.

Namun bagi yang menentangnya, hubungan dengan Israel bisa dianggap menghianati perjuangan bangsa dan rakyat Palestina dan Arab dalam konflik Arab-Israel.

Lebih dari itu, wacana pembukaan hubungan dengan Israel juga bisa memicu polemik di panggung politik nasional dan  bisa-bisa dikapitalisasi menjadi isu agama oleh pihak-pihak tertentu untuk menyerang lawan politiknya.

Interaksi RI dan Israel tercatat terkait pembelian tiga skadron (32 unit) pesawat tempur A-4 Skyhawk buatan AS bekas pakai negara itu yang diambil langsung oleh pilot-pilot TNI-AU dalam Operasi Alpha pada 1978.

Dengan PDB sebesar 394,6 miliar dollar AS dan pendapatan per kapita 43.558 dollar AS pada 2019, Israel masuk deretan negara maju dan 80 persen teknologi tingginya termasuk persenjataan dan produk-produk militernya dieskpor.

Namun walau menjadi negara anggota PBB, sebanyak 32 negara termasuk Indonesia sejauh ini tidak mengakui keberadaan Israel.

Gus Dur dan Israel

Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid juga pernah mewacanakan pembukaan hubungan diplomatik dengan Israel, dengan alasan, tanpa itu RI tak mungkin berperan bagi perdamain Israel-Palestina dan hubungan dengan Israel juga bakal mengatrol posisi tawar-menawar RI di kalangan negara-negara Timur Tengah.

Harian Israel Haaretz bahkan menyematkan Gus Dur sebagai “Sahabat Israel di Dunia Islam”, menunjukkan sikapnya yang jauh dari stereotip seperti ditampilkan sejumlah pemimpin Islam yang memusuhi Israel.

Bahkan Gus Dir juga jadi pengurus Yayasan Perdamaian yang didirikan Presiden Shimon Perez dan pada awal 1990-an, lalu  diundang PM Yitzhak Rabin menyaksikan penandatanganan perjanjian damai Israel dan Jordania pada 1994.

Mungkin ada yang belum tahu, Islam adalah agama terbesar kedua di Israel yang berpenduduk sekitar 11,4 juta jiwa setelah agama Yahudi.

Menurut catatan, agama Yahudi dipeluk sekitar 74,3 persen penduduk, disusul Islam 17,8 persen, Kristen 1,9 persen, Druze 2,6 persen dan selebihnya 4,4 persen keyakinan lainnya.

Dalam Pemilu Israel 2021, umat Islam diwakili Partai Ra’am dengan lima dari 120 kursi di parlemen (Knesset), terbanyak  kubu liberal yakni Partai Likud (29)  disusul Yash Atid (17),  Shas (9 ) yang konservatif relijius serta Kahol Lavan (8) berhaluan sosial liberal.

Masing-masing tujuh kursi diraih Partai Yamina (konservatif), Partai Buruh (Sosial Demokrat), Taurat Yudaisme (konservatif relijius) serta Ysrael Beiteinu (nasionalis sekuler), dan masing-masing enam kursi: Partai Zionis Relijius, Partai Join List  (mewakili etnis Arab Israel), Tikva Hadasha (Harapan Baru), beraliran liberal dan Meretz (Sosial Demokrat).

Sejak kekalahan demi kekalahan kubu Arab dalam perang melawan Israel (perang kemerdekaan 1948, Perang Enam Hari 1967 dan Yom Kippur 1973), sebagian negara-negara Arab memilih berdamai dengan Israel.

Mesir membuka hubungan diplomatik setelah Kesepakatan Camp David (1978) disusul Jordania (1994), sementara dalam Kesepakatan Abraham pada 2020, menyusul Uni Arab Emirat, Bahrain, Sudan dan Maroko.

“Tiada musuh abadi, yang ada, kepentingan abadi” ungkap pepatah lawas, sedangkan bagi RI, selama tidak merugikan dan mendegradasi dukungan terhadap Palestina, membuka hubungan dengan Israel, kenapa tidak?