Bangkitnya Dinasti Marcos                

Ferdinand Mqrcos Jr. (64) atau yang disapa "Bongbong" menang telak dalam pilpres Filipina, Senin (9/5) . apakah ia tampil beda dengan rezim diktator semasa ayahnya berkuasa atau sejarah akan terulang seperti pameo lawas Perancis " L'histoire se repete?

 

FERDINAND Marcos Jr (64) seperti diprediksi sejak semula, ditetapkan sebagai presiden ke-17 Filipina setelah menang telak dari lawannya, Leni Robredo, yang wapres petahana dan sebelumnya politisi dan pengacara HAM.

Dengan nama sapaan Bongbong, Ferdinad Marcos Jr berhasil mengumpulkan hampi 30 juta suara (97 persen suara sah), melampaui 27,5 juta suara minimal yang dibutuhkan untuk mencapai mayoritas.

Sebaliknya, Leni hanya mampu mendapatkan 13,3 juta suara saat hampir 45 juta dari 67 juta warga yang memegang hak pilih di negeri itu.

Hasil survei yang digelar Asia Pulse pekan lalu juga tidak jauh berbeda dari dimana “Bongbong” meraih lebih separuh suara (56 persen) suara, jauh mengungguli lawannya, Leni Robredo.

Pilpres kali ini dinilai penduduk sangat mengesankan karena digelar di tengah pandemi Covid-19 dimana sebelumnya pemerintah memberlakukan berbagai pembatasan mobilitas warga (semacam PSBB).

Respons warga terhadap pemunculan kembali dinasti Marcos beragam, ada yang mencemaskan bakal  terulangnya kembali masa kelam saat kepemimpinan Marcos yang diwarnai aksi pelanggaran HAM terhadap lawan-lawan politiknya dan korupsi besar-besaran.

Di era tersebut, tepatnya pada 1986, terjadi pembunuhan terhadap pemimpin oposisi Benigno Aquino yang berujung pada revolusi oleh jandanya, Corazon Aquino yang kemudian terpilih menjadi presiden Filipina.

Malah ada pengamat yang mempertentangkan kedua figur capres sebagai sosok hitam-putih, antara yang baik melawan yang jahat.

“Bongbong merepresentasikan dinasti, otokrasi dan impunitas, sebaliknya Robredo mewakli integritas, akuntabilitas dan demokrasi, “ demikian pandangan analis politik Universitas Diliman, Filipina, Aries Arugay.

Sebaliknya para pemuja dinasti Marcos menilai, sejak tumbangnya Ferdinand marcos pada 1986, tak satu rezim pun yang mampu mengentaskan rakyat dari kemiskinan, bahkan mereka menilai, para pengganti Marcos malah berlaku lebih buruk lagi.

Keluarga Marcos,, misalnya Sandro (28), putera Bongbong yang kut dalam pemilihan anggota kongres mengakui, sejarah keluarganya menjadi beban, namun ia berjanji untuk memperbaikinya jika memenangkan  pemilu kali ini.

Dalam berbagai kampanye, pasangan Bongbong dan Sara Duterte juga mengangkat isu persatuan dalam kepemimpinan mereka jika terpilih dalam pilpres kali ini.

Waktu nanti akan membuktikan, apakah kepemimpinan Bongbong-Sara benar-benar menjadi antithesis rezim Marcos sebelumnya, atau setelah berkuasa nanti, kembali melanggengkan apa yang dilakukan orang tuanya?

“L’histoire se repete, sejarah bisa jadi terulang kembali” ungkap pameo lawas. (AFP/Reuters/ns)