
PERTAPAN Jati Bedugan sudah beberapa tahun ini terasa sepi, para cantrik tak satupun nampak di padepokan. Bukan mereka belajar online dari rumah masing-masing gara-gara Covid-19, tapi jauh sebelum pandemi Corona pertapan itu sudah kosong. Soalnya, Begawan Doraweca pemiliknya sedang pergi keluar negeri dengan alasan menambah ilmu di negeri Traju Lamatan. Tapi entah kenapa, Begawan Doraweca jadi betah banget di sana, sampai-sampai padepokannya tak diurus.
Awalnya Begawan Doraweca juga menjadi konsultan agama di negeri Ngastina pimpinan Prabu Jakapitono. Dia setingkat dengan Pendita Durna dari Sokalima. Bedanya adalah, Durna merupakan penasihat spiritual, sedangkan Doraweca khusus membidangi soal moral. Maka urusan pengembangan budi pekerti di Ngastina, yang ngatur ya Begawan Doraweca ini. Sayangnya, Begawan Doraweca ini terlalu nyinyir wayangnya, segala kebijakan Prabu Jokopit –begitu panggilan akrabnya– selalu dikritisi.
“Apa itu, jadi raja duduk di dampar Ngastina saja tak mampu, lalu bikin dampar sendiri buatan Klender. Anak SMP juga bisa, tapi kan nggak legitimid….” Kata Begawan Doraweca, dan langsung dikutip pers media cetak dan online di mana-mana.
“Bagaimana dengan skandal Bale Sigala-gala yang tewaskan 6 orang tak dikenal?” pancing pers, mengungkit masa lalu.
“Sama saja itu. Itu utang Kejaksaaan Agung yang tak terbayar hingga kini. Mestinya Patih Sengkuni dan Dursasono diusut, mereka kan aktor intelektualnya.” Kata Begawan Doraweca makin bersemangat.
Sebetulnya masalah skandal Bale Sigala-gala sudah terjadi 50 tahun lalu, dan ketika itu Begawan Doraweca belum ada di Ngastina. Tapi karena dibisiki LSM, begawan dari Jati Bedugan itu jadi tahu. Ndilalahnya dia pernah minta BOP (Bantuan Operasional Pertapan) tapi tak digubris oleh Prabu Jokopit. Nah, kasus ini lalu dijadikan modus, buat menyinyiri raja Ngastina sampai menyonyor.
Prabu Duryudana sebetulnya juga kesal dengan ulah Begawan Doraweca, tapi untuk mencopotnya, nanti dianggap tidak demokratis. Kalau begitu apa dijadikan komisaris saja? Nanti malah semakin bebas ngomong. Dicopot dari komisaris belok jadi youtuber, makin bebas nggepuki kerajaan Ngastina, kan kaco.
“Biarkan saja dia ngomong, nanti kan ketanggor (kena batunya) juga. Becik ketitik ala ketara,” kata Begawan Durna mencoba menghibur kekesalan Prabu Jokopit.
“Apa sebaiknya dia saya kasih saja bintang Mahaputra Rekayasa?” kata Prabu Jokopit.
“Oo, jangan! Nggak ada jalurnya itu, nanti malah dituduh anak prabu mau menghabisi kaum oposisi.”
Rupanya Begawan Doraweca itu lain dari umumnya begawan, dia ternyata belum juga mungkur kadonyan. Melihat perempuan cantik masih resep (terpesona), dan ukuran celananya pun langsung berubah. Untung saja terlindungi jubah kebesaran, sehingga bangkitnya sang nafsu aluamah tak terlihat nyata. Diam-diam dia suka main WA-nan dengan Dewi Sekar Melati seorang emban Istana Gajahoya, teman Limbuk dan Cangik.
Suatu ketika kantong jubahnya bolong tak ketahuan, maka HP android Begawan Doraweca jatuh diambil orang. Pagi hari HP itu jiglok (jatuh), sore harinya sang begawan dapat serangan menohok. Dialog mesum antar keduanya diunggah ke medsos oleh akun @dikunci. Bukan hanya narasi, tapi juga atraksi. Gambar mesum Sekar Melati-Doraweca terlihat nyata.
“Dia harus dipecat, bikin malu lembaga begawanan. Di mana-mana nggak ada itu, begawan celamitan. Namanya begawan hatinya harus putih, bukannya mikirin paha putih melulu.” Usul Begawan Durna kepada Prabu Jokopit.
“Bukan hanya dipecat, harus diperiksa dan dipenjarakan. Begawan cabul itu ada sanksi hukumnya,” tambah Patih Sengkuni.
Prabu Jokopit dalam hati nyukurin Begawan Doraweca dipermalukan publik. Tapi sebagai raja yang harus bersikap adil dan bijaksana, dia tak boleh menampakkan sikap semacam itu. Maka di depan para punggawa kerajaan di Istana Gajahoya, Prabu Jokopit hanya menyatakan prihatin, dan siapa saja pelakunya akan ditindak. Baik itu yang terlibat video tersebut, termasuk yang mengunggahnya.
Atas perintah Prabu Jokopit Patih Sengkuni segera memanggil Begawan Doraweca untuk menghadap ke Istana Gajahoya dalam tempo 2 X 24 jam. Tapi sang begawan melalui twitter menjawab bahwa tak bisa hadir dengan alasan sudah dijadwal menghadiri Konggres Begawan Sedunia di Srilangka. Apa hasil keputusnya manut dan setuju saja.
“Nggak nyambung banget, deh! Ini pertemuan bukan masalah lain, kok main terima jadi aja. Memang ini urusannya mau mecat sampeyan.” gerutu patih Sengkuni saking kesalnya.
“Memang ngelesnya pinter banget dia. Mana ada Konggres Begawan Sedunia? Kalau ada kan gue diundang juga. Ini pembohongan publik.” Lagi-lagi kata Durna ketus sekali.
Durna itu sedari dulu lahir batin tidak suka dengan Begawan Doraweca, sebab sama-sama begawan anggota Wantimja (Dewan Pertimbangan Raja), tapi begawan dari pertapan Jati Bedugan ini maunya paling menonjol sendiri. Rahasia dapur lembaga diobral keluar. Dia memang satu-satunya anggota Watimja yang doyan medsos.
Sampai 3 hari tak kunjung menghadap ke Istana Gajahoya, Adipati Karno dan Kartomarmo ditugaskan menjemput. Ternyata pertapan Jati Bedugan telah kosong. Kata Satpam pertapan, katanya beliau sudah terbang ke Srilangka dalam rangka menghadiri Konggres Begawan Sedunia.
“Oh iya, gue lupa nggak kontak Imigrasi supaya cekal dia.” Keluh Patih Sengkuni.
“Dasar sampeyan patih kuclukkk…..,” kata batin Adipati Karno, nggak enak mau nyeplosin. (Ki Guna Watoncarita)


