Rusia Hindari Perang Nuklir?

Rusia menyatakan tidak berniat melakukan perang nuklir, walau tidak ada yang bisa memastkan, pihka yang terdesak aka menggunakan seluruh senjata pamungkas miliknya.

ORANG selayaknya tidak mudah percaya begitu saja terhadap retorika-retorika yang dilontarkan oleh pemimpin atau petinggi yang negaranya akan menghadapi atau sedang berperang.

Pasalnya, untuk memompa semangat prajuritnya atau menakut-nakuti lawan, retorika diperlukan, sedangkan untuk memenangkan perang, seluruh senjata pamungkas yang dimiliki, jika terpaksa, bisa jadi, semuanya akan dikeluarkan.

“Kami akan bertempur sampai orang terakhir, sampai titik darah penghabisan untuk mencapai kemenangan, “ kalimat patriotik semacam ini  sering pula dilontarkan para panglima atau komandan , walau di medan tempur ril sering berbeda dengan kenyataan.

Begitu pula dalam perang Rusia vs Ukraina yang masih berkecamuk sejak invasi negara Beruang Merah itu 24 Feb., Jubir Kemlu Rusia Alexei Zaitsev (6/5) menyatakan pihaknya tak akan menggunakan senjata nuklir yang dimilikinya.

Pernyataan Zaitsev dilontarkan untuk merespons kecemasan dunia, jika sampai terpojok oleh kekuatan Barat di bawah Aliansi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) pimpinan AS, Rusia bakal meluncurkan rudal-rudal balistik antarbenua berkepala nuklir (ICBM).

Zaitsev mengatakan, penggunaan senjata nuklir Rusia di Ukraina dikesampingkan karena tidak sesuai dengan tujuan dari operasi militer khusus pasukannya yang sedang memerangi  Ukraina.

Menurut dia, berbagai provokasi bisa saja datang dari Barat dan Ukraina terkait penggunaan senjata nuklir. Namun, Rusia menyadari,  tidak bakal ada pemenangnya dalam perang nuklir, sebaliknya, Direktur CIA William Burns mengatakan, tidak ada seorang pun yang dapat menganggap enteng ancaman penggunaan senjata nuklir oleh Rusia.

Penguasa Nuklir

AS dan Rusia saat ini adalah penguasa senjata nuklir global, belum lagi sekutu-sekutu AS seperti Inggeris, Jerman dan Perancis yang juga memiliki arsenal senjata pemusnah massal itu.

Berdasarkan rilis resmi yang dikeluarkan Pentagon atau kementerian pertahanan,  AS sampai September 2020 memiliki 3.750 hulu ledak nuklir, sudah berkurang jauh dibandingkan 31.225 pada 1967.

Kemlu AS sendiri Oktober lalu  untuk pertama kal sejak empat tahun terakhir mengungkapkan arsenal nuklir miliknya, bertujuan mendorong upaya non-proliferasi dan perluncutan senjata nuklir.

Di era Presiden Trump, AS menarik diri dari sejumlah kesepakatan perlucutan senjata, mulai dari perjanjian nuklir Iran (2015), Intermediate-Range Nuclear Forces (INF) dengan Rusia (Des. ’87) dan New Start Treaty yang jatuh tempo 5 Feb. 2022.

Sebaliknya, Rusia menurut Bulletin of the Atomic Scientist, memiliki 4.497 unit stok hulu ledak nuklir, 1.600 unit diantaranya sudah digelar (strategic deployed) di silo-silo bawah tanah, pesawat pembom,  kapal perang dan kapal selam.

Jumlah tersebut sebenarnya sudah melebihi  batas Traktat Perlucutan Senjata Nuklir (Strategic Arms Reduction Treaty (START) antara AS dan Rusia pada 2018 sampai 1.550 unit yang berlaku hingga 2026.

Inspeksi tahunan oleh PBB untuk memverifikasinya tidak dilakukan sejak 2020 akibat pandemi Covid-19.

Kehancuran Berlebihan

Bisa dibayangkan, dengan asumsi,  jika rudal-rudal balistik antarbenua yang ditembakkan lawan berhasil mencapai sasaran, kerusakan yang ditimbulkannya sudah melebihi kehancuran total.

Sebagai pembanding, bom atom yang dijatuhkan AS di Hiroshima, Jepang pada Perang Dunia II, 6 Agustus 1945, lalu tiga hari kemudian di Nagasaki (9 Agustus 1945) daya ledaknya jauh lebih kecil.

Kedua kota luluh lantak akibat bom dijuluki Little Boy berkekuatan 15 kilo ton dan 120 ribuan warga  Hiroshima tewas, sementara Fat Man (21 kilo ton) di atas Nagasaki, menewaskan 80 ribuan orang.

Bayangkan, ribuan hulu ledak nuklir yang dimiliki AS dan Rusia saat ini  kekuatannya rata-rata di atas 70 Mega Ton atau ribuan kali dari yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki.

Mungkin saja di medan sesungguhnya, kejadiannya tidak sedahsyat itu, karena nuklir walau merupakan senjata pemusnah masal dan mematikan, sistem penangkalnya juga terus berkembang.

AS misalnya mengembangkan rudal anti rudal Patriot yang terbukti ampuh digunakan Israel menaklukkan rudal-rudal balistik Scud buatan Soviet yang ditembakkan Irak pada Perang Teluk (1990).

Ada pula sistem rudal anti rudal Aegis, juga buatan AS seharga 1,21 milyar dollar AS per unit (sekitar Rp17,2 triliun) atau yang terbaru sistem pertahanan di ketinggian  (Terminal High Altitude Area Defence – THAAD).

THAAD adalah sistem rudal anti rudal balistik jarak pendek, menengah dan jauh yang tidak berhulu ledak, tetapi mengandalkan benturan energi kinetik untuk menghancurkan rudal lawan.

Sistem anti rudal seharga satu miliar dollar per unit (Rp14,2 triliun) juga dioperasikan Israel, Arab Saudi, Korea Selatan dan Jepang,  berkecepatan sampai 8,2 Mach dan mampu memburu  rudal balistik pada ketinggian 150 Km dan jarak 200 Km.

 Siapa yang Menjamin

Masalahnya, siapa yang bisa menjamin perang nuklir pasti tidak terjadi karena dalam kasus AS dan Rusia misalnya, pemantiknya hanya ada di tangan dua orang yakni presiden masing-masing.

Presiden AS dan Rusia, di mana pun berada, dikawal ajudan yang selalu di dekatnya,  menenteng koper hitam berisi tombol perintah perang termasuk untuk meluncurkan rudal-rudal balistik.

Saat tas dibuka, diperlukan autentifikasi pengguna atau password yang hanya diketahui presiden sendiri, pilihan menu opsi aksi yang diambil, lokasi bunker dan Sistem Penyampaian Informasi Darurat (EBS).

Namanya presiden, manusia biasa. Bisa jadi, ia sedang kesal dengan isterinya, berang karena kebijakannya ditentang parlemen, publik atau diabaikan bawahan sehingga menggunakan wewenangnya memencet tombol serangan nuklir.

Bagi umat beragama, semua bisa terjadi atas kehendak Allah, tapi juga fakta bila presiden AS dan Rusia berkontribusi besar memutuskan perang yang berujung kehancuran peradaban dan umat manusia.

Semoga konflik Rusia vs Ukraina segera berakhir dan kedua belah pihak kembali ke meja perundingan. Perang tidak meyelesaikan persoalan, selain menciptakan malapetaka, kerugian dan kehancuran. (AFP/Reuters/ns)