Awas! Gejala Covid-19 Mirip Flu

Awas jika mengalami gejala flu, karena bisa jadi Covid-19 karena mirip seperti demam, pilek, batuk dan badan terasa lemah.

EPIDEMIOLOG John Griffith University, Australia Dicky Budiman mengingatkan agar masyarakat mewaspadai gejala Covid-19 yang mirip dengan flu atau influensa yang biasanya muncul di musim hujan.

“Jadi jangan buru-buru menganggap flu biasa bila terasa demam, batuk, badan terasa lemah atau pegal-pegal, “ kata Dicky dalam dialog di TV One (2/11) mengingatkan.

Ia juga mengingatkan pada masyarakat yang sudah divaksin dua kali agar tidak percaya diri berlebihan tak bakal terpapar lagi, karena imunitas hanya bisa bertahan sekitar enam bulan, bahkan pada lansia, tiga bulan saja.

Untuk mencegah lonjakan Covid-19 di tengah liburan pergantian tahun, pemerintah memberlakuan PPKM level 3 di seluruh wilayah Indonesia,  24 Desember sampai 2 Januari 2022.

Dalam PPKM level 3 diatur secara detil pencegahan  paparan Covid-19 a.l  kewajiban prokes 3M pada misa Natal di gereja,  50 persen kapasitas maksimum, begitu pula peribadatan di masjid, vihara, kelenteng dan lainnya.

Pengunjung bioskop, mal atau pusat perbelanjaan wajib memakai  aplikasi peduliLindungi, fasum (area publik, taman dan tempat wisata)  sementara ditutup dan kapasitas angkutan umum dibatasi, kecuali pesawat terbang dengan prokes ketat.

Walau secara umum, risiko terpapar lagi para penyintas Covid-19 dan mereka yang sudah divaksin lebih rendah dan gejalanya ringan atau tanpa gejala, kewaspadaan harus tetap dijaga.

Kabid Komunikasi Satgas Covid-19 Herry Triyanto juga mengingatkan, walau tren kasus  penambahan harian Covid-19 dan angka kematian serta BOR (keterisian) rumah sakit turun, tidak boleh lengah mengacu pada kejaian di Eropa.

Menurut dia, negara-negara Eropa yang tingkat vaksinasinya rata-rata sudah di atas 70 persen saat ini menghadapi gelombang keempat pandemi Covid19 ditandai dengan lonjakan korban.

Situs worldometer (24/11) mencatat dalam 24 jam terakhir, terjadi penambahan 337.068 kasus baru di seluruh negara Eropa dan 4.349 kematian atau sekitar separuh dari total angka kematian global (7.414 orang).

 

Lonjakan Covid-19

Lonjakan penyebaran Covid-19 terjadi a.l di Jerman, Belanda dan Austria, sementara Perancis, Hungaria dan Spanyol diperkirakan akan menghadapi tekanan ekstrim ketersediaan ICU di RS.

Euforia berlebihan karena mayoritas penduduk Eropa sudah divaksin,terpapar oleh orang yang belum divaksin, turunnya efikasi vaksin dan peraturan yang berbeda antara satu dan negara lain ikut menyumbang terjadinya gelombang keempat saat ini.

Di Indonesia terjadi pertambahan 394 kasus baru pada 23 Nov. sehingga seluruhnya ada 4.253.992 total kasus, sembilan orang meninggal menjadi total 143.753 orang dan 434 sembuh (total 4.102.323.

Dibandingkan puncaknya, yakni jumlah pertambahan 56.757 kasus pada 15 Juli dan angka kematian 2.069 orang pada 27 Juli, jumlah korban saat ini sudah jauh menurun.

Sementara mantan Direktur WHO Asia Tenggara Prof. Chandra Yoga mengemukakan, belum bisa diprediksi kapan pandemi Covid-19 akan berakhir karena tergantung dari berbagai hal.

Tingkat kepatuhan pada prokes 5M, capaian vaksinasi dan program 3T (Testing, Tracing dan Treatment) serta pemunculan varian baru yang bisa saja lebih mematikan, kebal dari vaksin dan turunnya imunitas warga bisa mengubah perkiraan.

Covid-19 belum berakhir, tetap patuhi prokes, percepat perluasan vaksinasi, terus tingkatkan 3T.