Jual Nama Orangtua

Gara-gara komentar miring istrinya, Dandim Kendari Kol. HS dicopot oleh Kasad Andika Perkasa yang kini Panglima TNI.

PUNYA orangtua berpangkat jendral TNI memang sangat membanggakan. Tapi kebanggaan tersebut secukupnya saja, tak perlu sampai dibuat backing dan menakut-nakuti orang. Jika seorang anak tega menjual nama ayahnya yang jendral, itu sama hinanya denga jual diri, jual kecap ataupun jual tampang. Di eranya Jendral Andika Perkasa yang baru saja naik pangkat dari Kasad menjadi Panglima TNI, jual nama jendral yang kena bukan sang penjual saja, yang dijual pun bisa terkena tindakan karenanya.

Beberapa hari lalu viral di medsos, anggota DPR Arteria Dahlan ribut dengan wanita muda berinisial R di Bandara Sukarno-Hatta. Masalahnya, ibu politisi PDIP itu dimaki-maki si wanita muda gara-gara barang bawaannya  dalam pesawat menghalangi langkah. Dia tendang barang itu, sehingga ibu Arteria sampai nyeletuk, “Kok gitu sih? Kamu kok enggak punya sopan santun. Pantas kamu ngomong kayak gitu? Gila kamu ya.”

Mungkin R ini di SD-nya dulu tak sempat dapat pelajaran Budi Pekerti. Teguran itu bukannya membuatnya sadar akan kekeliruanya bersikap pada orang sudah tua, justru dia meradang. Lalu katanya dengan kasar, “Kenapa? Kamu kok ngatain saya orang gila. Kamu yang gila, elu yang gila. Melihat ibu kandungnya diperlakukan begitu Arteria Dahlan mencoba menegur, tapi dianya justru semakin sewot.

Seturun dari pesawat untuk menuju ruang pengambilan bagasi, seri dua keributan nona R dengan Arteria Dahlan kembali berlangsung. Sambil jalan R perintahkan ajudan untuk mengusut dia, siapa nama dan di mana rumah. “Tahu rasa nanti, saya anak jendral bintang tiga,” katanya. Bahkan ajudan diperintahkan “mengurus” Arteria Dahlan dalam arti untuk menghajarnya.

Ajudan tak memenuhinya, dia mencoba dialog dengan Arteria, tapi tangan ajudan ditariknya dengan maksud tak perlu dialog itu. Arteria lalu mencoba menanyakan pada R, siapa nama ayahnya yang jendral bintang tiga tersebut. Namun R tidak meladeni. Bahkan ketika tahu Arteria anggota DPR dari PDIP, kembali R menyergahnya. “Saya kenal ketua partai, habis lu….!” ancamnya.

Ribut-ribut itu diselesaikan di Polres Bandara dan Arteria Dahlan bermaksud melaporkan ke Mabes TNI, siapa gerangan jendral bintang tiga itu sehingga anaknya tega membawa nama ayahnya untuk nakut-nakuti orang. Padahal tindakan semacam itu di era Panglima TNI Jendral Andika Perkasa, bisa habis itu barang. Bukan saja si anak yang terkena pasal pidana, ayahnya pun bisa dicopot dari jabatan yang dibangga-banggakan anaknya.

Ternyata belakangan terungkap, jendral bintang 3 ini tidak ada. Itu hanya move R yang ternyata bernama Rindu atau Anggiat Pasaribu, untuk menakut-nakuti. Kini telah terjadi usaha perdamaian antara Anggiat dan Arteria Dahlan. Anggiat minta maaf pada Arteria Dahlan dan ibunya. Bahkan dikatakan oleh keluarga Anggiat, tidak ada kata mengaku anak jendral bintang tiga. Boleh dicek di videonya.

Semoga damai di langit, damai pula di bumi. Tapi terlepas dari usaha perdamaiaan itu, di era Kasad Andika Perkasa, keluarga TNI bertindak macam-macam yang kena justru anggota TNI-nya tersebut. Sekedar contoh, Kolonel HS Dandim Kendari, dicopot gara-gara istrinya berkomentar miring saat penusukan Menko Polkam Wiranto di Banten tahun 2019 lalu. Ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2014 tentang hukum disiplin militer.

Punya orangtua jadi pejabat tinggi negara atau jendral, memang sangat membanggakan. Tapi keluarga harus mampu menjaga nama baik ayah, dengan bertindak hati-hati, jangan sampai bikin malu ayah dengan menjual namanya. Jangan seperti era Orde Baru dulu, hormat dan takutnya pejabat pada Pak Harto justru dimanfaatkan oleh putra-putranya, ketika mereka sudah tahu bisnis. Maka mentri atau Dirut BUMN, setiap berurusan bisnis dengan anak-anak Soeharto yang biasa disebut Keluarga Cendana, tak kuasa menolak. Dirut Telkom Tjatjuk Sudariyanto yang mencoba menolak proyeknya Tommy Soeharto langsung dicopot.

Anak yang sukses adalah yang menemukan dirinya sendiri, bukan karena di bawah bayang-bayang nama besar ayahnya. Sukses karena nama besar orangtua, ketika orangtua sudah pergi, kejayaan itu pelan-pelan akan meredup pada akhirnya. Dalam urusan bisnis, banyak perusahaan keluarga runtuh karena telah perginya seorang figur. (Cantrik Metaram)