
BMKG mengingatkan fenomena La Nina ditandai curah hujan tinggi yang berpotensi bakal mengguyur sejumlah wilayah jelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan pada periode Nataru 2025/2026 muncul sejumlah fenomena atmosfer aktif, a.l.Monsun Asia, Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang atmosfer, serta potensi bibit siklon atau siklon tropis.
“Pengaruh La Nina lemah dan Indian Ocean Dipole (IOD) negatif turut berperan dalam meningkatkan potensi intensitas curah hujan, khususnya pada minggu kedua Desember 2025 hingga minggu pertama Januari 2026” kata.
Indian Ocean Dipole (IOD) dan merupakan fenomena osilasi suhu air permukaan laut yang tak teratur yang menyebabkan wilayah barat Samudera Hindia lebih hangat (di fase positifnya) dan lebih dingin (di fase negatifnya) dibandingkan wilayah timur Samudra Hindia.
Monsun Asia adalah angin musiman periodik yang bertiup dari Benua Asia ke Benua Australia (disebut juga Angin Muson Barat) saat musim hujan di Indonesia (sekitar Oktober-April), membawa massa udara basah dan uap air yang menyebabkan hujan lebat.
Sementara Monsun Timur yang kering dari Australia ke Asia (musim kemarau), mengubah arah tiap setengah tahun karena perbedaan tekanan udara daratan dan samudera, menjadi penentu iklim di wilayah Asia Tenggara dan Indonesia.
Sedangkan Osilasi Madden-Julian (MJO) adalah fluktuasi cuaca tropis skala besar berupa ‘denyut’ awan dan curah hujan yang bergerak perlahan ke arah timur melintasi khatulistiwa setiap 30-60 hari, dimulai dari Samudra Hindia lalu ke Pasifik, memengaruhi pola cuaca global, musim hujan (monsoon), dan bahkan siklus El Niño-La Niña, menjadikannya penting untuk prediksi cuaca jangka menengah.
Curah hujan tinggi dan sangat tinggi
Faisal menjelaskan curah hujan tinggi hingga sangat tinggi diprakirakan terjadi di sejumlah wilayah, dengan kisaran sekitar 300 hingga 500 milimeter per bulan pada periode Desember 2025 hingga Januari 2026.
Wilayah berpotensi mengalami kondisi tersebut meliputi, lanjutnya, adalah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sulawesi Selatan, dan Papua Selatan.
Sementara itu Faisal menyebutkan, sebagian besar wilayah Kalimantan secara klimatologis berada dalam musim hujan sepanjang tahun.
Ia menuturkan puncak musim hujan di wilayah Lampung, Bengkulu, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara diperkirakan terjadi pada Januari hingga Februari, sedangkan untuk sebagian besar wilayah Sumatra, kecuali Bengkulu dan Lampung, puncak musim hujan berlangsung pada Desember.
Waspada dan siapkan semua, baik kendaraan maupun fisik dan semua kelengkapan berkendara bagi yang merencanakan perjalanan selama liburan Nataru.




