Gempa Berulang Minus Pembelajaran

Gempa di Banten (14/1) merusak 1.200 bangunan di kota Pandeglang dan sekitarnya. Lemahnya mitigasi menjadi penyebab tingginya kerusakan.

GEMPA berskala 6,6 SR yang mengguncang Banten dan sekitarnya dan merusak 1.200 bangunan , Jumat (14/1) menunjukkan lemahnya upaya mitigasi yang dilakukan oleh Pemda dan instansi berwenang.

Banten hanya lah satu contoh, mengingat gempa sudah terjadi berulang kali terjadi di sana. Secara keseluruhan, Indonesia yang terletak di lingkar api  Samudera Pasifik juga berpotensi diintai gempa dan letusan gunung berapi.

Lebih dari itu, wilayah Indonesia juga terletak di antara pertemuan antara lempeng Euroasia, Indoaustralia dan Pasifik sehingga berpotensi mengalami gempa dan tsunami.

Dari segi anggaran saja, sebagian provinsi hanya menganggarkan rata-rata 0, 002 persen APBD-nya untuk mitigasi dan penanganan bencana, ditambah lagi,  acap kali menempatkan “orang buangan” atau bermasalah di pos-pos jabatan di BPBD.

Kembali ke gempa Banten, Koordinator Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Pusat Vulkanologi  Mitigasi Bencana Geologi (PVMB) BMKG Supartoyo mengemukakan, kerusakan bangunan di Pandegelang dan sekitarnya lebih karena guncangan.

Menurut dia, bangunan tahan gempa menjadi kunci meminimalisir risiko dampak bencana, misalnya dengan memasang balok ring dan kolom struktur. “Tanpa itu, bangunan rentan roboh dihantam gempa, “ujarnya.

Selain bangunan yang tidak menggunakan konstruksi teknologi (engineering) tahan gempa, edukasi pada masyarakat tentang cara-cara menyelamatkan diri atau evakuasi saat terjadi bencana termasuk gempa juga harus terus diasah.

Entah sampai kapan, muncul kesadaran dan komitmen para pemangku kepentingan termasuk wakil-wakil rakyat di daerah tentang perlunya mitigasi bencana.

Lebih parah lagi, jika selain anggaran mitigasi dan penanganan bencana cekak, komitmen rendah, mental korup pula!