AS dan China: Kuat Mana?

Pesawat tempur generasi ke-5 berkemampuan siluman, J-20 Chengdu China. AS dan China saling gertak berkaitan dengan lawatan Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taiwan.

SALING gertak mengemuka antara dua negara penguasa dunia yang berseteru, Amerika Serikat dan China sejak rencana lawatan Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taiwan yang akhirnya diwujudkan(2/8).

China meradang, karena kunjungan petinggi AS ke Taiwan yang masih diklaim wilayahnya, sangat melukai dan melanggar kedaulatannya, sebaliknya bagi AS, lawatan itu menunjukkan komitmen dukungan moral bagi Taiwan.

Lawatan Pelosi ke Taiwan berarti pertama kali dilakukan pejabat tinggi AS setelah 25 tahun lalu seperti dilakkan Ketua DPR Newt Gingrich dari Partai Reublik pada 1997. Bedanya Gingrich yang dari Partai Republik berada di  oposisi, sedangkan Pelosi pendukung pemerintah.

Gertak-menggertak biasa terjadi antara para pihak yang bertikai, baik orang, kelompok atau negara, dengan harapan, lawan bakal ciut nyalinya dan takluk atau menerima saja apa yang dikehendaki.

Ada pihak yang langsung mundur setelah digertak, karena menimbang-nimbang, jika berlanjut ke peperangan, pihaknya bakal kalah, ada juga yang ngotot karena merasa kuat atau tak mau kehilangan muka.

Pada krisis misil Kuba 1962, PM Uni Soviet Nikita Kruschev akhirnya takluk setelah Presiden AS John F Kennedy mengultimatum akan menghancurkan rudal-rudal yang dipasang Soviet di Kuba jika tidak bersedia membongkar dan mengangkutnya pulang.

Misil-misil nuklir yang digelar Soviet di Kuba yang hanya berjarak sekitar 410 mil dari pantai Havana (Kuba) ke pantai Florida (AS) jelas menjadi ancaman nyata bagi AS jika sewaktu-waktu diluncurkan.

Kruschev takluk pada gertakan Kennedy, mestinya setelah menimbang-nimbang, negaranya bakal kalah jika perang melawan AS, walau keputusan itu kemudian membuat “pecah kongsi” antara Soviet dan China. China menjuluki Rusia sebagai revisionis.

Pertaruhan Pelosi

Rencana lawatan Pelosi ke Taiwan (2/8) di AS sendiri menuai kontroversi, misalnya Presiden Joe Biden dan mantan Menlu AS Henry Kissinger menilainya tidak bijaksana. Pemerintah RI juga mengingatkan lawatan itu bisa memicu ketegangan  kawasan.

AS mengerahkan gugus tempur dipimpin kapal induk USS Ronald Reagan, kapal serang amfibi USS Theodore Rosevelt dan USS Amerika serta sejumlah kapal pendukung lainnya untuk mengamankan kunjungan Pelosi.

China sebaliknya menggelar latihan besar-besaran kekuatan tiga matranya (AD, AL dan AU)  di tujuh titik yang mengepung Taiwan  – 7 Agustus, mengerahkan dua kapal induk (Shandong dan Liaoning) dan uji coba 11 rudal balistik yang lima diantaranya jatuh di perairan Jepang.

Sementara Taiwan yang sudah menyiapkan diri dari ancaman serangan China sewaktu-waktu, juga bersiaga penuh, tak hanya militer tetapi juga seluruh rakyatnya.

Di Taiwan, jalan raya pun sewaktu-waktu bisa dialih-fungsikan untuk landasan pesawat tempur dan penduduk dapat  menggunakan aplikasi di HP untuk bergegas ke bunker-bunker terdekat , begitu pula RS-RS dan depot bahan makanan disiapkan.

Perang, hasilnya bisa diprediksi dengan melihat kesiapan dan peralatan tempur para pihak yang terlibat termasuk juga jika sampai memicu Perang Dunia III yang bisa menghancurkan seluruh peradaban manusia.

Jika terjadi perang terbatas saja antara AS dan Taiwan melawan China, dampaknya bakal lebih parah dari Perang Rusia dan Ukraina yang sampai hari ini masih berlangsung sejak invasi Rusia, 24 Feb.

Perang terbatas AS dan China melawan  China tentu bakal mempercepat dan memperparah krisis pangan dunia yang sudah terancam Perang Rusia dan Ukraina akibat distorsi rantai pasoknya..

Perbandingan Kekuatan

Anggaran militer AS 2021 tercatat 778 miliar dollar AS (sekitar Rp11.600 triliun) atau 39 persen dari total belanja  militer global, sedangkan China pada urutan ke-2 dengan 252 miliar  dolar (Rp3.755 triliun) dan Taiwan ke-22 dengan 13 miliar dolar (Rp194 triliun).

China memiliki 2,2 juta personil aktif, belum termasuk pasukan cadangan, sementara AS 1,35 juta personil aktif plus 800-ribu cadangan dan Taiwan 300-ribu personil.

AD AS didukung 6.300 tank termasuk tank tempur utama Abrams MIA2, ribuan pucuk meriam tarik dan swagerak M-109, peluncur roket multi laras (HIMARS) dan ragam rudal, sedangkan China  mengoperasikan 13.000 tank, meriam tarik dan swagerak, peluncur multi laras dan rudal-rudal balistik seri Dong Feng (DF-1, DF-17, DF21 sampai DF-41).

Di udara AS lebih unggul dengan sekitar 13.000 aneka pesawat, termasukk pesawat-pesawat generasi ke-lima, siluman F-22 Raptor dan F-35 Super Lightning dan pengebom terbaru B-21 Raider.

AU China mengoperasikan sekitar 3.300 pesawat, sebagian buatan Rusia atau Soviet seperti Sukhoi SU-30 dan SU-35 atau copy paste pembom TU-16 (Xian H-6) dan terus memodernisasi pesawat tempurnya a.l J-20 Chengdu yang disebut-sebut setara dengan F-35.

Angkatan Laut China sekarang ini yang terbesar di dunia dari jumlah armadanya yakni sekitar 700 kapal perang dan 79 kapal selam dibandingkan dengan armada AS yang berjumlah 250-an kapal a.l. 11 kapal induk, 130 kapal utama (cruiser, destroyer, fregat dan korvet), 33 kapal serang amfibi dan 69 kapal selam sebagian besar bertenaga nuklir.

Namun keunggulan jumlah kapal-kapal AL China hanya untuk kapal-kapal berukuran kecil seperti penjaga pantai. Untuk kapal-kapal kelas fregat, destroyer, penjelajah sampai kapal induk, AS jauh lebih kuat. AL AS mengoperasikan 11 kapal induk dibandingkan dua milik China (Shandong dan Liaoning).

Sedangkan AB Taiwan walau jauh lebih kecil, dengan personil 300.000 orang, 300 pesawat tempur, 87 kapal perang dan sekitar 1.855 tank tidak bisa dianggap enteng, karena selain terlatih juga canggih.

AU Taiwan mengandalkan lebih 100 “Elang Tempur F-16 C/D yang kemampuannya akan ditingkatkan menjadi F-16 Viper, Mirage 2000-5 buatan Perancis dan Chengko F-CK1 buatan lokal yang dianggap setara dengan F-16.

Sadar tidak sebanding berhadap-hadapan langsung dengan  kekuatan raksasa China, pasukan Taiwan menerapkan taktik asimetris untuk bertahan selama mungkin sambil menanti bantuan AS dan sekutunya (NATO) tiba.

Jika pecah perang, bisa jadi bereskalasi, karena terjadi dukung-mendukung yang menyeret negara-negara lain sehingga tidak mustahil bakal memicu Perang Dunia III yang akan menghancurkan dunia dan malapetaka bagi seluruh umat manusia.

Hulu Ledak Nuklir

AS memiliki persenjataan nuklir terbesar kedua di dunia setelah Rusia, disusul Perancis di tempat ketiga dan China di posisi keempat, menurut situs web World Population Review yang berbasis di AS.

China tidak mengungkapkan hulu ledak yang dimilikinya, tetapi laporan terbaru AS memperkirakan, saat ini berada pada kisaran 200-an”.

Sedangkan laporan bersumber dari dalam negeri menyebutkan,  China kini sudah memiliki 1.000-an hulu ledak nuklir, sehingga kalau pun benar, masih jauh di bawah total inventaris AS yang terdiri dari 5.800 hulu ledak nuklir, 3.000 siap ditempatkan, dan 1.400 hulu ledak disiagakan.

Selain itu, teknologi alutsista China walau sebagian sudah bisa melampaui AS dalam jumlah, banyak yang belum teruji di dalam pertempuran sesungguhnya (combat proven).

AS juga memiliki berbagai sistem pertahanan THAAD (Terminal High Altitude Area Defence) untuk mencegat rudal-rudal lawan di fase terminalnya dengan tumbukan energi kinetik.

Ada lagi sistem Aegis yang ditempatkan di kapal-kapal perang dan sistem pertahanan rudal anti rudal Patriot yang sukses digunakan Israel eredam serangan rudal Scud Irak pada Perang Teluk 1992.

Kembali ke lawatan Pelosi, China sejauh ini hanya secara simbolik menentangnya dengan menggelar latihan militer besar-besaran di dekat wilayah Taiwan, namun tidak benar-benar menyerang Taiwan seperti ancamannya.

Bisa jadi, kali ini AS yang berada di atas angin, akan “menjajal” reaksi  China dengan mengirim lagi petingginya ke Taiwan sampai ke level presiden? (AFP/AP/Reuters/ns)