Idul Adha, Manusia dan Menyembelih Hewan Kurban

TADI pagi ketika ingin berangkat ke kantor, supir angkot yang biasa mengantarkanku berceloteh miris, “Wah kepengen punya anak kucing atau apa tuh,” ujarnya

Lalu saya yang duduk di belakang persis supir angkot tersebut bertanya, memangnya kenapa pak, ada yng salah dengan pemandangan seperti itu, bukannya orang-orang seperti itu orang yang termasuk penyayang binatang, saya jelaskan ke supir angkot itu.

“Penyayang sih bukan gitu mas, suka kasih makan kucing di jalan atau kucing-kucing dirawat biar ndak mati, bukan digendong-gendong kayak anak bayi gitu dong, pasti ada yang salah dengan pola pikirnya,” ucap supir angkot.

Saya pun tidak melanjutkan pembicaraan dengan supir tersebut, mobil angkot masih melaju dengan tingkat keramaian yang pagi itu lumayan padat merayap.

Maksud dari saya mengawali hal demikian ialah hubungan manusia dengan hewan pastinya erat kaitannya, berbicara dari norma Pancasila saja misalnya bunyi dari sila pertama, yaitu “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Dan nilai yang terkandung dalam sila tersebut ialah nilai ketuhanan toh, jadi penerapan terhadap hewan bisa diartikan sebagai, pertama tentu saja kita sadari semua makhluk hidup termasuk hewan, tumbuhan, dan manusia adalah ciptaan Tuhan. Kedua mensyukuri hewan yang ada di sekitar kita sebagai pemberian Tuhan. Ketiga, menjaga hewan sebagai nikmat yang diberikan Tuhan. Keempat, menyayangi hewan sebagai sesama ciptaan Tuhan.

Nah, kalau sudah seperti ini kita tidaklah berbicara mengenai pola pikir ataupun sesuatu yang dikhawatirkan dari orang-orang seperti supir angkot tadi, misalnya kenapa anak kucing digendong seperti bayi, apakah wanita yang menggendong kucing tersebut merawat kucing sebagai hewan piaraan seperti anak kesayangan? Bisa jadi benar, kalau menurutku, karena merujuk dari nilai-nilai Pancasila yang sudah dijabarkan tadi, semua makhluk hidup termasuk manusia, hewan bahkan tumbuhan adalah ciptaan Tuhan.

Semuanya saling ketergantungan, misal saya berikan contoh, dalam hitungan beberapa minggu lagi umat Islam di seluruh dunia akan merayakan Idul Adha yang biasanya diperingati pada 10 Dzulhijjah setiap tahunnya. Biasanya pada hari tersebut akan ada pemotongan hewan-hewan kurban seperti sapi, unta, domba, kambing untuk kemudian dibagi-bagikan kepada penerima manfaat ataupun siapapun yang membutuhkan.

Saya ingin kita kembali memflashback memori otak kita kepada ratusan juta tahun yang lalu, ketika hari raya Idul Adha tau hari raya Qurban itu dimulai. Syahdan, ketika Nabi Ibrahim AS mendapat kabar dari Allah SWT untuk menyembelih anak kesayangannya yang juga menjadi Nabi yaitu Nabi Ismail AS. Sebagai seorang bapak tentu tidak akan rela karena menyembelih darah dagingnya sendiri, terlebih lagi Nabi Ismail merupakan anak yang ditunggu-tunggu dari hasil pernikahannya dengan Siti Hajar. Bapak mana yang akan tega dengan “tanggungjawab” yang dimikian adanya.

Namun akhirnya sang Bapak membicarakan dengan anaknya dan dengan ketulusan, ketaatan, dan keihlasan Nabi Ismail AS akhirnya ia juga merelakan dirinya untuk disembelih, jika ini dari Allah SWT lakukanlah apa yang diperintahkan, begitu kira-kira dari Nabi Ismail AS yang justru menguatkan Nabi Ibrahim untuk menyembelihnya.

Bisikan Syetan

Dalam pergulatan batin Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya tentu tidak lepas dari syetan-syetan yang menggangu. “Masa kamu tega untuk memotong anakmu sendiri”, “jangan kau lakukan Ibrahim”, Bapak macam apa kalau menyembelih anaknya.” Kesemua bisikan syetan terus berbunyi di telinga Nabi Ibrahim AS.

Namun nyali Bapak dan Anak tersebut ketika diganggu syetan bukannya menciut malahan malah terbakar menjadi-jadi, jika ini perintah Allah SWT maka lakukanlah. Nah sebagai balasan atas ketaatan dan keikhlasan Nabi Ibrahim dan Ismail, Allah pun mengganti Ismail dengan seekor hewan sembelihan yang besar.

Saat ini, hasil dari penyembelihan hewan kurban dibagi-bagikan kepada orang yang membutuhkan, bahkan ada yang sampai pelosok-pelosok, yang tadinya tidak pernah makan daging, sekarang kebagian untuk menyantap daging. Alhamdulillah. Inilah bukti dari sisi kemanusiaan yang diajarkan oleh Allah SWT beserta Nabi-Nabi kita, semuanya saling mendapatkan barokah. Aamiiiin.

Berkurban itu hukumnya sunah muakkad, dan sebagai pengingat atas kejadian besar itu, juga agar manusia taat dan berserah diri kepada Allah SWT, dan agar manusia makin mengerti bahwa Allah tidak hendak menghinakan manusia dengan cobaan, serta tidak ingin menganiaya manusia dengan ujian.

Dari peristiwa ini, juga menjadi pelajaran bahwa Allah menghendaki agar kita bersegera memenuhi panggilan tugas dan kewajiban secara total.

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

Artinya: ”Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Menyembelih 3 Sifat Manusia

Buya H. Firdausi dalam ceramahnya mengatakan dalam diri manusia ada empat sifat. Tiga dari empat sufat itu berpotensi untuk mencelakakan manusia dan satu berpotensi mengantarkan manusia menuju pintu kebahagiaan.

Pertama, sifat syaithaniyah, dimana sifat identiknya adalah kecemburuan, hasad dan dengki, saling iri dan menjatuhkan. Pekerjaan dan targetnya bagaimana membuat jalan yang menyesatkan. Menjerumuskan dan menjatuhkan pada jalan kenistaan. Membasmi dan menghilangkan sifat kemanusiaan dan martabat anak Adam yang dimuliakan.

Kedua, sifat kebinatangan ‘bahimah’ sifat binatang ternak. “Kita tahu persis bagaimana sikap binatang ternak yang diciptakan tanpa fikir, tanpa rasa. Bagi binatang ini adalah sifatnya, ia begitu, adalah lumrah. Tapi kalau manusia yang diberi hati diberi rasa, bersikap dengan sikap bahimah, maka ini petaka dan berbahaya,” kata Firdaus.

Ketiga, sifat buas “sabi’iyah” bukan binatang ternak, tapi lebih tinggi, binatang liar dan buas. “Kita tahu persis sifat-sifat identiknya adalah kesemena-menaan, tak punya rasa kasihan, tidak ada iba dan rasa. Ia akan menerkam siapa saja, andalannya adalah bringas dan tenaga, kuku tajam dan taringnya. Karakternya kezaliman, tidak ada keadilan. Yang kuat berkuasa, yang lemah binasa. Tidak ada ukuran kebenaran, yang ada unjuk kekuatan. Ini yang kita kenal dengan hukum rimba. Yang kuat selamat yang lemah terhina. Yang berani akan menindas yang pengecut. Yang kuat akan memakan yang lemah”.

Sedangan satu-satunya sifat yang menjamin keselamatan dan kebaikan manusia, adalah sifat ‘rububiyyah” sifat berketuhanan, beriman, bertaqwa, memiliki kontrol keyakinan. Yakin akan hari pembalasan. Dan percaya bahwa kehidupan dunia akan dipertanggungjawabkan.

Kebenaran mutlak adalah ketentuan Tuhan, dijelaskan nabi, dikandung Al Quran. Sifat yang tumbuh tidak mengedepankan nafsu keserakahan, tidak ada kepuasan di atas kejahatan. Kebahagiaan bukan tumbuh di atas penderitaan orang lain. Bukan berhasil dengan menjahati orang lain. Atau bukan juga semangat yang tak pernah berharap kebaikan untuk orang lain, urai Firdaus.