ADAGIUM lawas “tidak ada teman atau lawan tetap, kecuali kepentingan yang abadi” tampak berlaku di Suriah setelah musuh bersama kelompok koalisi yakni kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) berhasil ditaklukkan.
Konflik Suriah bermula pada 2011 saat rezim petahana Bashar al-Assad yang meneruskan 29 tahun (1971 sampai 2000) kepemimpinan mendiang ayahnya, Hafez al-Assad mendapat perlawanan dari kelompok oposisi yang tergabung dalam Pasukan Demokratik Suriah (SDF).
Di satu pihak, rezim al-Assad didukung Turki, Iran dan tentu saja Rusia yang memiliki pangkalan angkatan laut di Tartus, Suriah, sedangkan SDF didukung Amerika Serikat.
Ada lagi kelompok etnis minoritas yakni Kurdi yang bermukim di tapal batas Irak,Iran, Turki dan Suriah yang dimusuhi secara bersama karena aksi-aksinya memperjuangkan kemerdekaan Kurdi Raya, lepas dari keempat negara itu.
Bagi Iran, Irak dan Turki, dukungan bagi Suriah di bawah rezim al-Assad dianggap penting karena etnis minoritas Kurdi yang berada di perbatasan keempat negara itu merupakan duri dalam daging dengan aksi-aksi separatisme yang mereka lancarkan.
Sementara kehadiran NIIS yang memproklamasikan negara khilafah di Mosul, Irak dan Raqqa, Suriah justeru membuat para pihak yang bertikai di Suriah, tanpa ada yang mengomandoi mereka, menghadapi musuh bersama.
AS bersama milisi Kurdi di Suriah (YPG) yang semula merupakan musuh keempat pemerintahan (Iran, Irak, Turki dan Suriah) serta Rusia, bergabung dalam satu kubu untuk memerangi NIIS.
Negara bertetangga Irak dan Iran sendiri juga pernah berperang selama delapan tahun (1980 – 1988) akibat sengketa perbatasan.
Pecah kongsi terjadi setelah ibukota NIIIS yang diproklamiskan di Mossul jatuh (9 Juli ’17) kemudian menyusul, Raqqa di Suriah, menandai berakhirnya perlawanan kelompok Islam radikal itu, sehingga front baru pun tercipta untuk memerangi Kurdi (YPG).
Medan tempur berbalik setelah Turki melancarkan ofensif militer “Ranting Zaitun” (sejak 20/1) dengan mengirimkan ribuan pasukannya didukung tank-tank dan artileri berat serta bombardemen dari udara, menyasar basis pasukan Kurdi (YPG) di wilayah Afrin, Suriah.
Rusia dalam konflik terkait suku Kurdi agaknya bersikap netral, dan tetap fokus mendukung pasukan pemerintah Suriah memerangi pasukan oposisi Suriah (SDF) serta melipatgandakan serangan udara pasca jatuhnya sebuah pesawat tempur SU-25 Rusia yang diklaim ditembak SDF di atas Idlib, Suriah (3/2).
Pihak Kurdi (YPG) sendiri kecewa pada AS – mitra utamanya saat memerangi NIIS – karena bergeming, tidak turun tangan membela mereka dari serbuan pasukan dan bombardemen pesawat-pesawat Turki di Afrin.
Pesawat-pesawat AS (8/2) lalu malah melancarkan bombardemen dari udara ke wilayah di bagian provinsi Deir al-Zor dan dilaporkan menewaskan lebih 100 anggota pasukan pemerintah Suriah yang sedang memerangi SDF.
Konflik Suriah yang sudah menelan korban lebih 300 ribu orang tewas dan menciptakan jutaan pengungsi yang menimbulkan persoalan di negara-negara Uni Eropa agaknya masih bakal berlarut-larut. (AP/AFP/Reuters/NS)





