BEGAWAN BAHAR WISUNA (2)

Keasyikan diajak ngobrol Prabu Kresna soal Piala AFF 2021, Betara Kala jadi lupa bahwa waktu sudah lewat pukul 12:00.

NEGERI Ngamarta memang sedang dikepung begawan-begawan kadrun. Ada yang karena beda prinsip dalam hal mengatur negara. Tapi ada pula yang karena bantuan tak lagi sip di bawah pemerintahan Prabu Puntadewa. Resi Matal Nyalawadi misalnya. Ketika ayah Puntadewa yang berkuasa di Ngastina, padepokannya setiap tahun dapat dana hibah Rp 5 miliar. Tapi setelah yang berkuasa Puntadewa, bantuan itu dinolkan. Resi Matal Nyalawadi lupa bahwa Puntadewa bukan raja Ngastina, tapi raja negeri baru hasil babat hutan Mrentani.

Maunya Resi Matal Nyalawadi, selain dana hibah dari Ngamarta, dana hibah dari raja Ngastina sekarang, juga tetap mengalir. Tapi Prabu Duryudana sama pelitnya, tradisi pemerintahan Prabu Pandu yang suka bagi-bagi dana hibah tak dilanjutkan. Akibatnya pertapan Mbelplekethut jadi kering, dana dari Ngastina maupun Ngamarta dua-duanya prei. Padahal maunya dia, Ngamarta ngasih, Ngastina juga memberi; jadi kanan kiri oke!

“Payah memang Duryudana dan Puntadewa, mereka tak lagi menghargaiku sebagai begawan senior. Maka “man of the year 2021” tak lain tak bukan ya Begawan Rajek Sohibi. Dia berani masuk penjara demi keutuhan Ngamarta-Ngastina.” Kata Resi Matal Nyalawadi dengan napas mengkis-mengkis macam pengidap asma.

“Setuju, itu pilihan tepat!” komentar Begawan Lesus Sangkarmanuk dari negri Cempa, orang seberang yang sudah lama menetap di perbatasan Ngamarta-Ngastina.

Padahal aslinya, Begawan Matal Nyalawadi dan Begawan Lesus Sangkarmanuk itu hanyalah petualang dari negeri seberang. Sepertinya dia betah di sini karena ada bohir atau sponsornya. Kehidupan sehari-hari selalu dijamin, yang penting rajin nggrecoki pemerintahan Prabu Puntadewa lewat kritik dan demo, kalau perlu sweping. Semakin banyak peserta demo, makin banyak transveran masuk ke rekeningnya.

Perlu diketahui, berkat penyelidikan  Faisal Basri ekonom RI yang disewa Prabu Puntadewa, diketahui bahwa Betara Kala sangat berperan mengacaukan perekonomian Ngamarta. Dia tak hanya makan wayang-wayang sukerta standar lama, tapi juga yang standar baru. Bila wayang sukerta lama cukup anak 5 lelaki semua, atau ulegan jamu (gandik) yang patah, dalam standar baru keluarga masak pakai kompor minyak tanah juga termasuk wajib dimakan Betara Kala.

“Kami tak bisa makan, jika harus masak pakai kompor gas. Tapi resikonya, kami masak pakai kompor minyak gantian dimakan Betara Kala.” Keluh wayang akar rumput.

“Itu Betara Kala rakus amat, masak pakai kompor minyak saja jadi masalah.” Gerutu wayang LSM.

Memang, kini semua wayang di Ngamarta diwajibkan menggunakan gas untuk memasak. Keluarga miskin pakai gas melon 3 Kg sedangkan keluarga kaya pakai yang 12 Kg. Uniknya, pengadaan gas dan tabung kemasan semua dimonopoli Betara Kala sendiri juga. Ironis memang, rakyat semakin menjerit, tapi perut Betara Kala semakin membuncit.

Atas rekomendasi ekonom Faisal Basri, Prabu Puntadewa diminta mendesak kahyangan Jonggring Salaka, agar UU Wayang Sukerta direvisi atau dikembalikan ke standar lama secara utuh. Dengan UU lama saja Betara Kala sudah kenyang, kok masih ditambah UU hasil revisi yang tidak pro wong cilik.

“Jika berpihak pada rakyat, Betara Guru harus keluarkan perpu, sehingga UU Wayang Sukerta hasil revisi dibatalkan dan tak berlaku lagi.” Kata ekonom Faisal Basri yang pernah investigasi Petral dan berakhir pada pembubaran.

“Lagian dalang ruwatan Ki Manteb sudah nggak ada, jadi ruwatan kan jarang ada, sehingga makanan Betara Kala semakin melimpah. Karenanya tak perlulah UU Wayang Sukerta diperluas cakupannya.” Komentar Prabu Kresna ketika diwawancarai pers.

Selama ini Ki Manteb Sudharsono memang juga dikenal sebagai dalang ruwatan. Setiap bulan Suro panen panggilan dia, tapi peceklik buat Betara Kala. Sebab sejumlah wayang yang sudah masuk daftar untuk diuntal malang (dimakan), tahu-tahu sudah diruwat Ki Manteb. Sesuai konsensus tak bolehlah dimakan Betara Kala itu barang. Padahal dalam sehari, dia minimal harus makan wayang sukerta 3 orang, yakni untuk sarapan, makan siang dan makan malam. Cuma di bulan puasa Betara Kala makan wayang sukerta dua kali, yakni saat berbuka dan sahur jam 04:00. Tapi pada saat saur, menu Wayang Sukerta didobel, dua orang sekaligus!

Sebelum ada revisi UU Wayang Sukerta, menu untuk Betara Kala selain anak “Pandawa Lima” dan anak tunggal (ontang-anting), rumah dalam posisi tusuk sate juga masuk kategori wayang sukerta. Jangankan tata letak rumah, sedangkan jalan-jalan pas bedug ndrandang (pukul 12:00), juga jadi makanan Betara Kala. Maka dewa sekaligus pengusaha rakus itu kena batunya ketika ketemu Betara Kresna tetap pukul 12:00 siang, saat matahari tepat di atas kepala.

“Hai Kresna, pukul 12:00 mestinya kamu salat dhuhur, kok malah kelayapan. Kamu jadi wayang sukerta dan halal jadi makananku,” ancam Betara Kala. Lumayan akan dapat makan siang gratis.

“O begitu ya? Tapi sebelum memakanku, ada baiknya kita ngobrol dulu.” Jawab Betara Kresna, sama sekali tak menunjukkan rasa takutnya.

Meski tokoh perwayangan, ternyata keduanya juga penggemar bola. Maka Kresna-Betara Kala asyik ngobrol Piala AFF 2021, di mana Indonesia digunduli Thailand 4-0 pada leg pertama di Singapura. Tahu-tahu waktu sudah menunjuk pukul 13:00 dan Betara Kresna pun lolos sebagai menu Betara Kala.

“Maaf, lihat jam pukulun, sekarang sudah pukul 13:00, jadi saya terbebas dari sanksi…!” ujar Betara Kresna sambil ambi langkah seribu.

“Anjay……, dewa kok bisa dikadali manusia.!” Omel Betara Kala.

Demikianlah, desakan revisi kedua UU Wayang Sukerta semakin menguat dari ngercapada, terutama dimotori oleh Prabu Puntadewa. Kahyangan didesak untuk segera mencabut pasal 43 yang menyebutkan: wayang ngercapada yang dengan sengaja atau tidak sengaja tak menggunakan gas melon 3 Kg atau 12 Kg untuk keperluan dapur, menjadi makanan sah Betara Kala.

Bagi kalangan dewa, jika UU tersebut dianulir, resikonya akan mengancam uang saku mereka. Sebab dari UU tersebut, Betara Kala bisa memberikan kompensasi keuangan ke segenap dewa masing-masing Rp 10 juta perbulan dan Rp 25 juta untuk dalangnya. Uang itu berasal dari keuntungan penjualan gas ke seluruh wayang ngercapada. (Ki Guna Watoncarita)