Cacar Monyet Jangan-jangan Sudah Masuk

Cacar monyet yang ditemukan di Afrika 1958, pertama kali menular pada manusia pada 1970 dan sekarang sudah merebak di 75 negara. Waspada, Jangan-jangan sudah masuk Indonesia walau belum dilaporkan.

MONKEYPOX  atau cacar monyet yang dilaporkan sudah terdeteksi di negara tetangga yakni Singapura dan Australia, jangan-jangan juga sudah masuk ke Indonesia walau belum ditemukan kasusnya.

Di negara jiran sudah dilaporkan ada 12 kasus, sementara di negara tetangga di halaman belakang RI yakni Australia sejak terdeteksi pada Mei lalu, sekarang sudah 41 kasus menyebar di negara bagian New South Wales, Victoria, Australian Capital Territory, Queensland dan South Australia.

Kasus cacar monyet pertama kali ditemukan pada hewan mamalia tersebut di Afrika pada 1958, lalu penularan  pada manusia dilaporkan pertama kali di Afrika barat dan tengah pada 1970, namun masih dianggap endemik.

Baru pada 2022 cacar monyet menyebar sangat cepat dan kini  sudah merambah 75 negara, sebagian besar kasus terjadi di Eropa disusul AS, sehingga Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkannya pada 23 Juli sebagai masalah darurat kesehatan global.

Hampir seluruhnya (99 persen) kasus cacar monyet yang mewabah kini dialami kaum laki-laki yang berhubungan seksual dengan sesama jenis (LSL) atau yang memiliki partner lelaki lebih dari satu.

Namun demikian, Pusat Pengendalian Penyakit AS (CDC) melaporkan sudah ada dua anak tertular cacar monyet, sedangkan di Inggeris ada 13 perempuan dan tenaga kesehatan tertular setelah merawata pasien cacar monyet.

Gejala cacar monyet a.l. umumnya diawali demam, nyeri otot, sakit kepala, sakit pinggang, pembesaran kelenjar getah bening, menggigil, mudah letih, ruam kulit mirip herpes yang berkembang jadi blister (lepuhan) di badan. Khusus luka lepuh, muncul di mulut, wajah, tangan, dan kaki hingga genital (anus)

Pada sejumlah korban bisa berkembang lebih parah dan menyebabkan komplikasi seperti radang paru (pneumonia), radang otak (ensefalitis), radang kornea mata (keratitis), dan infeksi ikutan akibat bakteri.

Sejauh ini cacar money diprediksi tidak bakal berkembang menjadi pandemic seperti Covid-19 mengingat penularannya memerlukan kontak erat.

Namun demikian WHO merespons wabah ini dengan serius mengingat   kemungkinan bisa saja merebak dalam skala yang tak terduga, sehingga tindakan mitigas dan pencegahan harus terus dilakukan. (Kompas 03/8: Prof. Zubairi Djoerban, penemu kasus HIV/AIDS pertama di Indonesia).