Begal Makin Nekat

Oerasi rutin khususnya di lokasi-lokasi dan jam-jam rawan di kawasan ibu kota perlu lebih digiatkan aparat keamanan untuk meredam aksi kejahatan jalanan yang makin nekat. akhir-akhir ini.

APARAT keamanan harus bekerja ekstra keras lagi untuk menciptakan rasa aman bagi warga ibukota yang akhir-akhir ini terusik oleh aksi-aksi kejahatan jalanan yang kian merajalela.

Jika tidak, para pelaku kejatan makin jumawa atau melakukan aksinya dengan brutal karena menganggap, aparat keamanan tidak berdaya, sebaliknya, warga yang sudah pernah menjadi korban atau belum, makin merasa was-was keluar rumah.

Sejumlah aksi kejahatan yang terbilang nekat terjadi dalam beberapa hari terakhir ini, bahkan aparat militer pun nyaris menjadi korban mereka.

Agus (60), supir truk pengangkut elpiji dibegal oleh sekelompok remaja saat berhenti di lampu lalu-lintas di kolong ruas tol Jalan Raya Cakung Cilincing, Rabu dinihari sekitar pukul. 02.00 (11/5).

Salah satu pelaku langsung menghampiri dan membacoknya, hingga Agus luka parah, sementara dua tabung gas dan dompet berisi uang Rp150.000 dan STNK miliknya dilarikan pelaku.

Tiga pelaku, yakni A (17) yang membacok korban, R (18) yang melakukan pemukulan dan serta MR yang menyiapkan clurit dan melarikan tas berhasil ditangkap, sementara tiga pelaku masih buron.

Sementara dua prajutit TNI dari Batalion Arhanud 10/ABC Kodam Jaya yang baru pulang belanja dipepet sepeda motornya oleh sembilan pelaku begal di kawasan Kebayoran Baru, Jaksel Sabtu (7/5) dini hari (sekitar pukul 05.00).

Para pelaku menghentikan kedua korban yang sedang memacu sepeda motornya, berpura-pura minta rokok, bahkan ada yang melempar korban dengan cornblock walau tidak kena.

Korban melawan dan menendang pelaku sehingga terjatuh dari sepeda motor yang mereka kendarai. Ke delapan pelaku lainnya kemudian juga berhasil ditangkap.

Menurut pakar kriminalitas UI M. Mustofa (Kompas, 12/5), pelaku begal termasuk remaja sering  bermotifkan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan seperti yang dituntut seusia mereka.

Meningkatnya konsumsi barang dan juga harga-harga setelah lebaran, menurut dia juga bisa memicu aksi kejahatan, terutama bagi pelaku kelas ekonomi dan berpendidikan rendah, tak punya kerjaan, jaringan sosial terbatas, sementara kebutuhan meningkat.

Mustofa selain berharap agar petugas lebih sring melakukan patrol, juga meminta warga agar berhati-hati jika berpergian di waktu dan tempat-tempat rawan.

Keberanian warga untuk membantu korban kejahatan juga dituntut agar para pelaku tidak merasa leluasa melakukan aksinya karena menganggap masyarakat tidak berani melawan.