ABIYASA MUKSWA (III-Tamat)

Sanghyang Yamadipati siap bikin Begawan Abiyasa mati mukswa, tapi harus ada dana tambahan. Biaya tak terduga, katanya.

MENDADAK pagi itu Begawan Abiyasa ketamuan Raden Harjuna dikawal punakawan Gareng Petruk Bagong berikut Semar sebagai sesepuh dan penasihat Pendawa Lima. Seperti biasanya pula, tangannya tidaklah hampa, membawa teh gula kopi. Tapi kali ini wajah Harjuna bermuram durja, seperti tengah kehilangan sesuatu yang sangat berharga, yang takkan bisa dibeli di Bukalapak sekalipun.

“Maaf Eyang Begawan, Kangmas Prabu Kresna mendadak hilang. Padahal beliau kan bukan mahasiswa atau pelajar yang demo RUU Jitapsara.” Kata Harjuna menjawab pertanyaan Begawan Abiyasa.

“Tenang saja Harjuna. Berdasarkan pengamatan batin saya, dia bukannya hilang diculik Tim Kamboja, tapi ada misi khusus di pertapan Balekambang. Coba kamu cek ke sana, pasti ada dia.” Jawab Begawan Abiyasa sangat solutif.

Memang, keluarga Pendawa dan Kurawa sedang mempermasalahkan RUU Jitapsara, yakni skenario PBJ tentang siapa saja yang menjadi senapatinya. Ada juga memang hal-hal janggal, yang mudah dibaca oleh kalangan awam, tapi ditemukan juga pasal ketidakadilan yang hanya diketahui oleh para pakar kemanusiaan.

RUU Jitapsara itu memang bikinan para dewa di kahyangan, tanpa melibatkan kawula ngercapada yang memiliki hak inisiatif. Penyusunan RUU jadi acak-acakan, karena skenario PBJ itu tanpa melibatkan Hanung Bramantyo atau Garin Nugroho. Misalnya, ada pasal yang menyebutkan: Antarejo melawan Baladewa, yang kalah hanya diisi titik-titik, sepertinya dewa masih ragu. Tapi di pasal lain disebutkan, tokoh usia 75 tahun ke atas tidak boleh masuk dalam PBJ. Tapi kenapa Resi Bisma dilawankan dengan Resi Seto dengan kematian Seto, padahal keduanya sudah sama-sama jompo.

“Kalau mengikuti pasal itu, mustinya aku juga dimasukkan dong! Tapi saya sebagai Begawan yang tahu diri, takkan intervensi keputusan dewa. Biarkan saja, karena itu memang hak prerogative Jonggring Salaka.”

“Padahal kaki Abiyasa jika dipertandingkan juga masih kuat kan? Wong badan kelihatan masih sterk (gagah), rosa-rosa macam Mbah Marijan.” Tambah Semar memberi semangat, diamini oleh jubir pertapan, Sapto Nyebelin.

Sesuai dengan petunjuk Begawan Abiyasa, Harjuna langsung berangkat ke Taman Balekambang. Tapi agak bingung juga dia, Balekambang yang mana? Balekambang yang di Condet Jakarta, atau Balekambang dekat terminal Nggilingan Solo yang jaman Belanda dinamakan Partini Park. Untung ada Geogle Maps, sehingga Harjuna bisa pastikan langsung menuju Balekambang dekat terminal bis Nggilingan, tempat main Presiden Jokowi di masa kecil.

Tiba di Taman Balekambang ditemukan Prabu Kresna dalam posisi tidur. Untung di pertapan, bukan di sidang DPR. Tapi meski dibangunkan berulangkali tak bangun juga. Dicabut dia punya wulu cumbu (rambut di jempol kaki), juga bergeming. Akhirnya Harjuna sadar bahwa jasad Betara Kresna telah suwung (kosong). Bukan mati, tapi sukmanya nglencer jalan-jalan ke kahyangan. Harjuna pun segera tidur bersebelahan dengan jasad Kresna, dan tahu-tahu wush…….sukma Harjuna juga meninggalkan raganya untuk menyusul Kresna sowan ke kahyangan Jonggring Salaka.

“Hei Harjuna, ngapain kamu ke kahyangan Jonggring Salaka? Hari ini Betara Guru tidak terima kunjungan tamu wayang ngercapada. Sedang ada sidang umum RUU Jitapsara, kahyangan dan ngercapada harus tenang, tak boleh ada demo dan kerusuhan.” Tegur Betara Sambu, tak bersahabat.

“Saya ingin menyusul Kangmas Prabu Kresna, dia juga ikut membahas RUU itu.” Jawab Harjuna.

Betara Sambu melarang Harjuna ke Bale Marcakunda. Debatlah mereka. Harjuna menuduh Betara Sambu diskriminasi, tapi dijawabnya bahwa Kresna titisan Wisnu, sehingga punya hak suara di kahyangan. Sedangkan Harjuna hanya wayang biasa, karenanya tetap ditolak meski  mau ngepeli Rp 200.000,- Akhirnya Harjuna yang telah menyamar jadi Begawan Sukmalanggeng hanya bisa  duduk-duduk di gapura Sela Matangkep menunggu Prabu Kresna, sambil minum dawet ireng Purworejo.

Dalam sidang umum RUU Jitapsara, Prabu Kresna raja Dwarawati itu memang mewakili keluarga Pandawa – Kurawa yang bakal terlibat PBJ serentak. Ada sejumlah pasal yang dikritisinya. Misalnya, soal sesie perang Baladewa lawan Antarejo, kenapa hanya titik-titik saja. RUU harus pasti, tidak boleh ragu dan multitafsir.

“Karenanya, pasal ini mending dihapuskan saja,” saran Prabu Kresna.

“Lalu nasib keduanya bagaimana, digantung saja?” Betara Guru balik bertanya.

“Serahkan  ke saya, semuanya beres!” jawab Kresna yakin betul.

Akhirnya pasal tentang perang Baladewa-Antarejo dihapus, dan setelah disahkan lewat ketokan palu Betara Guru, UU Jitapsara telah berlaku resmi dan masuk lembaran negara. Prabu Kresna pun segera pamitan kembali ke ngercapada. Sukmalanggeng yang mencegatnya di pintu gapura Sela Matangkep, berhasil ketemu kembali justru di pertapan Balekambang. Keduanya bangun bareng.

“Tenang dimas Harjuna, berdasarkan UU Kitab Jitapsara yang baru disahkan, diprediksi Pendawa yang akan menang dalam PBJ,” kata Prabu Kresna.

“Bagaimana nasib Pendawa Lima, dan bagaimana putra-putra Pendawa?” Harjuna mengejar, dengan sejuta rasa penasaran.

Prabu Kresna sebetulnya tahu persis skenario PBJ, tapi atas permintaan dewa, tidak boleh dipublikasikan. Takut diviralkan di medsos. Maka kepada Harjuna hanya dikatakan, Pendawa Lima tetap utuh, tapi soal para anak muda Pendawa, tanyakan saja pada rumput yang bergoyang, ho ho ho ho ho ho……..

Perobahan politik di Astina dan Amarta cepat sekali. Begawan Abiyasa hanya sering mendengar bunyi tembakan meriam, orang berteriak-teriak di Tegal Kurusetra. Itu berlangsung sekitar 6 bulan. Kata cantrik Sapto Nyebelin, PBJ telah terjadi. Tokoh penting di Astina hampir seluruhnya tewas. Dari Adipati Karno, Pendita Durna, Patih Sengkuni politisi licik dari Plasajenar, sampai Prabu Duryudana dan Dursasono, semua tewas. Pendawa Lima tetap utuh, tapi anak-anak Pendawa seperti Gatutkaca, Antaseno, Antarejo bahkan Abimanyu, semua juga wasalam.

“Bagaimana dengan Resi Bisma?” Tanya Begawan Abiyasa, tentang suadara sesusuan dengannya, meski lain ayah.

“Oo, sama saja Begawan. Dia juga tewas, malah padepokan Talkanda miliknya dibongkar karena terkena jalan tol.” Jawab cantrik Sapto Nyebelin.

Seminggu kemudian Begawan Abiyasa terima kunjungan Pendawa Lima sekaligus, diantar Prabu Kresna. Mereka mengabarkan PBJ sudah usai, tapi anak-anak Pendawa hampir semuanya gugur di medan pertepuran Tegal Kurusetra. Kehadiran mereka mohon pamit, karena sebentar lagi juga bakal kabanjut  (dicabut nyawanya) oleh dewa, karena kontrak umurnya di dunia sudah selesai.

“Kalau semua sudah pada meninggal, saya ikut siapa?” Tanya Begawan Abiyasa.

“Tenang, Begawan. Jangan khawatir dimasukkan Panti Wreda Cipayung, saya akan merawatnya.” Jawab Cantrik Sapto Nyebelin menghibur.

Menyesal Begawan Abiyasa kenapa dulu menuntut umur panjang sampai diberi 210 tahun pakai nyogok Sanghyang Yamadipati. Sekarang terasa, jika anak cucu di Amarta sudah pada meninggal, siapa yang merawat. Kalau mati siapa pula yang memakamkan, apa mungkin ngglundhung dewe di liang lahat?

Sedih sekali Begawan Abiyasa. Hidupnya kini kesepian sekali, hanya ditemani cantrik Sapto Nyebelin. Sampai kemudian tak dinyana Sanghyang Yamadipati datang ke Candi Saptaharga, untuk mencabut nyawanya, karena usia sudah pas 210 tahun tepat hari ini 11 September 2019.

“Oke, saya siap dicabut nyawaku. Tapi kalau bisa sekalian bersama raganya saja, biar praktis dan ekonomis.” Mohon Begawan Abiyasa kepada Yamadipati.

“Wah, itu namanya bukan mati, tapi mukswa. Tapi harus ada dana tambahan, biaya tak terduga…” jawab Yamadipati nampak sifat aslinya.

Abiyasa sampai usul sedemikian rupa, karena takut tak ada yang memakamkan jenazahnya. Dia tahu kelakuan cantrik Sapto Nyebelin, paling-paling nanti dikubur di bekas lobang sampah. Maka setelah bayar secukupnya, Begawan Abiyasa mukswa bersama raganya. Selesai sudah urusan di dunia, kini tinggal di suwarga pengrantunan. (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement