PERANCIS – RI Saling Merapat

Presiden Joko Widodo bertemu dengan Presiden Emmanuel Macron pada pertemuan perubahan iklim di Roma (30 Okt). RI dan Perancis yang menolak aliansi AUKUS, ingin menggalang kemitraan.

PASCA pembentukan aliansi Australia, Inggeris dan Amerika Serikat (AUKUS) untuk menghadapi agresivitas China di Laut China Selatan (LCS) 15 September lalu, RI dan Perancis saling melakukan pendekatan.

Kedua negara, sama-sama menolak kehadiran AUKUS selain dikhawatirkan akan menciptakan Perang Dingin baru Timur – Barat seperti terjadi sampai runtuhnya Uni Soviet pada akhir1991, juga dengan alasan spesifik masing-masing.

RI sebagai negara bebas aktif sesuai UUD 1945 menentang pembentukan blok-blok militer, sementara Perancis salah satu alasannya karena kecewa, rencana kontrak pembuatan kapal selam nuklir dengan Australia batal.

Sesuai kesepakatan AUKUS, AS akan membantu negara kanguru itu membangun delapan kapal selam nuklir, sehingga peluang Perancis memperoleh kontrak senilai 90 miliar dollar Australia (Rp937,8 triliun) bagi pembuatan 11 kapal selam nuklir serang, urung .

Perancis dan RI yang juga sama-sama memiliki kepentingan di wilayah Indo Pasifik, lalu melakukan pendekatan diplomatik, tercermin dari lawatan Menlu Perancis Jean Yves Le Drian ke Jakarta (24/11).

Hubungan erat dengan Perancis, bagi RI tentu bisa dimanfaatkan untuk mengoptimalkan diplomasi ke negara-negara Uni Eropa), sebaliknya bagi Perancis, posisi RI di kawasan Indo-Pasifik dinilai  strategis.

Di Samudera Hindia, Perancis mengelola wilayah seberang lautan tak berpenghuni: P. Bassas de India, P. Eropa, Kep. Glorioso, P. Juan de Nova, P. Tromelin, Kep. Crozet, Kep. Kerguelen dan P. Ile Saint-Paul.

China sendiri sejauh ini mengklaim sebagian besar wilayah LCS di kawasan Indo-Pasifik yang di peta masuk dalam “Sembilan Garis Putus-putus” (Nine Dash Line) yang juga diklaim oleh Brunei, Filipina, Malaysia, Vietnam sampai perairan Natuna Utara  yang disebutnya sebagai wilayah tangkapan ikan tradisional nelayannya.

Negara-negara Barat seperti AS dan Inggeris serta Perancis secara rutin mengirimkan kapal-kapal perangnya untuk berpatroli di LCS guna menyeimbangi kehadiran kapal-kapal China.

Kemitraan antara RI – Perancis yang sudah berlangsung sejak 70 tahun semakin penting sesuai dengan kedudukan RI sebagai ketua G-20 (Des. 2021 – Nov, 2022), sedangkan Perancis sebagai Ketua Dewan Eropa.

Bagi RI negara yang menganut politik bebas aktif, bertambah banyak teman untuk menjalin kemitraan tentu semakin baik.