Kosongnya Rumah Kami

Sebuah rumah kosong di daerah Purworejo selatan, karena semua anak-anak almarhum tinggal di kota.

BUKU lama antologi (kumpulan cerpen) Robohnya Surau Kami karya AA Nafis (1924-2003) pernah diterbitkan ulang oleh penerbit PT Gramedia (2007). Nyerempet nama buku tersebut, kini di kampung-kampung banyak rumah-rumah kosong ditinggal penghuninya. Bukan karena akibat pergeseran tanah sebagaimana di Majalengka (Jabar), bukan pula karena terkena proyek pemerintah, malainkan akibat pengaruh urbanisasi. Ketika pendiri rumah itu telah tiada, sementara anak-anaknya sudah nyaman di kota perantauan, hadirlah rumah-rumah kosong tersebut. Ini sekarang terjadi di mana-mana.

Yang sempat masuk media online di antaranya di perkampungan Desa Kalikebo Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten (Jateng). Ada puluhan bangunan jadi rumah mati, lantaran pemiliknya merantau. Ada yang dititipkan ke tetangga, ada yang dilongok setahun sekali saat Lebaran. Tapi kebanyakan dibiarkan terlantar begitu saja. Rumah-rumah itu diam membisu menyimpan sejuta kenangan para pemiliknya.

Rumah yang kosong tanpa penghuni akan mempercepat kerusakannya. Sebab ketika atap bocor akibat genting melorot atau pecah, tak ada yang membetulkannya. Ketika reng dan usuk mulai kena air hujan secara terus menerus, dengan sendirinya akan menjadi rapuh dan ambruklah rumah itu. Awalnya dari dapur, lama-lama rumah induk, dan pada gilirannya nanti tinggal saka guru empat buah. Paling akhir tinggalah tembok-tembok berlumut dan lantai penuh semak belukar. Pemandangan yang sangat tragis, cocok untuk uji nyali Hari Panca di TV, karena konon rumah lama kosong sering jadi hunian gratis jin dan setan.

Ada memang satu dua rumah kosong yang terpelihara, tapi semua itu tergantung tingkat ekonomi pemiliknya. Jika berkecukupan di rantau, dia bisa jadikan rumah itu sebagai monumen keluarga. Direhab menjadi lebih apik, sejumlah benda antik milik keluarga dirawat dengan baik. Tapi ya itu tadi, harus siap menggaji seseorang untuk menunggu rumah tersebut. Di sinilah uniknya. Di kota menghuni rumah orang harus bayar, di kampung justru pemilik rumah warisan harus membayar pada yang menunggu atau menempati.

Tapi jika rumah peninggalan diwarisi keluarga pas-pasan, yang ASN sudah pada pensiun, yang usaha sedang macet gara-gara Covid-19, rumah pusaka itu akan menjadi terlantar karenanya. Apa lagi jika pintu tak dikunci, barang-barang peninggalan almarhum dari meja dan kursi bisa hilang diambil tetangga, buah-buahan di kebon dipanen orang.

Bahkan banyak dari keluarga yang kehidupan pas-pasan, pilih melempit jadi duit rumah pusaka itu, kemudian dibagi-bagi. Ada yang bagito (dibagi roto), ada pula yang mengacu hukum warisan dalam Islam (Ilmu Faroid), bagian lelaki 2 kali bagian untuk wanita. Tapi ada juga yang nakal, hasil penjualan rumah dan pekarangan pusaka itu dikangkangi sendiri. Padahal lihat saja, siapapun yang serakah pada harta warisan, hidupnya malah tidak berkah.

Begitulah dasyatnya urbanisasi, orang berbondong-bondong ke kota untuk mengadu nasib. Targetnya selain Jakarta, adalah Surabaya, Palembang dan Bandung. Jangankan yang sekolahnya tinggi sampai sarjana, hanya tamatan SMA/SMK saja sudah banyak pergi meninggalkan kampung halaman. Tekadnya demikian keras, ibarat kata menjadi tukang nggotong Cina mati dijalani. Mereka bersaing di kota, banyak yang berhasil, banyak pula yang gagal. Yang gagal inilah yang biasanya mau kembali ke desa, meninggali dan merawat rumah pusaka.

Paling unik, ada juga kaum urban yang sudah males kembali ke desa, tapi sebetulnya banyak punya tanah warisan di desa asal. Nah, anak-anaknya yang susah ekonominya jadi rajin pulang ke tempat asal orangtua sekedar untuk menjual rumah atau tanah warisan, termasuk Santosa pimpinan MIT (Mujahidin Indonesia Timur) di Poso (Sulteng). Dia pernah kembali ke Magelang dan Kutoarjo sekedar untuk menjual tanah warisan orangtua yang jadi transmigran di Sulteng. Ternyata duit itu unruk modal jadii teroris!

Ternyata fenomena rumah kosong bukan saja di Indonesia, di negara maju sebagaimana di Jepang, juga terjadi. Rumah-rumah itu ditinggalkan pemiliknya, karena sudah nyaman di kota. Ada sekitar 8 juta rumah kosong atau akiya dalam kondisi terlantar, sehingga pemerintah Jepang menawarkan ke peminat dengan harga murah, hanya 500 dolar AS atau Rp 7,2 juta. (Cantrik Metaram).