Lancungnya para Pejabat Publik

Banyaknya pejabat yang tersangkut korupsi antara lain yang menyebabkan kepercayaan masyarakat pada pejabat publik termasuk politisi tergerus. Peringatan keras bagi mereka!

“SEKALI lancung ke ujian,  seumur hidup orang tak kan percaya”, ungkap pepatah Melayu tempo doeloe, dan di era now ini berlaku terkait kepercayaan publik terhadap para pejabat.

Kondisi tersebut tercermin dalam jajak pendapat yang digelar Litbang Kompas 19 -21 Juli llau (Kompas, 2/8) diikuti 502 responden berusia di atas 17 tahun di 34 provinsi.

Hampir separuh (49,5 persen responden) menyatakan “belum” menjawab pertanyaan, sudahkah pejabat publik menjalankan tugas dan fungsinya dengan amanah atau sesuai  peraturan? Dan hanya 46,8 persen menjawab “sudah”, 3,7 persen tidak tahu.

Buruknya penilaian pada pejabat publik tentu tak lepas dari banyaknya kasus yang melibatkan mereka sehingga memicu respons negatif dari masyarakat.

Kasus teranyar misalnya yang dilakukan Ketua PAN sedlaku Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan yang membagi-bagikan minyak goreng gratis dalam acara pasar murah PAN di Bandar Lampung sambil “mempromosikan” pencalegan puterinya dalam Pemilu 2024.

Kasus lainnya, pengunduran diri Wakil Ketua KPK Lili Pintaili Siregar setelah berkali-kali didesak publik untuk lengser akibat pelanggaran etika yakni menemui pihak yang sedang berperkara dan menerima gratifikasi berupa tiket dan akomodasi event balap motobike Mandalika.

Banyaknya pejabat publik yang “lancung secara moral” tercermin dari 1.194 kasus korupsi yang ditangani KPK 2004 – 2021 dimana 455 kasus dilakukan pejabat publik di instansi pemerintah di kabupaten dan kota diikuti 395 instansi pemerintah di provinsi.

Terkuaknya kasus penyunatan Bansos bernilai puluhan miliar rupiah oleh Mensos Juliari Batubara di tengah pandemi Covid-19 pada 2021   tentu ikut memicu anjloknya kepercayaan pada pemerintah, juga korupsi ekspor benur oleh Mnteri KKP Edhie Prabowo.

Yang teranyar, kasus tembak-menembak antara Bharada Eliezer  dan   Brigadir Joshua yang menghiasi pemberitaan media sampai lebih tiga pekan setelah kejadian tentu juga bakal merontokkan kredibilitas institusi Polri jika nanti terbukti, ternyata tindakan pembunuhan berencana.

Dalam Kejadian diduga di rumah dinas Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo itu, menurut versi Polri sebelumnya, Joshua ditembak mati oleh rekannya Bharada Eliezer yang membela diri karena ditembak duluan oleh Joshua setelah ia keluar dari kamar pribadi Ny Sambo.

Sementara mayoritas responden (65,9 persen) menyatakan, para pejabat negara belum memenuhi keteladanan etika yang dituntut masyarakat, hanya 31,7 persen yang menganggap sudah memenuhi.

Jika krisis kepercayaan publik pada para pejabat terus dibiarkan, apa jadinya negeri ini?