BANJARAN DURNA (5)

Bambang Kumbayana marah betul, karena bayi Aswatama disewakan ke pengemis untuk cari uang.

SELAMA seminggu dalam perawatan RS Mitra Keluarga Kaya, badan Bambang Kumbayana kembali sehat, rosa-rosa macam Mbah Marijan. Dia sudah boleh meninggalkan RS tanpa harus membayar sepeserpun. Bukan lantaran Bambang Kumbayana anggota BPJS-Kes, tapi karena semua rekening perawatan dan obat-obatan ditanggung Prabu Drupada penguasa negeri Pancala. Cuma ya itu tadi, tangan kiri Bambang Kumbayana menjadi ceko (membentuk siku) sebagai cacat permanen, akibat dihajar Patih Gandamana. Hidungnya juga jadi bengkok, tidak lagi mancung.

Selama dalam perawatan, sebetulnya Bambang Kumbayana selalu kepikiran bayi Aswatama yang dititipkan ke yayasan Bina Putra. Hari ini pas jatuh tempo pengambilan bayi itu kembali. Maka sekeluar RS Mitra Keluarga Kaya Bambang Kumbayana bergegas carter ojek ke yayasan penitipan anak tersebut. Tapi pas di lampu merah tiba-tiba ojeknya didekati pengemis  menggendong bayi. Yang bikin Bambang Kumbayana terkaget-kaget, bayi itu ternyata adalah Aswatama yang dititipkan di Yayasan Bina Putra.

“Hai, dapat dari mana bayi itu?” sergah Bambang Kumbayana sambil turun dari ojek motor.

“Kok dari mana, ya dari rahim saya sendiri wong ini memang anak saya,” jawab si pengemis wanita itu.

“Bohong, pasti kamu nyewa dari Yayasan Bina Putra, kan?” tuduh Bambang Kumbayana to the point.

“Lho, kok Oom tahu?” si pengemis gantian terkaget-kaget.

Bayi Aswatama serta merta direbutnya, dan si pengemis dilaporkan ke polisi termasuk pengelola yayasan penitipan bayi dan anak. Pemilik yayasan Bina Putra pun datang, dia mengaku salah dan mengajak damai saja. Karena pelaporan hanya di tingkat Pospol, oknum polisi itu mendukungnya sebab urusan polisi masih banyak yang lain.

Tapi otak kriminal Bambang Kumbayana langsung jalan. Ajakan damai itu dilayani asalkan uang kompensasi cukup. Jumlahnya lumayan besar, yakni sebanyak Rp 10 juta. Ketimbang urusan jadi panjang dengan akibat yayasan ditutup, terpaksa dia membayarnya juga. Urusan selesai, Bambang Kumbayana mengambil Rp 9 juta, dan yang Rp 1 juta diserahkan ke oknum polisi itu sebagai uang dengar.

“Ini iklas dunia akhirat ya?” kata Bambang Kumbayana.

“Ikhlas….” jawab pemilik yayasan pendek, sementara oknum polisi di pospol itu senyum-senyum karena pagi-pagi sudah kecipratan rejeki.

Tangan kiri menggendong bayi, tangan kanan menenteng ransel, Bambang Kumbayana kembali naik ojek untuk mencari rumah kontrakan. Lumayan, sudah ada tambahan modal Rp 9 juta dari hasil “meres” yayasan. Di rumah kontrakan itu dia mau buka kursus kanuragan  semacam bela diri sekaligus kebatinan. Bila peminatnya banyak dan berkembang, Bambang Kumbayana akan membentuk yayasan, agar usahanya bebas pajak.

Usai Lebaran 1443 H masyarakat kembali ke rutinitas sehari-hari. Wajah-wajah rakyat Pancala kembali ceria karena sudah diperbolehkan mudik Lebaran, setelah 2 kali Lebaran dilarang mudik. Untung hanya 2 Lebaran, jika sampai 3 kali Lebaran tidak mudik, lengkap sudah rakyat Pancala menjadi Bang Toyib.

Maka minggu-minggu pertama kursus kanuragan Bambang Kumbayana masih sepi peminat karena dana baru saja terkuras di kampung halaman masing-masing. Tapi sebulan kemudian, satu dua rakyat Pancala ada yang mendaftar. Sebulan hanya Rp 250.000,- ini murah banget bila dibanding dengan tiket Formula-E yang kelas kambingnya saja sampai Rp 250.000,-

“Nggak bisa kurang nih?” kata salah seorang pendaftar, masih mencoba menawar.

“Kalau sampeyan pengurus RT atau RW, malah saya gratiskan jawab Bambang Kumbayana yang menangani sendiri pendaftaran tersebut.

Gelombang pertama kursus kanuragan Bambang Kumbayana ada 20 peserta. Kontrakan rumah sengaja dipilih dekat tanah kosong, sehingga ketika diratakan bisa menjadi lapangan gratis untuk latihan bela diri dan panahan. Adapun mapel (mata pelajaran) ilmu kebatinan diberikan malam hari, dengan harapan para murid bisa lebih mudah mencerna ilmu-ilmu Bambang Kumbayana.

Awalnya kursus kanuragan itu dicurigai latihan para penganut paham radikal sebelum dikirim ke Suriah-Irak, sehingga ada yang melaporkan ke Pak Lurah. Tapi ketika Pak Lurah datang, Bambang Kumbayana menjamin bahwa murid-muridnya murni belajar ilmu bela diri dan kebatinan, bukan untuk dikirim ke Timteng demi membantu ISIS.
“Pak Lurah jangan salah paham. Jika peserta kursus ngliga (tanpa baju) tujuannya agar isis kena angin, tidak kegerahan, bukan ISIS pengusung paham khilafah.” Jelas Bambang Kumbayana.

“Oo, begitu? Ya sudah teruskan berlatih, maafkan kami.” Kata Pak Lurah agak malu-malu.

Kini Bambang Kumbayana juga menggaji babysitter, sehingga bayi Aswatama tak terlantar ketika sang ayah sibuk menjadi guru ilmu kanuragan. Jika ada sedikit kerepotan, bayi Aswatama kini tak mau lagi minum susu formula. Mentang-mentang ada darah kuda di tubuhnya, dia tiap hari minumnya harus susu kuda liar. Akibatnya Bambang Kumbayana kini sering pesen susu tersebut secara online ke radio P2SC Jakarta.

“Susu rasanya asem-asem begitu kok harganya jauh lebih mahal, ya?” kata Bambang Kumbayana pada pengemudi gosend yang mengantarkannya.

“Susunya sih murah Oom, tapi resiko saat memerahnya. Salah-salah kena slenthak (tendang) kaki kuda, namanya juga kuda liar.” Jawab petugas gosend.

Demikianlah, kursus kanuragan Bambang Kumbayana berkembang pesat, sehingga kini mengontrak bekas gudang peluru yang lebih luas, meskipun lokasinya bukan di Tebet, Jakarta. Putra Pendawa 5 orang  dan Ngastina 100 orang, semua ikut menjadi siswa perguruan Bambang Kumbayana. Tapi nama Bambang Kumbayana tenggelam dan berganti sebagai Pendita Durna. Orang yang nggak seneng memplesetkan namanya menjadi Durna, dalam arti mundur-mundur kena. Rupanya dia kenal biografi dan “kartu” masa muda sang begawan.

Tingkat kecerdasan dan kerajinan Pendawa Lima beda sekali dengan Kurawa 100. Kangka, Bima, Permadi dan Pinten-Tangsen selalu mengikuti segala pelajaran dari sang begawan, sehingga nilai atau IP-nya dalam rapotnya selaku A dan B. Beda dengan Kurawa 100, sering tidak masuk dan bolos jadi pekerjaan sehari-hari. Dursasono misalnya, dirintahkan pasa ngebleng selama 3 hari 3 malam, lha kok ditemani sing wedok (istri).

“Kalau modelnya begini, ngebleng 100 hari juga betah.” Sindir Begawan Durna.

“Untuk membunuh kejenuhan kok Pakde. Ho ho hoooo….” jawab Dursasasono sambil cengengesan. (Ki Guna Watoncarita)