Iran vs Israel menang mana?

Iran terus melancarkan serangan rudal balistiknya ke wilayah Israel sejak Jumat (13/6) lalu termasuk ke kota Tel Aviv (foto:al-Jazeera)

ISRAEL melancarkan serangan udara besar-besaran bersandi Operasi Singa Bangkit (Rising Lion)  sejak Jumat dini hari (12/6) direspons Iran dengan serangan rudal balistik dalam operasi “Janji Sejati” malam harinya.

Selain menyasar 100-an situs militer di berbagai wilayah di Iran, termasuk tiga fasilitas nuklir (Natanz, Isfahan dan  Fordo), Israel mengeklaim berhasil menewaskan sejumlah petinggi AB dan Garda Revolusi Iran (IRGC) serta beberapa   ilmuwan nuklir.

Panglima IRGC Jenderal Hossein Salami,  Komandan AU IRGC  Jenderal Amir Ali Hajizadeh, Kastaf AB Iran Jenderal  Mohammad Bagheri, serta mantan Kepala Organisasi Energi Atom Fereydoon Abbasi dilaporkan termasuk korban tewas.

Kerusakan besar dilaporkan terjadi di fasilitas pengayaan uranium Natanz dan wilayah sekitar Isfahan serta Teheran sehingga memicu kemarahan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang bersumpah membalasnya.

Iran menyerang balik dengan lebih dari 150 rudal balistik dan ratusan drone kamikaze ke wilayah Israel yang menimbulkan kerusakan sejumlah bangunan termasuk di Tel Aviv dan Haifa.

Sebagian rudal agaknya lolos dari sistem pertahanan udara  berlapis Israel mulai dari Iron Dome, Arrow, Sistem Pertahanan Ufuk Tinggi (Terminal High Altitude Area Defence -THAAD), semua bikinan Amerika Serikat ditambah Davis’s Sling (lokal).

Perbandingan kekuatan

Israel dan Iran menurut Global Firepower (GFP) 2025, menempati ranking ke-15 dan 16 kekuatan militer dunia, dengan anggaran pertahanan masing-masing 30,5 miliar dollar AS (Rp497,1 triliun) dan 15,45 miliar dollar AS (Rp251,8 triliun).

Dikepung dan berseteru dengan negara-negara Arab sejak merdeka 1948, pasukan pertahanan Israel (IDF) terus diperkuat, dan didukung teknologi dan juga negara-negara Barat terutama AS, Israel bahkan juga masuk dalam deretan kekuatan nuklir dunia.

Sedangkan Iran – negara terkuat di kawasan Teluk – walau diembargo AS sejak Revolusi Iran 1979,  didukung Rusia, China dan Korea Utara, mengembangkan rudal-rudal balistik yang diklaim bisa menjangkau Tel Aviv.

Iran lebih unggul dalam jumlah personil yakni 610.000 anggota tetap dan 350.000 cadangan termasuk satuan Garda Revolusi (IRGC), sebaliknya IDF berkekuatan   170.000 personil tetap dan 465.000 cadangan.

AD Israel didukung 1.370 tank termasuk 500-an unit Merkava buatan lokal, dan 6.135 kendaraan lapis baja, sekitar 1.000 pucuk artileri medan dan 650 meriam swagerak serta 48 satuan roket atau rudal.

Sedangkan AD Iran mengoperasikan 2.000-an tank, sebagian besar peninggalan Uni Soviet seperti T-62 dan T-72 serta 800-an unit  Karrar buatan lokal, 4.873 pucuk artileri medan dan 1.030 artileri swagerak dan   1.775 satuan rudal atau roket.

Kekuatan AD Iran jauh lebih unggul, dilaporkan memiliki 3.000-an rudal balistik yang sebagian besar mampu menjangkau Israel termasuk Tel Aviv.

Selama diembargo oleh Barat sejak awal 1980-an, Iran terus mengembangkan rudal-rudal taktis seperti Shahab (1,2,3), Feteh, Fajr, Ghadir dan Samid yang sebagian diklaim mampu menjangkau seluruh wilayah Israel.

Supremasi Israel di udara

AU Israel mengoperasikan 612 pesawat, a.l 246 pesawat tempur eks-AS (termasuk 75 unit F-35 Lightning II, 52 unit  F-15 Eagle dan 23 unit F-15 Strike Eagle, 141 unit F-16 Fighting Falcon dan 146 helikopter serang termasuk 50 unit UH-60 Black Hawk dan AH-64 Apache.

Sedangkan AU-Iran memiliki 575 pesawat termasuk 215 pesawat tempur lawas buatan AS seperti 63 unit F-4 Phantom, 41 unit F14 Tomcat 19 unit serta MiG-29 dan  23 unit Sukhoi SU-24 (eks- Soviet), 17 unit Chengdu J-7 (China) dan Mirage F-1 (Perancis).

Supremasi udara agaknya ada di tangan Israel.  Mengoperasikan  pesawat generasi ke-5 siluman, supercruise, sistem avionik, kemampuan manuver dan sistem radar dan pelacakan, pesawat pesawat Israel  jauh lebih canggih dibandingkan rerata pesawat Iran yang masih generasi ke-3.

Di laut,  Israel didukung 67 unit kapal perang termasuk tujuh kelas korvet, 30-an kapal cepat rudal dan 15-an  kapal selamkonvensioal bertenaga diesel.

Kekuatan matra laut Iran didukung 100-an  kapal perang termasuk tujuh fregat, lima korvet dan 19 kapal selam kelas Kilo serta 31 kapal amfibi warisan Uni Soviet.

Di laut, kekuatan keduanya hampir seimbang, walau secara kualitas kapal-kapal Israel lebih modern.

Satuan Siber 8200

Iran perlu mewaspadai Satuan Siber 8200 Israel yang berkolaborasi dengan dinas kontraspionase Shinbet dan dinas rahasia Mossad yang berkonribusi besar dalam keberhasilan operasi  presisi dan rahasia, termasuk mengincar para petinggi AB dan Garda Revolusi Iran,  Hizbullah dan Hamas.

Kemungkinan jaringan spionase dan unit siber Israel sudah menyusup ke wilayah Iran sehingga mengacaukan sebagian sistem komando Iran, mendeteksi situs-situs militer termasuk fasilitas nuklir  dan leluasa membantai tokoh-tokoh yang dianggap berbahaya.

Secara kualitas, Israel unggul dalam teknologi militer, pesawat tempur, pertahanan rudal, intelijen, dan senjata nuklir, namun, Iran menang dalam jumlah personel, luas wilayah  dan   ribuan rudal taktis yang tersembunyidan siap diluncurkan  dari bunker-bunker.

Fokus Israel adalah pertahanan presisi dan superioritas teknologi, sementara Iran mengandalkan tekanan regional melalui proksi (perpanjangan tangan) seperti Hamas dan Hizbullah dan rudal balistik.

Mengingat geografi antara Iran dan Israel yang terpisah antara 1.300 km sampai 1.500 km, perang mengandalkan duel udara termasuk drone, rudal-rudal persisi, bom penghancur bunker dan perang siber.

Namun mengacu Perang Enam Hari 1967, Perang Yom Kippur” 1973,  penghancuran fasilitas nuklir Irak Osirak pada dan operasi penyelamatan sandera di Bandara Entebbe, Uganda , Juli 1976, Iran harus mewaspadai manuver “out of the box” atau tidak lazim yang acap dilakukan Israel.

Dalam Perang Enam Hari, serangan kilat pesawat pesawat tempur Israel melumpuhkan kekuatan udara negara negara Arab, dalam Perang Yom Kippur, tentara Israel yang dipukul mundur pasukan Mesir memutar arah, dan  memerangkap pasukan Mesir yang sudah berhasil menyeberangi Terusan Suez dari belakang.

Cara tak lazim

Cara-cara di luar text juga dilakukan Israel saat menghancurkan fasilitas Nuklir Irak di Osirak, Juni 2022 yang berjarak ribuan km, dengan pesawat pesawat tempur, menggunakan jalur penerbangan sipil, mengecoh sejumlah negara Arab yang dilintasinya.

Sementara dalam operasi penyelamatan di Bandara Entebbe, Uganda, pasukan pembebas berhasil membawa kabur seratusan sandera saat juru runding sedang bernegosiasi dengan Presiden Idi Amin yang terkecoh mentah mentah.

Jadi, tidak bisa dikesampingkan pula operasi khusus terbatas satuan komando misalnya untuk menghancurkan situs-situs nuklir atau lokasi strategis lainnya.

Perang di era siber saat ini, tak hanya adu retorika dan propaganda, tetapi juga adu presisi dan jangkauan serta daya penghancur alusista, alat pendeteksi dan pengalih, artificial inteligence dan teknologi siber serta adu taktik dan strategi termasuk tipudaya.

Namun yang jelas, perang memakan biaya sangat besar, belum lagi musibah bagi keluarga yang menjadi korban dan bencana bagai seluruh umat manusia, apalagi jika Israel terdesak, lalu melepas sekitar 80 sampai 200 rudal berkepala nuklir yang dimilikinya. (reuters/AFP/al Jazeera)

 

 

 

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here