BANJARAN DURNA (17)

Aswatawa sebetulnya ingin tertawa atas nasibnya sang ayah Begawan Durna. Tapi takut jadi tiban.

BELUM juga reda amarah Pendita Durna, tiba-tiba datang Betara Narada dari kahyangan dengan naik taksi drone, langsung mendarat di halaman kraton Kumbina, persis depan Sitinggil. Dia menenteng tas lusuh bekas seminar, sementara kakinya bersepatu tapi tak berkaos kaki. Karena wajah bertutup masker, semua yang hadir jadi kurang mengenali. Hanya karena postur tubuhnya yang mirip pulau Kalimantan, para hadirin menduga-duga, mungkin itu Betara Narada dari kahyanngan kluster Suduk Pangudal-udal.

“Kok pada diem, jeneng kita semua lupa sama ulun ya? Elekkk…elekkkk!” tegur Betara Narada mendahului.

“Maaf pukulun, biasanya Betara Narada kan terbang solo tanpa taksi drone.” Jawab Prabu Bismaka  mempersilakan patih kahyangan itu duduk.

“Ulun baru males terbang, karena asam urat ulun sedang kambuh!”

“Dewa hobinya nget-ngetan jangan lodeh, sih…..!” celetuk Durmagati.

Semua kaget dan terbelalak. Para hadirin tak menyangka, seberani itu Durmagati membully tokoh kahyangan. Apa nggak takut kuwalat seperti jambu mete? Sejak itu pula Durmagati dapat tambahan nama olok-olok Roy Kemba alias cangkem amba, mirip eks Menpora yang sakit mendadak  setelah diperiksa polisi 12 jam, tapi bisa cengengesan dalam pertemuan klub Mercy.

Betara Narada sendiri sebetulnya juga keki. Baru kali ini ada titah ngercapada berani clometan terhadap pejabat tinggi kahyangan. Tapi Durmagati si Roy Kemba seberani itu karena tahu bahwa pasal Penghinaan Dewa sudah dihapus MK. Walhasil sepanjang tidak menyerang kehormatan pribadi, wayang bawahan bolah-boleh saja mengkritisi wayang-wayang di elit kekuasaan.

“Prabu Bismaka dan Pendita Durna, termasuk pengombyong Ngastina, kepada jeneng kita semua ulun kabarkan. Enak nggak enak, hari ini Rukmini telah dinikahi Narayana secara sah. Kini mereka sedang berbulan madu di Bali Resort.” Ujar Betara Narada pada akhirnya, menyampaikan berita yang ditunggu-tunggu para tamu.

“Aduh, celaka. Lalu saya bagaimana Pukulun? Kok seperti Megawati di tahun 1999. Menang Pemilu tapi tak jadi presiden. Betapa malang nasibku, duh…..duh aduh!” ratap Begawan Durna.

“Jangan meratapi kekalahan berebut “poros tengah” Mbah……” lagi-lagi Durmagati si Roy Kemba nyeletuk.

Bagi Prabu Bismaka dan Prabu Baladewa, dalam hati merasa bersyukur atas berita tersebut. Sebab Rukmini memperoleh jodohnya yang ideal, sama-sama masih muda. Tapi segala kegembiraan itu hanya disimpan dalam sanubari, sebab jika ditampakkan di depan mata Begawan Durna, sangatlah menyingggung perasaannya. Maka mereka lebih baik diem, bukankah pepatah Barat mengatakan, diam itu emas?

Urusan Dewi Rukmini dianggap selesai, acara selanjutnya tinggal isoma (istirahat, solat, makan). Tapi lantaran kubu Begawan Durna sudah kadung kecewa, pengombyong Kurawa pulang lebih dulu. Namun demikian Durmagati sempat-sempatnya mothel dua buah pisang ambon di meja prasmanan, dan dikantongi lalu dimakan sambil menuju bis carteran.

“Bikin malu,  tamu kok rakus amat. Kalau lapar mbok nanti nunggu makan bersama di Warteg.” Tegur Kartomarmo.

“Halah, lapar kok mikir malu. Isin itu bikin tidak isi……!” jawab Durmagati sambil menelan potongan pisang ambon.

Patih Sengkuni kasihan betul pada nasib Wakne Gondel alias Pendita Durna. Untuk menunjukkan solidaritas pada pertapan Sokalima, sebetulnya Sengkuni sudah mengkode para kadrun untuk mendemo negeri Kumbina lewat pasukan nasi bungkusnya. Tapi entah kenapa kok tidak digubris. Bala Kurawa juga ogah bikin teror atas perintah Patih Sengkuni. Soalnya sekarang dia ketahuan belangnya. Sok ngatur orang lain, tapi anak sendiri tak bisa diatur. Kabarnya Antisuro bin Sengkuni digugat cerai istrinya ke Pengadilan Agama, gara-gara cengkiling dan pemabukan.

Pendita Durna dan tim Kurawa pulang ke Ngastina dengan tangan hampa. Pendita Sokalima ini benar-benar frustrasi, karena ibarat makanan tinggal masuk mulut kok ditampel Narayana, sehingga berantakan. Begawan Durna merasa dikadali dua kali. Menang tebakan tapi gagal dapat hadiah, Prabu Bismaka kelihatannya setuju tapi batinnya menolak.

“Mana rama, ibuku yang baru?” kata Aswatama begitu Begawan turun dari bis carteran.

“Ibu baru, baru klinthing apa? Ora ngrasakke, bapak dipermalukan di depan publik, tapi tak ada yang membelai. Mending tebakan sepeda dengan Presiden Jokowi, hadiahnya nyata…..” keluh Begawan Durna.

Aswatama sebetulnya mau tertawa, tapi takut dikutuk oleh ayahnya. Maka dia hanya diam saja. Untuk menetralisir suasana dia segera  menghidangkan teh nasgithel buat sang ayah, kemudian menyingkir takut jadi sasaran kemarahan. Soalnya memang begitu kelakuan Begawan Durna, kalau sedang marah demen cari kambing hitam. Aswatama sering jadi tiban.

Demikianlah, dua minggu telah  berlalu dari lamaran gagal itu. Tiba-tiba wabah Civid-19 yang sudah mereda di Ngastina itu kembali ngamuk. Ternyata biangkeroknya ketika menghadiri lamaran di Kumbino bala Kurawa melanggar prokes. Sudah tak cuci tangan, juga tak mengenakan masker. Walhasil virus Corona dari Kumbina otomatis diekspor ke Ngastina.

“Kita kebobolan paman Sengkuni” kata Prabu Duryudana.

“Ya nasib! Maunya menolong Begawan Durna, jadi kita semua yang celaka, boroskan anggaran lagi.” jawab Patih Sengkuni dengan lesu.

Sebetulnya Patih Sengkuni sendiri masih terbelit persoalan keluarga. Ini semua gara-gara kelakuan anak lelakinya si Antisuro. Dia kini sudah bercerai dengan istri gara-gara kelakuannya yang tak terpuji. Dulu berhasil jadi anggota DPR karena yang dilihat sebagai anak Patih Sengkuni. Meski begitu sombongnya minta ampun. Di pesawat Antisuro pernah ribut dengan penumpang gara-gara main HP di pesawat. (Ki Guna Watoncarita)