JAKARTA – Wacana pembasmian tikus yang akan dilakukan di Jakarta, diharapkan Wakil Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta Ali Maulana Hakim tidak akan dilakukan secara berkelanjutan, karena tikus juga bermanfaat.
Menurutnya, jika dilakukan terus menerus akan berdampak pada ekosistem.Meski tikus bisa membawa penyakit berbahaya, tapi tikus juga memiliki manfaat dalam rantai makanan. “Jangan sampai manfaat tikus hilang gara-gara pembasmian ini. Nanti ekosistemnya terganggu,” tuturnya, di Kantor Dinas Kebersihan, Cililitan, Jakarta Timur, Kamis (20/10/2016).
“Kami berharap ini upaya penanganan saja. Kalau sudah terkendali tikusnya tentu harus dihentikan,” katanya, dikutip dari Metrotvnews.com.
Ia juga mengingatkan kepada warga untuk tidak membuang sampah sembarangan karena dapat memicu semakin banyaknya tikus, “Membuang sampah sembarangan itu sama saja dengan memberi makan tikus. Itu yang harus diketahui warga,” pungkasnya.
Sementara itu, Kabid Pengendalian Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan DKI, Widyastuti menuturkan, Leptosirosis atau kencing tikus menjadi penyakit tikus yang paling banyak di Jakarta. Namun, jumlah kasusnya terus berubah.
“Kalau penyakit pes enggak ada di Jakarta. Di sini, hanya ada Leptosirosis,” katanya.
Tahun 2016, kasus penderita Leptosirosis di Jakarta ada 40 kasus. Sementara di tahun 2015 hanya 25 kasus dan tahun 2014 sebanyak 96 kasus. “Dari 2014 hingga 2016, daerah yang paling banyak penderita Leptosirosis ada di Jakarta Barat,” ungkap dia.
Jakarta Barat merupakan daerah rawan banjir sehingga penyebaran penyakit kencing tikus mudah tersebar melalui kontak kulit dan makanan yang tercemar.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Basuki ‘Ahok’ Tjahaja Purnama meminta gerakan basmi tikus (GBT) oleh Dinas Kebersihan dilakukan sekali saja. Ahok khawatir, tikus akan dibudidaya jika warga diimingi imbalan Rp20 ribu per ekor.





