Diplomasi Olahraga ala Jong Un

Pendekatan antara Korut dan Korsel di ajang Olimpiade Musim Dingin di PyeongChang, Korsel (mulai 9 Feb) diharapkan membuka jalan perdamaian bagi dua negara yang berseteru dan masih dalam status perang .

TIDAK tanggung-tanggung,  Presiden Korea Utara Kim Jong Un mengirimkan ratusan anggota delegasi untuk berpartisipasi dalam Olimpiade Musim Dingin di PyeongChang, Korea Selatan, termasuk adik tiri perempuannya, Kim Yo Jong.

Diberitakan, kontingen Korut beranggotakan 280 orang termasuk 229 wanita remaja jelita yang menjadi pemandu sorak, 29 atlit taekwondo dan 22 wartawan, belum lagi  rombongan  grup orkestra dan penyanyi yang dijadwalkan sudah tiba  sehari sebelum acara pembukaan, Jumat (9/2). Ini merupakan jumlah kontingen terbesar yang pernah dikirimkan Korut dalam event olahraga musim dingin ke luar negeri.

Menurut informasi dari Kementerian Unifikasi Korsel, Kim Yo Jong selama lawatannya di negara serumpun yang masih dalam status perang , didampingi kepala negara (seremonial) Korut  Kim Yong Nam dan Menpora Choe Hwi serta ketua perunding dengan Korsel, Ri Son Gwon.

Rencana kedatangan Yo Jong di Korsel– sosok kepercayaan Kim Jong Un – tidak pelak lagi menjadi sorotan media setempat, mengingat ia menjadi orang pertama dalam keluarga dinasti penguasa Korut yang mengunjungi Korsel pasca Perang Korea, (1950 – 1953).

Namun Yo Jong yang memegang posisi penting di partai tunggal Korut (Partai Pekerja) juga masuk dalam daftar cekal dari Amerika Serikat dan DK PBB karena tuduhan pelanggaran HAM dan aksi penyensoran di negerinya.

Aksi peredaan ketegangan selama ajang olimpiade yang dilakukan pemimpin dua negara serumpun yang bersteru itu dianggap skeptis oleh Jepang yang  juga menjadi bulan-bulanan ancaman serangan nuklir dari Korut.

Sekretaris Kabinet Jepang Yoshihide Suga mengingatkan agar Korsel tidak begitu saja menyerah dari tekanan Korut dan tertipu oleh  pendekatan yang dilakukan dengan memanfaatkan Olimpiade musim dingin PyeongChang. Ajang pesta olahraga tersebut akan berlangsung selama 17 hari.

“Jangan mau dibohongi  dilomasi senyum Korut, “ tandasnya.

Senada dengan Jepang, Amerika Serikat yang menjadi pendukung dan mitra utama Korsel dalam menghadapi Korut juga menganggap dingin  “move-move” diplomatik yang dilancarkan Korut dengan memanfaatkan olimpiade PyeongChang.

Wapres AS Mike Pence yang sedang berada di Jepang (7/2) menyatakan negaranya akan mengumumkan sanksi ekonomi paling keras lagi dan mengingatkan agar  Korut tidak “membajak” olimpiade untuk kepentingannya.

Namun sebaliknya, Paus Fransiscus (7/2) mengapresiasi  defile bersama yang akan dilakukan kontingen Korut dan Korsel pada acara pembukaan olimpiade musim dingin PyeongChang nanti.

Paus berharap hal itu akan menyitarkan harapan lebih baik bagi dunia dimana konflik diselesaikan melalui dialog dan sikap saling menghormati seperti yang tertuang  dalam prinsip turnamen olahraga.

Hubungan Korsel yang didukung dan dipayungi AS dengan Korut selama ini berada dalam situasi tegang akibat uji-uji peluncuran rudal balistik dan senjata nuklir yang dlakukan oleh Korut.

Ancam-menganca antara  Korut  melawan AS dan Korsel terus dicermati masyarakat internasional karena dikhawatirkan akan memicu perang seperti tejadi 67 tahun lalu yang merenggut nyawa sekitar tiga juta orang dan menyeret sejumlah negara lainnya. (AP/AFP/Reuters/NS)

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement