Saat Pulang Kampung

Kepungan atau bancakan slametan orang punya hajat, kini tak lagi pakai ancak, apa lagi dibungkus daun pisang.

BERKAT bantuan Dana Desa, desa-desa pun nampak mulai meng-kota. Jalan lingkungan diperlebar dan diperkeras dengan beton. Listrik pun menyala di sepanjang jalan, sehingga malam hari tak lagi gelap gulita. Saat penulis pulang kampung ke Ngombol Purworejo (Jateng) selatan beberapa hari lalu, menyaksikan segala kemajuan itu. Sayangnya, sekarang banyak rumah kosong memendam sejarah, sementara kebersihan kampung di lingkungan rumah sendiri kurang diperhatikan.

Sejak 2009 penulis menjadi yatim piatu dalam usia 58 tahun, karena ayah dan ibu sudah dipanggil ke hadirat Illahi. Sejak itu jadi jarang pulang kampung, kecuali ada keluarga dekat hajatan mantu. Apa lagi setelah terjadi wabah Corona sejak Maret 2020, jangankan ke luar kota, keluar kampung di Jakarta saja sudah tidak pernah. Maka ketika aturan Covid-19 diperlonggar Pemerintah, barulah penulis memberanikan diri keluar kampung. Ternyata di sana sini sudah begitu banyak perubahan.

Beberapa hari lalu saya menyempatkan diri pulang kampung, setelah kepulanganku terakhir pada 2018. Pada Minggu 31 Juli lalu bertepatan dengan 2 Muharam 1434 H, adikku mantu anak perempuannya.  Termasuk berani juga adikku ini melanggar tradisi. Sebab orang Jawa punya kepercayaan, tidak baik bulan Muharam (Suro) dipakai untuk hajatan. Ini dipatuhi benar oleh masyarakat Jawa, sehingga di bulan itu praktisi seni Jawa seperti dalang, pesinden, niyaga; pada nganggur  karena sepi order.

Kegotongroyongan hidup di kampung masih sangat terasa, khususnya ketika ada warga yang punya hajat. Cuma sekarang lebih praktis meski tidak dijamin ekonomis. Dulu ketika warga nanggap wayang untuk mantu atau sunatan, para tetangga ikut capek tratak (menghias ruangan). Untuk menampung para tamu harus bikin ruang tambahan dari bambu dan atapnya betepe (anyaman daun kelapa). Seluruh penduduk dikerahkan ikut menganyam. Ini sudah dikerjakan 2 minggu sebelum hari H.

Sekarang cukup pesan tenda, langsung distel 3 hari sebelum hari H. Tenda besi beratap seng itu disulap menjadi sebuah ruangan laksana di hotel berbintang. Kuwade alias panggung tempat duduk mempelai, diseting sedemikian rupa, sehingga terkesan mewah. Tak mau kalah dengan Putri Duyung Resort tempat Gubernur Anies Baswedan mantu di hari yang sama.

Untuk konsumsi demikian juga. Dulu bila punya gawe warga dikerahkan untuk lagan atau bantu memasak, dengan resiko yang punya gawe harus menjamin kebutuhan makan keluarga mereka yang ikut lagan. Sekarang cukup pesan pada katering, semuanya beres. Bila dulu  pesta (makan) lewat piring terbang, sekarang para tamu makan model prasmanan. Untungnya orang kampung itu jujur, tak ada tamu gelap saat prasmanan digelar. Bandingkan dengan kota sebagaimana Jakarta, ada sejumlah orang yang berlagak sebagai tamu sekedar untuk ikut numpang makan.

Usai hajatan di rumah peninggalan orangtua, barulah penulis menelusuri jejak-jejak masa kecilku di kampung ini. Kini maju pesat, tak ada lagi rumah berdinding bambu dan beratap rumbia. Semua pakai tembok, beratap genting tanah liat. Jalan depan rumah juga sudah lebar dan diperkeras dengan beton, di malam hari lampu jalanan juga terang menyala. Hampir setiap rumah ada mobil nongkrong di garasi.

Sayangnya belum semua jalan bisa diperlebar dan diperkeras. Pak Kades pusing bagaimana meyakinkan warga yang ngotot mempertahankan beberapa meter tanahnya untuk dipakai jalan. Bahkan ada yang minta, “Kalau saya kena, yang sebelah sana juga harus kena juga dong!” Bila dituruti, bentuk jalan kan jadi ula nglangi tidak bisa lurus. Begitu ngototnya warga yang berwawasan sempit tersebut, Pak Kades pernah terpaksa menunda pelebaran jalan sampai sesepuh desa yang ngotot itu meninggal. Ini kan sangat ironis.

Akibat pengaruh urbanisasi kini di mana-mana banyak rumah kosong tak berpenghuni. Ada yang dititipkan ke tetangga, banyak pula yang dibiarkan rusak ditelan waktu. Kata Kades Pulutan Susatyo STP, sedikitnya ada 16 rumah yang dibiarkan kosong dari 3 RT. Bahkan selebihnya banyak pula rumah lama yang dibongkar, karena dilempit jadi duit alias dijual oleh ahli warisnya.

Jangankan rumahtinggal, gedung SD Margosari saja kini juga tutup terkena regrouping akibat kehabisan murid. Padahal di masa jaya-jayanya di masa Orde Lama, 6 tetangga desa sebagaimana Candi, Kedondong, Kuwukan, Walikoro, Nggrigit, Sruwoh; semua menyekolahkan anak-anaknya di SD Margosari ini. Gara-gara regrouping tersebut, kini eks muridnya dipindahkan ke SD Wonoboyo. Ini berkebalikan dengan masa kecil ayah penulis dulu. Anak-anak seangkatan bapak, anak Wonoboyo sekolah di SD Margosari, kini anak Margosari (Pulutan) justru sekolah di Wonoboyo.

Menatap sudut-sudut desa, rekaman perjalanan hidup di masa kecil seolah kembali diputar. Pohon mangga yang dulu kulempari bersama teman-teman, sudah lama ditebang bahkan sudah diduduki rumah baru. Kalen (sungai kecil) tempat kami dulu mencari ikan, kini nampak mengecil setelah diturap dengan batu kali. Begitu juga belumbang Sikembar, kini tinggal nama karena dijadikan sawah pula. Bahkan generasi sekarang, sudah tak mengenal lagi apa itu Sikembar.

Sekarang memang sudah beda generasi. Para simbah di masa kecilku, semuanya sudah tiada, demikian juga para Paklik, Bulik, Siwa, sekarang juga sudah banyak yang meninggal, hanya tinggal beberapa nama yang masih eksis menjalani kehidupan. Bahkan mitra seangkatan penulis, juga sudah banyak yang ndhisiki (meninggal). Maka pada anak-muda di kampung penulis, tanpa menyebut siapa ayah atau ibunya, menjadi tidak kenal siapa dia sesungguhnya.

Lagi-lagi akibat urbanisasi, kini mencari tenaga atau pekerja kasar susah di kampung. Lantaran setiap rumah sibuk dengan pekerjaan sehari-hari, kebun atau pekarangan miliknya menjadi njembrung (banyak rumput liar) tak terurus. Daun kelapa mengering berantakan di mana-mana, menjadi satu dengan patahan kayu dan ranting-ranting pepohonan kering.

Tapi berkat Dana Desa yang dikucurkan pemerintah setiap tahunnya sekitar Rp 750 juta, desa kami terus membangun prasarana pedesaan. Kini tengah mempersiapkan lapangan olahraga. Mesjid megah juga berhasil dibangun. Terlebih-lebih bila jalan tol Cilacap – Yogyakarta jadi dibangun melintas di persawahan sebelah timur desa, Insya Allah desa kami semakin mengkota. Semoga. (Cantrik Metaram)