Wayang Dimusnahkan?

Tontonan wayang kulit yang adilhung dan diakui Unesco, masak harus dimusnahkan karena "fatwa" seorang ustadz?

SEBETULNYA soal wayang dianggap haram itu isyu lama, setidaknya ketika Pilgub DKI Jakarta 2017 sekitar 5 tahun lalu. Tapi entah kenapa digoreng-goreng lagi, Mendadak ustadz Khalid Basalamah jadi kerepotan minta maaf, karena bikin marah para budayawan, termasuk Pepadi Banyumas Raya. Soal wayang direken haram, nggak apa-apa. Tapi jika wayang perlu dimusnahkan, nanti dulu! Ini kan sama saja menafikan perjuangan para wali menyebarkan agama Islam di abad ke-15.

Di masa kampanye Pilgub DKI 2017, PDIP yang menjagokan Ahok BTP-Djarot beberapa kali pentaskan pagelaran wayang kulit di berbagai tempat di Jakarta, demi menggalang suara. Bersamaan dengan itu pula, di bulan Januari 2017 lalu bermunculan spanduk-spanduk yang menarasikan bahwa wayang itu haram, karena bukan syariat Islam. Entah ngefek atau tidak spanduk itu, yang jelas yang terpilih jadi Gubernur DKI Anies Baswedan.

Masih di bulan yang sama, dalam sebuah pengajian ustadz Khalid Basalamah ditanya jemaah tentang tontonan wayang kulit yang diharamkan dalam Islam. Jawab uztadz kemudian, jika wayang sekedar buat pengenang kejayaan budya masa lalu, silakan! Tetapi seharusnya Islam dijadikan tradisi dan budaya, bukan dibalik dengan mengislamkan tradisi dan budaya, ini susah! Oleh karena itu bicara soal taubat, dalang yang paham haramnya wayang, sebaiknya wayang dimusnahkan saja.

Lima tahun lalu medsos belum semasif dan segarang sekarang, sehingga reaksi publik tak begitu nyata. Tapi sekarang, mendadak video ustadz Khalid Basalamah tersebut digoreng-goreng di medsos padahal migor kemasan seharga Rp 11.500,- perliter sedang pada ngumpet di gudang. Sampai-sampai ustadz Khalid harus kerepotan harus minta maaf dan menjelaskan ceramahnya 5 tahun lalu itu ditujukan kepada dalang secara personal bukan secara umum.

Para praktisi perwayangan, khususnya Pepadi Banyumas Raya, marah dengan narasinya ustadz Khalid Basalamah. Soal wayang dianggap haram, silakan saja, tak masalah. Tapi jika wayang harus dimusnahkan segala, ini penjorangan pisan (kurang ajar betul). Jika dalang Banyumas baru berencana melaporkan ke Bareskrim Polri, Sandy Tumiwa Ketua Humas Dewan Pimpinan Pusat Organisasi Masyarakat Setya Kita Pancasila (SKP), langsung melaporkannya ke Bareskrim Polri.

Tapi laporan itu tak bisa diproses karena kekurangan barang  bukti. Setidaknya Sandy Tumiwa telah berhasil melepaskan kegondokan batin atas opini ustadz Khalid Basalamah. Sebab pernyataan tersebut sangat merugikan hajat hidup orang banyak karena menjadi mata pencarian atau sumber pendapatan banyak keluarga. Sandy merasa sakit hati dengan pernyataan itu. “Saya sebagai seorang artis, seniman, dan budayawan menjadi sangat sakit hati karena melihat ini orang kok segampangnya ibaratnya nyuruh musnahin profesi. Satu pekerjaan yang biasanya mereka lakukan,” ujar Sandy.

PBNU dan PP Muhammadiyah sangat menyayangkan pendapat Khalid Basalamah. Bagaimana kok disebut haram dan perlu dimusnahkan? Sedangkan para wali wali khususnya Sunan Kalijaga, menggunakan wayang sebagai media dakwah. Ustadz Yahya dari Cirebon juga menambahkan, sebelum Islam masuk, Hindu sudah akrab dengan wayang. Untuk menyebarkan Islam, para wali lalu memasukkan tokoh punakawan sebagaimana Semar, Gareng, Petruk, Bagong, dan Togog.

Maka Semar katanya berasal dari bahasa Arab samir yang bermakna bersedia. Nala Gareng dari bahasa  Arab Nala Qariin yang berarti banyak teman. Petruk dari kata fatruk yang berarti meninggalkan, dan  Bagong dari kata bagho yang bermakna kejahatan. Adapun Togog yang berpihak pada golongan hitam berasal dari bahasa Arab thogut yang berarti iblis. Begitu pula pusaka Kalimasada milik keluarga Pendawa itu berasal dari kata Kalimah Syahadat.

Bagi orang yang tinggal di Pulau Jawa, baik mereka yang tinggal di Jateng, Jatim, dan DIY, maupun di Jabar (Sunda), sudah akrab sekali dengan budaya wayang, terutama kalangan orangtua. Maka ada yang bilang, Jawa itu kepanjangan jago wayang. Punya hajatan dengan nggantung gong (baca: nanggap wayang), adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Di rumah juga banyak yang pasang gambar wayang di dinding ruang tamu. Biasanya Semar, Kresna, Werkudara, Gatutkaca atau Rama-Sinta. Mereka ini tokoh-tokoh penuh filosofi. Jika ada yang pasang Patih Sengkuni atau Durmagati, jelas pemilik rumah tidak paham tentang perwayangan.

Karakter sejumlah tokoh perwayangan, sangat menginspirasi bagi manusia Jawa pada umumnya. Buku tembang Tripama karya KGPA Mangkunagoro IV, mengisahkan integritas tokoh Patih Suwondo, Adipati Karno dan Kumbokarno. Patih Suwondo siap mati membela Prabu Harjuna Sasrabahu yang telah memberinya kedudukan. Begitu pula Adipati Karno, dia juga siap mati membela Prabu Duryudana yang telah memberinya jabatan, meski harus bertempur dengan adik kandungnya (Harjuna). Lebih tragis lagi Kumbokarno, meski kakaknya yang bernama Dasamuka salah, tapi ketika negeri Ngalengka diserba pasukan kera dia siap membela bumi tumpah darahnya sampai mati.

Yang begini ini ustadz Khalid Basalamah tentu tak pernah baca. Begitu juga ketika wayang pada tahun 2003 oleh Unesco dinyatakan sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity ( karya kebudayaan yang mengagumkan dari segi cerita narasi serta warisan yang indah dan berharga) juga tak pernah mendengar. Karenanya dengan mudah dia mengharamkan dan  menyarankan untuk dimusnahkan saja. (Cantrik Metaram).

Advertisement