BEGAWAN BAHAR WISUNA (3)

Sebelum dikremus Betara Kala, wayang tersangka korupsi digledah dulu, dicari uang atau cek di didompetnya.

BETARA Kala telah mendengar pula bahwa usulan Prabu Puntadewa agar UU Wayang Sukerta direvisi ulang. Ini bahaya jika sampai dikabulkan oleh SBG (Sanghyang Betara Guru). Maka dia lewat WA segera instruksikan kepada Begawan Bahar Wisuna untuk mengerahkan para cantriknya agar demo di Ngamarta dan Ngastina. Prinsipnya wacana revisi UU Wayang Sukerto harus dihambat.

“Lalu alasannya apa Pukulun, agar demo kita masuk akal dan diterima publik?” Begawan Bahar Wisuna mohon penjelasan.

“Bilang saja, revisi UU Wayang Sukerta pasal 43 berpotensi merusak lingkungan, begitu. Sebab ketika rakyat kembali pakai bahan kayu bakar dan minyak tanah, pepohonan hutan akan ditebangi untuk masak. Sedangkan sumber minyak bumi juga makin menipis.” Nasihat Betara Kala.

Sesuai petunjuk Bapak Betara Kala, atau Bapak Betara Kala memberi petunjuk,  Begawan Bahar Wisuna segera zoom pada sohibnya Begawan Divel Mabukmin, Begawan Lesus Sangkarmanuk, Matal Nyalawadi dan Begawan Sarwan Batuakik. Mereka mendiskusikan instruksi Betara Kala tersebut, bagaimana caranya agar  revisi pasal 43 UU Wayang Sukerta bisa dibatalkan dengan segera.

“Kita jangan hanya demo saja, tapi harus pakai tebar baliho di mana-mana. Pasang tulisan gede-gede, Revisi UU Wayang Sukerta mengancam peradaban. Keren kan, Menteri Lingkungan Hidup di negara manapun pasti setuju,” ujar Begawan Bahar Wisuna.

“Lalu ada dananya nggak ini? Masak kita kerjabakti saja?” tanya Begawan Lesus Sangkarmanuk, yang dari dulu selalu mata duitan.

“Ada dong! Soal beginian Betara Kala selalu beres. Dia kan satu-satunya dewa yang punya banyak usaha. Jangankan hanya biayai demo, datangkan provokator asing untuk pengaruhi rakyat juga mampu kok.” Ujar Begawan Bahar Wisuna sambil tengok kanan kiri, takutnya ada yang ngrekam dan diviralkan.

Seminggu kemudian baliho tolak revisi UU Wayang Sukerta sudah beredar di mana-mana, tak mau kalah dengan balihonya Puan Maharani di negara tetangga. Demo berkelanjutan juga sampai Repat Kepanasan, alun-alun kahyangan. Tapi SBG tak juga mengambil keputusan, sebab dia masih fokus pada pemulihan kesehatan setelah operasi kanker prostat. Maklum, setelah Dewi Uma menjelma jadi Betari Durga di Pasetran Gandamayit, setiap malam SBG kedinginan tidur sendirian.

Ini menjadi alasan tepat patih Narada manakala ditanya pers, kenapa usulan revisi UU Wayang Sukerta tak juga dibahas. Tinggal beliaunya menjawab SBG masih fokus ada pemulihan kesehatan, jadi jangan direcokin masalah politik dulu. Padahal aslinya Patih Narada ini dewa yang sering keliru memberikan statemen, karena mudah terpancing oleh pertanyaan pers.

“Kalian harus bersabar, percayalah bahwa SBG akan selalu berpihak pada rakyat. Beliaunya masih mencari formulanya, sehingga nanti putusannya selalu tepat dan terukur.” Kata Betara Narada.

“Masak membahas UU harus diukur pakai meteran segala. Ini meteran penjahit atau meteran calo tanah?” tanya pers, rupanya wartawan muda yang baru pertama kali terjun ke lapangan, yang belum bisa bedakan pemakaian kata wafat dan meninggal.

Betara Narada memilih menghindar, percuma meladeni wartawan kocluk. Tapi sebetulnya dalam hati dia setuju UU Wayang Sukerta harus direvisi ulang. Sebab aturan itu membuat Betara Kala semakin gemuk pundi-pundinya. Tapi jika ngomong mendahului SBG, jadi nggak enak pada Betara Kala. Nanti dituduh dewa oposisi, dewa aliran kadruniyah yang selalu memusuhi pemerintah. Paling celaka jika nantinya malah bikin SBG tersinggung dengan akibat dicopot dari posisi patih Jonggring Salaka.

Paling lucu bagi Betara Narada, ada usulan dari Betara Temboro, supaya dia tahun 2024 maju sebagai calon penguasa Jonggring Salaka, dan Betara Guru dijadikan patihnya. Alasannya, Sanghyang Wenang pasti setuju. Selain itu komposisi ini bisa diterima pasar, paling tidak Pasar Klewer (Solo), Pasar Senen (Jakarta), Pasar Johar (Semarang), Pasar Mbaledono (Purworejo) Pasar Beringharjo (Yogyakarta), dan Pasar Blauran (Surabaya).

“Memangnya saya ada potongan jadi raja Jonggring Salaka?” tanya Betara Narada pada Betara Temboro.

“Potongan ada Boss, tinggal bagaimana njahitnya. Bikinan tailor top atau sekedar taikidul.” Jawab Betara Temboro.

“Ya nggak mungkinlah, raja Jonggring Salaka kok pendek ipel-ipel macam teko.”

“Raja kahyangan pakai egrang kan nggak papa.”

Demikianlah, desakan revisi ke-2 UU Wayang Sukerta semakin menguat, sehingga Betara Kala pun mulai was-was. Sebab meskipun Begawan Bahar Wisuna dan Divel Mabukmin yang paling militan hampir tiap hari demo di alun-alun Repat Kepanasan, belum ada tanda-tanda Jonggring Salaka bersikap. Jika sampai dibatalkan, bahaya besar mengancam rejekinya.

Sebab sejak revisi ke-1 UU Wayang Sukerta diberlakukan, ketika Betara Kala menemukan tersangka koruptor, sering menemukan uang kontan di dompetnya bahkan cek yang tinggal menguangkan. Maka setiap koruptor yang jadi wayang sukerta, pasti digeledah dulu kantong dan dompetnya. Setelah tak lagi ditemukan uang dan cek, baru dikremus pakai lalap cabe rawit.

“Bagaimana naskah revisi UU Wayang Sukerta sudah sampai di SBG?” tanya Betara Kala lewat HP pada Betara Penyarikan, sekretaris Jonggring Salaka.

“Belum, masih ada di laci ulun. SBG belum bisa diganggu, tunggu badannya sehat betul. Dia sudah lama tak menginjak Bale Marcakunda.” Jawab Betara Penyarikan.

Betara Kala menghela napas. Sebetulnya dia ingin mencuri naskah revisi UU tersebut. Tapi karena dia sudah kadung menanyakan masalah itu, nanti mudah dicurigai bahwa dialah pelaku tunggal. Apa Betara Penyarikan disogok saja, untuk membakar naskah akedemiknya tersebut?  Tapi mana bisa, dia itu dewa jujurnya minta ampun. Maka dari dulu wayangnya nampak kurus kering, pucet kurang gizi, kecil. Wayangnya saja dibikin dari lulang kerbau sisaan. (Ki Guna Watoncarita)