
DUA negara serumpun Korea Selatan dan Korea Utara kembali bersitegang setelah Korut meledakkan sebagian dari dua jalan penghubung kedua wilayah yang masih dalam status perang, Selasa pekan lalu (15/10).
Sehari setelahnya, seperti dilaporkan oleh BBC, Korut mengeklaim setidaknya 1,4 juta pemuda telah mendaftarkan diri sebagai tentara, baik yang baru direkrut ataupun menyatakan kembali bergabung.
Langkah tersebut diambil negara komunis itu setelah mereka menuduh Korsel menyebarkan selebaran propaganda ke Pyongyang dengan menggunakan drone.
Korut menggambarkan aksi drone-drone itu sebagai provokasi yang bisa memicu konflik bersenjata, bahkan perang sehingga rezim Pyongyang memerintahkan pasukan perbatasan untuk bersiap-siap melancarkan serangan.
Sebaliknya Korsel menanggapinya dengan menyatakan, pihaknya siap membalas. Bahkan, apabila keselamatan Korsel terancam, Seoul menyatakan itu berarti akhir dari rezim Korea Utara.
Pertikaian terbaru tersebut menandai ketegangan yang terus meningkat antara kedua Korea dan situasi kali ini adalah yang paling parah dalam beberapa tahun terakhir.
Ketegangan diiawali dengan pernyataan pemimpin Korut, Kim Jong Un, Januari lalu bahwa Korsel adalah musuh nomor satu rezimnya.
Kemlu Korut menuduh Korsel mengirim drone ke Pyongyang selama dua minggu berturut-turut pada malam hari untuk menyebarkan pamflet yang memuat rumor menghasut dan pesan sampah.
Kim Yo Jong, adik perempuan Kim Jong Un memperingatkan Seoul bahwa akan ada konsekuensi yang mengerikan apabila drone-drone ini kembali diterbangkan ke wilayah Korut.
Kim menyebutkan, ada bukti yang jelas bahwa gangster militer Korsel berada di balik dugaan provokasi tersebut dan merilis gambar-gambar buram yang diklaim memperlihatkan drone-drone menebarkan foto-foto selebaran propaganda walau klaim Korut tidak bisa diklarivikai secara independen.
Korsel sendiri awalnya membantah telah menerbangkan drone ke Korut, namun, Kastaf Gabungan Korsel belakangan mengatakan pihaknya tidak dapat mengonfirmasi atau menyangkal tuduhan Pyongyang.
Muncul spekulasi bahwa drone-drone itu diterbangkan oleh para aktivis yang sebelumnya mengirimkan selebaran yang sama ke Korut dengan menggunakan balon gas.
Park Sang-hak, pemimpin Koalisi Gerakan Pembebasan Korea Utara, membantah klaim Korut. Sebagaimana dilansir kantor berita resmi Korea Utara, KCNA, sebaliknya Kim langsung menggelar pertemuan dengan kepala sta AD, para komandan militer dan menhankam.
Korut menurut KCNA juga memerintahkan pedakan rel KA yang terhubung ke Korsel sebagai “arah tindakan militer dalam jangka pendek” dan menugaskan para pejabat dengan “operasi penangkal perang dan pelaksanaan hak untuk membela diri”.
Perbandingan militer
Dari sisi anggaran belanja militer, Korsel yang merupakan salah satu negara ekonomi dan industri terkemuka menurut Institut Perdamaian dan Riset Stockholm (SIPRI) 2024 menggelontorkan 45,5 miliar dollar AS (setara Rp709 triliun) atau berada di ranking ke-5 global.
Sebaliknya, Korut yang serba tertutup dan termasuk negara miskin yang bahkan sering dilanda kelaparan, mengalokasikan anggaran belanja militer 1,3 miliar (sekitar Rp20,3 triliun) atau berada di ranking ke-26.
Secara kualitas dan kuantitas, jelas persenjataan yang dimiliki Korsel lebih banyak dan lebih modern, namun demikian, Korut memiliki sekitar 40-an hulu ledak nuklir yang bisa dilontarkan oleh rudal-rudal balitik yang terus dikembangkannya.
Jumlah tentara Korut sekitar 1,28 juta personil aktif ditambah 600.000 personil cadangan serta sekitar 6,5 juta personil wajib militer, sementara tentara Korsel berkekuatan 555.000 personil tetap,2.75 juta komponen cadangan dan sekitar 3,2 wajib militer.
AD Korut mengperasikan 6000 tank (seperti T-55, T-62 dan T-72), 4,000 unit kendaraan tempur lapis baja, masing-masing 4.500 unit artileri tarik dan swagerak dan 4.000 peluncur roket. Semua warisan eks- Uni Soviet.
Sedangkan AD Korsel diperkuat 2.624 tank (buatan lokal Panter K-2 dan M-48 atau M-60 buatan AS, 13.990 kendaraan lapis baja, 3.040 artileri swagerak, 3.854 artileri tarik dan 574 peluncur roket berbagai jenis.
Selain menggunakan lautista buatan AS, Korsel juga megembangkan sendiri industri militernya, bahkan termasuk negara pengekspor senjata utama global.
Sementara AU Korut mengoperasikan 960 pesawat, termasuk 458 pesawat tempur seri MiG seperti MiG-17, MiG-19, MiG-21, MiG-23 dan Mig-29) dan helikopter serang Mi-24 Hind.
Matra udara Korsel lebih unggul dalam jumlah dan kualitas, mengoperasikan 1.585 unit pesawat termasuk pesawat tempur generasi ke-5 buatan AS (F-35 Super Lightning II).
AU Korsel memiliki 50 pesawat tempur ringan T-50 Golden Eagle buatan dalam negeri, selebihnya buatan AS: 69 unit Phantom F-4, 156 unit Tiger F-5, 59 unit Eagle F-15, 167 unit Fighting Falcon F-16 dan 40-an F-35, dan ragam helikopter termasuk jenis serang UH-60 Black Hawk dan Kamov Ka-50 (eks Rusia).
AL Korut dengan tulang punggungnya 102 unit kapal selam (dua dari Kelas Sinpo dan 40 unit kapal selam Pantai Kelas San- O dan 36 kapal selam mini (midget). Ketiganya buatan lokal. Ada lagi 20 kapal selam Listrik/diesel tpe 033 buatan China.
Selain itu, AL Korut juga mengoperasikan sejumlah fregat ringan dan korvet, serta puluhan kapal roket cepat dan kapal patrol eks-Uni Soviet dan China serta galangan lokal. Total armada laut Korut sekitar 195 unit kapal permukaan dan bawah laut.
Keunggulan besar Korut ada pada senjata nuklir yang dikembangkannya berkekuatan mencapai 40 kiloton, meski beberapa sumber mengklaim tidak melebihi 10-15 kiloton.
Namun juga kedua negara kembali terlibat perang seperti terjadi antara Juni 1950 sampai Juli 1953, tentu bakal menyeret negara lain. Korsel terutama akan didukung AS bersama kekuatan NATO, sebaliknya Rusia, China di belakang Korut.
Sejauh ini gertakan perang hanya sebatas retorika, kemungkinan sebatas gimmick-gimmick di panggung politik dalam negeri (BBC/KCNA/ns).




