PJJ Lagi, Cegah Hepatitis Anak?

Baru saja anak-anak sekolah memulai melakukan Pembelajaran Tatap Muka (PTM), setelah pandemi Covid-19 reda, Kini muncul lagi wacana untuk memberlakukan Pembealajaran Jarak Jauh (PJJ) akibat hepatitis akut misterius yang menyerang anak-anak di 20 negara.

WACANA untuk  memberlakukan kembali Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) murid-murid sekolah mengemuka lagi setelah Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan penyakit hepatitis pada anak yang misterius sebagai kejadian luar biasa.

Sejauh ini suah tercatat 228 kasus hepatisis yang menyebar di 20 negara termasuk Indonesia dengan korban pada rentang usia antara sebulan dan 16 tahun.

Di Indonesia sendiri sebelumnya terjadi tiga kasus hepatitis  misterius ang menyebabkan kematian terhadap tiga anak, satu di antaranya berusia dua tahun belum divaksin, satu lagi, delapan baru divaksin dosis pertama dan yang ketiga, 11 tahun sudah divaksin lengkap.

Ketiga pasien yang dikonfirmasi negatif dari Covid-19 meninggal dalam rentang waktu yang berbeda sejak pertengahan sampai 30 April 2022 setelah dirawat di RSCM Jakarta Pusat. Dua kasus kematian juga ditemukan di Solok, Sumbar dan Tulungagung, Jatim.

mlah korban meningkat lagi saat ini menjadi lima belas orang yakni 11 orang di wilayah DKI Jakarta,  dan  masing-masing satu di wilayah Sumatera Barat, Bangka Belitung, Jaw Barat dan Jawa Timur, seluruhnya pada rentang usia antara satu hingga 17 tahun.

Kepala Bidang ADvokasi Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Imam Zanatul Haeri meminta Kemendikbud, Riste dan Teknologi, Kemenyarian Agama dan Pemerintah Daerah untuk menrbitkan surat edaran agar pihak sekolah, guru, siswa dan orang tua mewaspadai hepatitis akut anak selain Covid-19.

Melalui SE tersebut diharapkan warga sekolah memiliki pemahaman yang baik terkait hepatitis misterius pada anak, misalnya mengenai gejala, penyebab, langkah pencegahan, serta kiat ahidup bersih untuk menghindari anak agar tidak tertular.

Sementara Koordinator P2G Satriawan Salim meminta agar pemerintah melakukan pengawasan dan evaluasi ketaatan pada prokes di sekolah-sekolah termasuk mematuhi adaptasi kebiasaan baru dengan ketat.

Sementara di DKI Jakarta, Wagub Ahmad Riza Patria menyatakan pihaknya masih mempelajari kemungkinan meneruskan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) yang baru diberlakukan setelah tren penyebaran Covid-19 mereda atau akan memberlakukan PJJ lagi untuk mengantisipasi penyebaran hepatitis.

Sebaliknya, Setditjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes Siti Nadia Tarmizi menyebutkan, sementara ini pedoman pencegahan hepatitis akut pada anak termasuk di lingkup sekolah belum diperlukan.

“Yang perlu ditingkatkan adalah upaya surveillance dan dteksi dini oleh masyarakat mengenali gejala dan tanda-tanda paparan penyakit tersebut, “ ujarnya.

Hal senada disampaikan oleh Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah yang menyebutkan, upaya pencegahan yang perlu dilakukan yakni memastikan Prinsip Hidup Bersih Sehat (PHBS) termasuk di lingkungan sekolah.

Terus amati dan waspada, jangan sampai hepatisis akut misterius merajalela memangsa anak-ana kita.