TAMAN SRIWEDARI PUTER (3)

Adipati Edy Mulyadiningrat mulai kecapekan melawan Bambang Sumantri.

PUKUL 06:00 pagi kontingen Maespati tiba di depan Istana Magada. Suasana masih sepi. Ketimbang iseng Bambang Sumantri beli koran. Rupanya di negeri ini masih ada tukang koran keliling, meski bawaan koran tidak banyak. Dari koran “Pewarta Magada” dimuat headline pagi itu: Selangkah Lagi Adipati Edy Mulyadiningrat Boyong Citrawati. Di situ diberitakan bahwa dari 15 penantangnya semua kalah. Ada yang pingsan kena hajar, bahkan ada yang baru mau naik ring langsung menyatakan kalah.

Hari ini, jika sampai pukul 10:00 tak ada penantang baru, maka Adipati Edy Mulyadiningrat diputuskan sebagai pemenang dan berhak memboyong Dewi Citrawati. Dan dia bakal menjadi istri ke-4 Adipati Edy Mulyadiningrat. Dia bakal menyaingi Prabu Kresna raja Dwarawati yang beristrikan: Dewi Setyaboma, Jembawati, Rukmini dan Pertiwi.

“Baru level adipati saja sok gaya, mau berbini empat. Ujung-ujungnya nanti korupsi juga, demi menutup anggaran 4 dapur.” Ujar Sumantri ketika membaca berita itu.

“Raja dan adipati kan hanya pangkat, nafsunya sama saja. Setiap lihat barang bagus, maunya dikawini.” Tambah  Tumenggung Kucluk Sumarto anggota Timses dadi Maespati

Sekitar pukul 08:00 pagi kemudian diumumkan lewat Toa istana Magada, masih ada peluang 2 jam lagi untuk memperebutkan sekar kedaton Dewi Citrawati. Jika sampai pukul 10:00 tak ada pendaftar lain, berarti Dewi Citrawati sah dan mutlak menjadi milik Adipati Edy Mulyadiningrat.

Dewi Citrawati sendiri ikut tegang. Sebetulnya dia tak sreg jika harus menjadi bini ke-4 adipati yang LHKPN-nya kisaran Rp 2 miliar saja. Maka dia berdoa agar segera muncul penantang baru dan berhasil mengalahkannya. Miskin nggak masalah, tapi tak dimadu dengan banyak istri. Kata para wanita korban poligami bisa makan hati berulam jantung. Nggak percaya, tanyakan pada Teh Ninih dari Bandung.

“Buruan daftar, masih ada peluang. ” Kata Tumenggung Kucluk Sumarto memberi semangat pada Bambang Sumantri.

“Mohon doanya, ya….!” kata Bambang Sumantri dan langsung menghubungi panitia.

Setelah persyaratan formil diserahkan, panitia lewat Toa kembali mengumumkan bahwa masih ada peserta dari Maespati, namanya Bambang Sumantri utusan Prabu Harjuna Sasrabahu. Oleh karenanya pasang giri saat-saat terakhir akan segara dimulai. Siapa pemboyong Dewi Citrawati, saksikan bersama-sama pasang giri ini.

Adipati Edy Mulyadiningrat dari Pudak Sitegal nampak menyepelekan sekali Bambang Sumantri, karena perawakannya sedang-sedang saja, tak gagah pideksa seperti dirinya. Dia yakin betul, sekali banting pastilah hancur lebur. Maka mumpung ada waktu untuk berpikir, dipersilakan mundur dan angkat tangan saja. Kasihan jika tak menangi Idul Fitri 1443 H.

“Malu dong ksatria kok takut bertempur. Sampai mati pun saya siap demi menjaga amanat.” Kata Bambang Sumantri.

“Bujubuneng, nyawa di Alfa Mart nggak ada lho.” Ledek Adipat Edy Mulyadiningrat sambil cengengesan.

Demikianlah, keduanya pun lalu bertinju macam Muhamad Ali – Zoe Frazier, tapi kadang bergulat macam Inoki – Muhamad Ali. Pertandingan ini disiarkan di TV dengan sponsor PT Udatimex. Kadang Sumantri kena pukul, sering juga dibanting. Tapi putra Begawan Suwandagni ini memang mantul (mantab betul). Dalam waktu cepat bisa bangkit lagi, gantian menghajar Adipati Edy Mulyadiningrat. Biar tangannya lebih kecil, kena kepala adipati Pudak Sitegal ini langsung kliyengan nggak tahu lor-kidul.

Dewi Citrawati menyaksikan pertempuran Sumantri – Edy Mulyadiningrat dari TV. Doanya ndremimil (gencar) agar yang menang Bambang Sumantri yang tampan memenangkan pertandingan, sehingga dia lebih mantap menjadi istrinya. Tapi, oh iya… Sumantri kan hanya penerima kuasa. Meskipun yang menang dia tapi nantinya yang jadi suaminya Prabu Harjuna Sasrabahu.

“Ya sudah, nggak papalah, yang penting tak dipoligami.” Kata Dewi Citrawati kemudian.

“Lagian Prabu Harjuna Sasrabahu kan kaya raya. Ndara putri nanti tinggal mamah karo mlumah.” Komentar Limbuk ART istana Magada, yang selama ini selalu meladeni Dewi Citrawati.

Sama-sama kuat, satu jam lebih pertempuran Sumantri – Edy Mulyadiningrat belum ada yang menyerah kalah. Tapi lantaran Adipati Pudak Sitegal sudah begitu banyak mengalahkan musuh, sedangkan Sumantri baru kali pertama naik ring, lama-lama kecapekan juga. Saat kang Edy lengah dia berhasil dibanting hingga pingsan. Dihitung sampai 10 tak kunjung bangun, akhirnya dilarikan ke RS Mitra Keluarga Kaya untuk perawatan.

Saat itu juga diumumkan Bambang Sumantri sebagai pemenang, dan segera akan diserahkan kepadanya untuk diboyong ke Maespati. Oleh karenanya  Dewi Citrawati diminta segera naik panggung untuk segera diserahterimakan. Namanya juga piala, meski bisa  kentut dan bernapas.

“Kepada Dewi Setyawati dan Prabu Citradarma diharap naik ke panggung untuk acara serah terima,” kata panitia pelaksana lewat Toa.

“Maaf, saya ada sarat tambahan!” Kata Dewi Citrawati tiba-tiba.

Para hadirin dan panitia pelaksana tentu saja kaget.  Bagaimana mungkin persyaratan tambahan ditentukan sepihak dan mendadak. Diam-diam Panpel pasang giri segera menemui Dewi Citrawati, apa maksudnya bikin kebijakan tanpa konsultasi dulu. Ini kan bikin malu panitia, dianggap kerja nggak profesional.

“Maaf Mbak Citrawati, jika bikin aturan dikonsultasikan dengan Panpel jauh sebelumnya. Jangan dadakan begini, kan bikin repot saya.” Protes Tumenggung Bego Mangsah.

“Sampeyan sendiri bikin aturan nggak cermat, kenapa peserta yang sudah punya istri tak dicoret? Itu kan merugikan saya, dan sekarang benar-benar terjadi.” Jawab Dewi Citrawati.

“Lho, kata Prabu Citradarma persyaratan itu sudah dikonsultasikan dengan mbak Dewi?”

“Konsultasi apaan, nggak ada! Ini kan menyakitkan, saya selalu kampanye anti poligami, tapi kok malah saya jadi praktisinya sendiri. Mau ditaruh mana muka ini,” jawab Dewi Citra marah sekali, rupanya Tumenggung Bego Mangsah memang bego betul. (Ki Guna Watoncarita)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement