Bansos Ditimbun: Milik Siapa?

Temuan 3,75 ton beras bansos yang ditimbun di Depok diharapkan menjadi pintu masuk untuk menguak penyimpangan penyaluran bansos di tengah pandemi Covid-19.

TEMUAN sekitar 3,75 ton paket bantuan sosial  berupa beras, tepung terigu dan telur yang sudah busuk di lahan kosong milik Rudi Samin di Sukmajaya, Depok, masih simpang-siur kepemilikannya.

Irjen Kemensos yang diturunkan ke TKP Dadang Iskandar (1 dan 2 Agustus) menyebutkan, bansos yang ditimbun tersebut diduga bukan milik instansinya, walau ia berjanji akan mendalaminya lebih jauh.

Alasannya, kemasan beras yang ditemukan dalam  kemasan plastik ukuran lima, sepuluh sampai 20 Kg, padahal Kemensos hanya menyalurkan bansos beras berstiker “Bantuan Presiden Melalui Kemensos” dalam kemasan 20 Kg.

“Stiker tersebut tida ada dalam temuan kemasan beras yang ditimbun tersebut, “ ujar Dadang seraya menambahkan, Kemensos juga tidak menyalurkan bantuan berupa tepung terigu dan telur

Tambahan pula, berdasarkan keterangan dari pihak Kemensos dan Bulog, bansos yag disalurkan oleh Bulog tak hanya dari Kemensos, melainkan juga dari pihak-pihak lain.

Namun demkian, Mensos Trirismaharini sendiri menyebutkan, pihaknya sudah meminta aparat kepolisian untuk menyelidikinya.

Risma juga mengaku belum mengetahui jumlah pasti  beras yang ditimbun. “Sampai kemarin malam, kami masih mengumpulkan bukti-bukti termasuk bukti penggantian (oleh perusahaan yang mengangkutnya) dan juga penyalurannya.

Sementara Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Prof. Ali Mochtar Ngabalin dalam dialog di TV Kompas (3/8 pagi) juga mengaku bahwa temuan bansos yang ditimbun tersebut bukan berasal dari KSP.

Alasannya, lingkungan istana, baik Presiden, Sekretariat Kabinet, Sekretariat Negara dan KSP tidak pernah bekerjasama dengan pihak mana pun (pihak ketiga) dalam penylauran bantuan.

Menurut dia, KSP sudah melakukan penyelidikan ke dalam, dan bansos yang ditemukan itu bukan berasal dari pihaknya, namun demikian ia mendukung peyelidikan kasus itu pada kepolisian.

“Kita percayakan saja pada polisi untuk menyelidikiya, “ tutur Ngabalin.

Beras Rusak

Sementara perusahaan ekspedisi JNE Express  yang menimbun bansos tersebut menyebutkan bansos yang ditimbun, termasuk beras dalam kemasan rusak karena terkena air hujan saat dipindahkan dari Gudang Bulog.

“Tidak ada pelanggaraan yang dilakukan terkait beras yang ditimbun di Depok. Semua sudah melalui proses standar operasional penanganan barang yang rusak sesuai perjanjian yang disepakati, “ ujar Vice President of Marketing JNE Express Eri Palgunadi (31/7).

Sebaliknya, pemilik lahan kosong yang digunakan untuk menimbun bansos tersebut, Rudy Samin dalam dialog di TV Kompas (3/8) mengaku, ia langsung menyurati JNE setelah mendapat informasi tentang beras tersebut dari salah satu pegawai JNE.

Setelah itu ia beberapa kali melayangkan surat memprotes penimbunan tersebut yang dilakukan tanpa seizinnya dan juga ia tidak menerima kompensasi atau sewa atas penggunaan lahan miliknya.

Ia beberapa kali melayangkan surat somasi pada JNE, namun tidak digubris, baru setelah kejadian tersebut diviralkan di media, salah satu pimpinan JNE menemuinya

Menurut Rudi, pihak ZNE membayar sewa penggunaan lahan untuk menimbun bansos kepada oknum-oknum tertentu, namun tidak dijelaskan apakah oknum kelurahan atau aparat keamanan.

Sementara anggota Komisi VIII DPR-RI dari F-PKB Maman Amanullah berjanji, pihaknya akan mengawal penyelidikan kasus tersebut sampai tuntas.

“Tidak hanya beras yang ditimbun di Depok saja, saya berharap agar kasus ini menjadi pintu masuk untuk mengusut penyelewengan penanganan bansos lainnya, “ ujarnya.

Di tengah musibah yang dialami jutaan orang akibat pandemi Covid-19, ada saja yang bermain-main atau mengambil keuntungan pribadi atau kelompok.

“Covid-19 tak hanya menyebarkan virus corona, tetapi juga virus yang menghilangkan akal-budi manusia. Semua harus dibasmi, “ tandasnya.

Menurut catatan, selain akibat data yang amburadul, penyaluran bansos sering tidak sampai sasaran, malah dijadikan bancakan oknum-oknum tertentu.

Bukti yang paling terang benderang, vonis 12 tahun hukuman kurungan terhadap Mensos Juliari Batubara yang terbukti menilap dana senilai Rp32 miliar untuk program bansos 2020 yang diperuntukkan bagi warga yang terimbas pandemi Covid-19.

Ironis memang, dua menteri sosial sebelumnya, Bachtiar Chamsyah terjerat kasus bansos sapi, sarung dan mesin jahit, sedangkan Idrus Marham tersandung kasus PLTU Riau-1.

Buka seterang-terangnya kasus-kasus penilapan bansos lainnya.