Nama IKN: Nusantara

Maket Istana Negara karya Nyoman Nuarta di ibukota negara yang nantinya bernama Nusantara.

BAYI masih dalam kandungan, tapi orangtua sudah menyiapkan nama. Jika wanita namanya begini, jika lelaki namanya begono. Bagaimana dengan IKN (Ibukota Negara) pengganti Jakarta yang terletak di Kaltim? Juga sama! Meski UU-nya masih dikebut di DPR, tapi presiden Jokowi sudah menyetujui namanya nanti, yakni: Nusantara. Sebuah nama yang mengandung makna: di antara pulau-pulau. Dan Kalimantan memang merupakan pulau di antara Sumatra dan Sulawesi.

Nama Nusantara sangat Indonesia dan sudah dikenal sejak jaman Majapahit, ketika Gajamada diangkat sebagai patih (1336 M). Lewat Sumpah Palapa Gajahmada (pernah diviralkan sebagai Gaj Ahmada) mengatakan, baru akan kembali makan buah palapa bilamana seluruh nusantara sudah ditaklukkan Majapahit di bawah pemerintahan raja Hayam Wuruk.

Sayangnya, karena kerajaan Majapahit letaknya di Mojokerto (Jatim) sekarang, sejarawan JJ Rizal langsung menilai bahwa nama Nusantara untuk IKN terlalu Jawa sentris. Rupanya sebagai sejarawan dia bacaan manuskripnya kurang jauh. Karena sejarawan Samarinda, M. Sarip mengatakan bahwa kerajaan Kutai Kertanegara yang didirikan tahun 1300-an M di Kutai Lama sekarang, daerah itu sebelumnya dulu bernama Nusantara.

M. Sarip mendasarkan keterangannya pada tulisan Solco Walle Tromp berjudul ‘Uit de Salasila van Koetei’, dalam Journal of The Humanities and Social Sciences of Southeast Asia, terbitan Brill, 1 Januari 1888. SW Tromp tersebut merupakan sosok yang pernah menjabat Asisten Residen Oost Borneo dan meneliti manuskrip Salasilah Kutai.

Tak hanya SW Tromp yang menyebut nama asli Kutai adalah Nusantara, ilmuwan lain bernama SC Knappert juga menyebut demikian. SC Knappert mempublikasikan penelitiannya Beschrijving van De Onderafdeeling Koetei (Deskripsi Subdivisi/ Onderafdeeling Kutai). “Knappert juga menulis bahwa menurut cerita penduduk asli, dulu daerah Kutai disebut Nusantara,” kata M. Sarip.

Apakah JJ Rizal mampu mementahkan data-datanya M. Sarip ini? Yang pasti JJ Rizal tidak sendiri, karena banyak pihak yang kurang sreg dengan nama Nusantara ditabalkan untuk IKN di Penajam Paser, Kaltim tersebut. Nantinya bisa rancu; Nusantara sebagai ibukota negara, atau Nusantara sebagai kesatuan pulau-pulau di Indonesia?

Wakil Ketua MPR Hidayat Nurwahid juga menilai lewat cuitannya, dengan terjadinya OTT atas Bupati Penajam Paser Utara mengisyaratkan banyak masalah di calon IKN. Maksudnya eks Presiden PKS ini, tak hanya tak sreg dengan nama Nusantara, kalau bisa dibatalkan saja IKN di Kaltim itu.

Paling nyakitin adalah saran politisi Gerindra Fadli Zon. Kata dia nama Nusantara kurang cocok, karena bersinggungan dengan Wawasan Nusantara. Yang keren diusulkan IKN dengan nama Jokowi saja. Alasannya ini mirip dengan ibukota Kazakhstan, Nursultan (nama Presiden Nursultan Nazarbayev). Melihat jejak rekam anggota DPR satu ini, nampak sekali bahwa usulan itu sarat kedengkian seorang oposan.

Nusantara sebagai kesatuan dari negara kepulauan Indonesia, memang sudah dipahami oleh segenap rakyat di negeri ini. Maka tak mengherankan di masa Orde Baru dikenal ada studio RRI Nusantara I (Medan), Nusantara II (Yogyakarta) dan Nusantara III (Ujung Pandang). Bahkan Koes Plus menggambarkan suasana batinnya yang cinta NKRI mencipatakan lagu-lagu dalam kaset, Nusantara I sampai IX.

Yang paling repot nantinya adalah para kaum nadiyin. Sebab NU dibawah kepemimpinan KH Said Aqil Siradj dipopulerkan Islam Nusantara, yakni orang Islam Indonesia yang tidak melupakan budaya bangsa sendiri. Setelah ada Islam Nusantara kok sekarang ada IKN Nusantara?

Mulai kapan Nusantara akan ditabalkan sebagai nama IKN? Tinggal masalah waktu saja, karena UU-nya sedang digodok di DPR. Kemarin sudah disahkan RUU-nya, meski ditolak oleh Fraksi PKS.  Tetapi asal tahu saja, di medsos dan media onlie ada dalil yang mengatakan, apapun kebijakan pemerintah yang ditolak PKS, berarti itu yang benar. Karenanya UU IKN jalan terus, dan wakil rakyat selamat bersidang! (Cantrik Metaram)