Ukraina Mulai Ekspor Biji-bijian Lagi

Rusia sepakat mengizinkan tiga pelabuhan Ukraina mengekspor biji-bijian yang tertahan akibat perang antara keduanya sehingga mendistorsi rantai pasokan pangan dunia.

UKRAINA untuk pertama kalinya, mulai lagi mengekspor produk biji-bijian yang terhenti sejak Maret lalu akibat berkecamuknya perang antara kedua negara bertetangga bekas sempalan Uni Soviet itu.

Kapal kargo berbendera Sierra Leone, Razoni yang mengangkut 26.000 ton jagung dilaporkan meninggalkan pelabuhan Odesa di Ukraina (1/8), sementara 16 kapal lain sedang antri untuk mengangkut hasil biji-bijian negara itu yang tertahan berbulan-bulan.

“Hari ini kapal pengangkut biji-bijian pertama sejak agresi Rusia (24 Feb) mulai meninggalkan pelabuhan. Kami bersama mitra mengambil langkah untuk mencegah kelaparan di dunia, “ ujar Menteri Infrastruktur Ukraina Oleksandr Kubrakov (1/8).

Krisis pangan dunia sudah di hadapan mata akibat terganggunya rantai pasok pangan dari Ukraina sebagai salah satu produsen biji-bijian utama dunia seperti jagung, jelai  dan gandum akibat perang.

Selain langkanya pasokan, harga pangan juga melambung tinggi di sejumlah negara termasuk Indonesia akibat ketimpangan antara pasokan dan permintaan (Demand and Supply).

Tidak kurang-kurang, Presiden Jokowi dalam lawatan ke Rusia, awal Juli lalu meminta Presiden Vladimir Putin menjamin pasokan pangan dan pupuk dari Ukraina terjaga walau di tengah peperangan antara keduanya.

“Pangan dan pupuk adalah malasah kemanusiaan, karena berkaitan dengan kebutuhan seluruh umat manusia, “ ujar Jokowi.

 

Kesepakatan Istanbul

Rusia dan Ukraina dalam pertemuan di Istanbul 22 Juli lalu menyepakati izin ekspor bahan pangan dari tiga pelabuhan Ukraina selama 120 hari dan selanjutnya bisa diperpanjang secara otomatis jika tidak ada sengketa diantara para pihak.

Dari tiga pelabuhan di Ukraina (Odesa, Chornomorsk dan Pivdennyi, r gandum dan jagung bisa diangkut oleh kapal-kapal kargo curah khususnya ke Afrika, Timur Tengah dan Asia yang penduduknya di ambang krisis kelaparan.

Dengan kesepakatan itu, Ukraina dapat melepas sekitar 22 sampai 25 juta ton stok biji-bijian (gandum, jagung dan jelai) yang sejak awal Maret lalu  tertahan, begitu pula Rusia lebih leluasa mengekspor jagung dan pupuk yang diperlukan terutama oleh negara ketiga.

Untuk selanjutnya, selama 120 hari ke depan, menurut analis Razumkov Centre yang bermarkas di Kiev, Volodymyr Sidenko, keamanan di Odesa yang terus digempur oleh Rusia menjadi tantangan keberlanjutan kesepakatan itu.

Dunia berharap, perang Rusia dan Ukraina diakhiri, demi mencegah korban dan bencana kedua negeri dan rakyatnya, juga penduduk di negeri-negeri lain yang juga terkena getahnya. (AP/AFP/Reuters/ns)