Keris Emas Prabowo

Menhan Prabowo tengah memberikan keris bertahtakan emas untuk seniornya Letjen (Purn) AM Hendropriyono.

KERIS adalah senjata legendaris masa lalu orang Indonesia, khususnya Jawa. Sebab memang tak hanya orang Jawa yang memiliki tradisi mengoleksi keris bertuah. Fadli Zon anggota DPR misalnya, meski dia orang Minang, juga gemar mengumpulkan banyak keris mahal. Tapi hanya ada satu keris paling antik yang kini masuk ke DPR, yakni Kerisdayanti, eks istri Anang Hermansyah yang pernah pula jadi anggota DPR.

Ternyata bossnya Fadli Zon, Ketum Gerindra yang kini jadi Menhan, Prabowo Subianto, dia juga gemar keris  meski dia keturunan Menado-Jawa. Setidaknya ini dilihat dari kegemarannya memberikan keris sebagai kenang-kenangan pada para tamunya. Seperti yang terjadi Selasa kemarin (12/01), di ruang kerjanya Prabowo memberikan sejumlah keris kepada para jendral purnawirawan, yakni: AM Hendropriyono, Agum Gumelar, Endriartono Sutarto, termasuk Widodo AS.

Mereka adalah para seniornya di Akabri-Darat di Magelang sana. AM Hendropriyono lulusan 1967, Agum Gumelar 1968, Endriartono Sutarto 1971 dan Widodo AS 1968 tapi dari Akabri-Laut, Surabaya. Cuma kurang lengkap kiranya, kenapa seniornya yang lulus tahun 1973 yakni SBY, tak diundang juga dan tak menerima kenang-kenangan keris yang sama? Padahal SBY juga sudah pulang dari berobat di AS, dan faktanya hari berikutnya Prabowo-SBY bertemu dalam acara penganugerahan gelar profesor kehormatan untuk mantan Menkes dr. Terawan Putranto.

Jika merunut cerita pengamat politik Hermawan Sulistyo, memang ada kenang-kenangan buruk saat keduanya menjadi “jangkrik” (sebutan Taruna di Magelang). Kata Bung Kiki –panggilan akrab untuk Hermawan Sulistyo– Prabowo-SBY pernah berantem, sehingga Prabowo tertinggal kelas dan baru lulus tahun 1974, padahal mestinya bareng SBY di tahun 1973.

Apakah Prabowo masih “dendam” pada SBY? Rasanya tidak, sebab antara Ketum Gerindra dan mantan Ketum Demokrat itu nampak akrab, berbincang-bincang sebagaimana lazimnya ketemu kawan lama. Bahkan obrolan mereka sempat menjadi spekulasi kaum jurnalis, jangan-jangan ada pembicaraan soal Pilpres 2024. Termasuk soal presidensial treshold yang diperjuangkan AHY putranya untuk menjadi nol persen.

Mungkin juga disinggung soal bagi-bagi keris bagi para senior tersebut. Secara kultur, SBY yang lebih kental Jawanya ketimbang Prabowo yang trah Banyumas tapi masa kecilnya banyak di luar negeri; soal perkerisan SBY tentunya lebih memahami. Sebagai seorang kutu buku, tentunya SBY lebih banyak tahu mithos keris Empu Gandring milik Ken Arok, dan dijamin SBY pernah baca pula buku silat Jawa “Keris Nagasasra – Sabuk Inten” karya SH Mintardja.

Prabowo memang memahami bahwa keris adalah senjata khas dan tradisional Indonesia, simbol senjata pertahanan yang digunakan para satria atau pendekar-pendekar pejuang Indonesia di masa lalu. Tapi keris Empu Gandring yang dipakai Ken Arok, Kyai Setan Kober milik Aryo Penangsang, keris Kyai Naga Siluman milik Pangeran Diponegoro atau keris Kyai Kopek yang berada di  Kraton Yogyakarta; semuanya adalah keris bertuah yang oleh kidhalang didramatisir sebagai: wis tau mateni pendita sanga (pernah buat membunuh 9 pendeta).

Sedangkan keris yang dibagi-bagikan Prabowo kepada para jendral seniornya, meski bertahtakan emas sekalipun, hanya keris penghias ruangan, yang biasa dipakai kalangan pengantin saat resepsi. Keris ini jika ditayuh (ditelisik secara kebatinan) dijamin kosong melompong, tanpa jin penunggu di dalamnya. Sebab keris buatan masa berabad-abad lalu, Empu Gandring dan Empu Supa memulainya dengan sebuah ritual dan laku prihatin dengan puasa pati geni.

Tapi tak apalah, Prabowo yang sedari kecil hidup di luar negeri ternyata masih bisa menghargai budaya warisan leluhur. Semoga saja keris bertahtakan emas untuk para jendral senior itu benar-benar dijadikan kenang-kenangan, dipajang di ruang tamu rumahnya. Jika ada tamu datang dan mengagumi keris tersebut, akan dijelaskan dengan bangga bahwa keris itu kenang-kenangan dari Prabowo yuniornya yang telah menjadi Menteri Pertahanan di era Presiden Jokowi. (Cantrik Metaram)