Libur Panjang Atau……?

Kerumunan massa Pilkada yang sangat potensial bikin orang sial terpapar Corona.

KATANYA vaksinasi anti Covid-19 bisa dimulai bulan Nopember 2020. Tapi kenyataannya, sudah masuk bulan Desember belum juga ada penyuntikan. Padahal rakyat terus berjatuhan terpapar, pertambahan pasien dalam sehari bukannya ratusan tapi ribuan bahkan pernah 8.000. Ironisnya pemerintah tak menggubris saran IDI dan ahli epidemilogi untuk menunda libur panjang Natal & Tahun Baru 2021. Pilihannya sekarang, pilih libur panjang atau….. panjang umur?

Indonesia memiliki Harkitnas alias Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh 20 Mei 1908. Setiap tahun diperingati. Tapi paling populer dan dalam setahun bisa hadir lebih dari sekali, adalah Harpitnas alias Hari Kejepit Nasional. Hari itu jatuh pada hari Senin jika hari Selasa libur nasional, atau hari Jumat manakala hari Kamisnya juga hari libur nasional. Jika ketemu hari libur semacam itu PNS atau karyawan swasta bukan main girangnya. Sebab ada kesempatan untuk tidak masuk sekalian pada hari yang terjepit tersebut.

Rakyat yang bermental mbolosan macam Amrin lagu ciptaan Pak Kasur, secara nasional tentu saja bikin rugi negara. Paling tidak pelayanan untuk masarakat jadi terbengkelai, sekaligus juga mengurangi produktivitas nasional. Maka pada pemerintahan era reformasi, munculah tradisi baru “cuti bersama”. Ketimbang banyak pegawai  yang bolos, absennya  pegawai di hari kerja tersebut diresmikan sekalian, dengan  istilah “cuti bersama”.

Sudah menjadi “penyakit” orang Indonesia, setiap datang libur panjang dimanfaatkan untuk mudik atau pulkam (pulang kampung) atau juga klintong-klintong rekreasi ke mana saja. Yang beruang banyak, plesiran ke luar negeri termasuk Honolulu. Adapun yang sedang bokek cukup hono kene wae alias di rumah saja!

Pada pandemi Covid-19 sekarang ini pemerintah mencatat, sejak Maret 2020, setiap berlangsung “cuti bersama” atau libur panjang, yang oleh media online lebih keren disebut long weekend,  selalu terjadi kluster baru penyebaran Covid-19. Ini berulang kali terjadi. Oleh karenanya korban terpapar secara nasional terus melonjak. Sebagaimana yang dicatat Satgas Penanggulangan Corona, hingga Kamis sore 03 Desember korban positif Corona telah mencapai 557.877  dan yang kembali sehat sebanyak 462.553

Pertengahan Oktober lalu Presiden Jokowi mengatakan bahwa penanggulangan Corona Indonesia paling baik seluruh dunia. Namun demikian tgl. 30 Nopember setelahnya Presiden merasa kecewa karena korban Corona melonjak lagi, terutama di DKI Jakarta dan Jateng. Data Minggu 29 Nopember menyebutkan, tambahan kasus harian Covid-19 capai rekor tertinggi hingga 6.267 sehingga angka kumulatife sampai 534.266 kasus.

Laporan Satgas Covid-19 Kamis 3 Nopember lalu itu sungguh mengerikan, sebab jumlah tambahan terpapar Corona sebanyak 8.369. Kata Jubir Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito, peningkatan jumlah pasien ini menjadi bukti bahwa laju penularan masih terus meningkat. “Jelas terlihat masyarakat semakin hari mengabaikan protokol kesehatan, masyarakat harus sadar kelalaian ini berdampak fatal,” ujar Wiku.

Sebagaimana kata Kabareskrim Polri Komjen Listyo Sigit Prabowo, peningkatan korban Covid 19 adalah kerumunan massa produk kampanye Pilkada, massa pendukung HRS dan demo UU Cipta Kerja. Sebetulnya bukan itu saja, kerumunan orang punya hajadan di gedung juga punya andil. Tapi ironisnya kini Pemda-Pemda mulai memberi ijin semacam itu, termasuk DKI Jakarta. Boleh saja dengan syarat prokes diperketat dan tamu hanya 25 persen dari kapasitas gedung. Tapi dalam prakteknya susah dikontrol.

Libur panjang Natal & Tahun Baru 2021 sebentar lagi tiba. Sayangnya pemerintah hanya berani mengurangi jumlah hari libur itu dari 11 hari menjadi 8 hari saja. Padahal IDI dan ahli epidemilogi sudah menyarankan, tunda saja dulu libur bersama secara nasional itu. Jika tidak diprediksi korban terpapar Corona semakin menghebat. Bersuka ria menikmati libur panjang, tapi bisa saja pada akhirnya tak dipanjangkan umurnya gara-gara kemakan Covid-19. Kasihan IDI dan Nakesnya yang kerja mati-matian, tapi sia-sia belaka akibat rakyat menyepelekannnya. (Cantrik Metaram)

Advertisement