
PEREKONOMIAN Argentina yang cukup baik di bawah kepemimpinan Presiden Mauricio Macri sampai penghujung 2017, mengalami turbulansi , menempatkan mata uang negara itu pada titik nadir sepanjang masa pada nilai tukar 34,5 peso untuk satu dollar AS, Rabu (29/8) pekan ini.
Bahkan setelah bank sentral Argentina menaikkan suku bunga acuan (30/8) dari 45 menjadi 60 persen dalam upaya merespons tingkat inflasi yang sudah mencapai 30 persen setahun, laju anjloknya nilai tukar peso yang sudah melorot 53 persen tahun ini tetap tak terbendung, menjadi 39,2 per dollar AS.
Para analis keuangan menilai, kombinasi langkah Macri meminta bantuan sebesar 50 milyar dollar AS dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan menaikkan suku bunga ternyata malah memperparah krisis kepercayaan terhadap perekonomian negara itu.
Sebelumnya sejumlah ekonom sudah mengingatkan, posisi mata uang peso Argentina terlalu tinggi, dan pemerintah juga sudah menyadarinya bahwa peso akan terdepresiasi secara bertahap selama beberapa tahun. Yang tidak diperkirakan ialah cepatnya laju anjlok peso sejak April lalu.
Depresiasi peso membuat utang Argentina dalam mata uang dollar AS menjadi lebih mahal dan mendorong pemerintah negara itu berpaling pada IMF untuk mendapatkan pinjaman 50 milyar dollar AS.
Namun pimpinan kabinet Argentina, Marcos Pena menampik, situasi yang dihadapi Argentina saat ini adalah kegagalan pemerintah, tetapi akibat musim kering massif yang menganggu produktivitas pertanian, sektor utama pemasok devisa, diperparah gunjang-ganjing perekonomian global akibat perang dagang antara AS dan China.
Drastis anjloknya nilai tukar peso Argentina memang terjadi setelah lira Turki juga mengalami tekanan beberapa waktu lalu yang juga berdampak pada tren pelemahan nilai tukar mata uang di negara-negara emerging market seperti rupee India, peso Filipina dan rupiah Indonesia.
Menurut catatan, nilai rupiah menembus level terendah baru selama 2018 pada level Rp14.711 per dollar AS (31/8) atau berarti sejak Desember 2017 sampai 31 Agustus 2018 di pasar tunai terdepresiasi 8,01 persen, lebih dalam dari yang dialami peso Filipina, ringgit Malaysia dan dollar Singapura.
Semoga berlandaskan semangat kemitraan di era globalisasi kini, segera ditemukan solusi untuk mencegah krisis moneter terutama yang dihadapi negara-negara emerging market termasuk Indonesia tidak semakin dalam. (AP/AFP/Reuters/NS)




