JAKARTA, KBKNEWS.id – Banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang pada 26 November lalu menyisakan lumpur tebal, gelondongan kayu, dan krisis kebutuhan dasar bagi warga terdampak. Ketika air mulai surut, sumber air bersih justru menghilang, memaksa penyintas bertahan dalam kondisi serba terbatas.
Suparlan, warga Desa Tanjung Karang, mengaku keluarganya terpaksa mengonsumsi air dari kubangan lumpur selama hari-hari awal pascabanjir. Air tersebut diendapkan semalaman sebelum diminum, sementara makanan berasal dari beras yang sempat terendam lumpur. Risiko kesehatan disadari, namun kondisi memaksa mereka mengambil pilihan itu demi bertahan hidup.
“Perut sempat sakit dan pusing setelah minum air itu. Tapi kami tidak punya pilihan lain,” ujarnya.
Kondisi serupa dialami Fauziah, penyintas lain di desa yang sama. Ia memanfaatkan air hujan untuk memasak dan minum, sementara air sumur yang masih bercampur lumpur harus disaring terlebih dahulu sebelum digunakan.
Merespons krisis tersebut, Dompet Dhuafa melalui Disaster Management Center (DMC) menyalurkan sebanyak 22.000 liter air bersih ke Desa Tanjung Karang, Desa Simpang Empat Upah, dan Desa Upah. Bantuan ini tersalurkan berkat dukungan Kerohanian Islam OJK dan Keluarga Muslim Citibank.
Air bersih diprioritaskan untuk mendukung operasional dapur umum agar proses memasak tetap higienis. Selanjutnya, air disalurkan kepada warga melalui tandon-tandon penampungan di sekitar permukiman.
Bagi Suparlan, bantuan air bersih menjadi nafas baru bagi keluarganya. Air digunakan secara hemat, terutama untuk minum dan memasak. Fauziah pun mengaku kini dapat kembali memenuhi kebutuhan dasar, termasuk untuk berwudu.
Krisis air bersih masih menjadi tantangan utama bagi penyintas banjir bandang di Aceh Tamiang. Bantuan yang telah disalurkan menjadi langkah awal pemulihan, sekaligus harapan agar kehidupan warga perlahan dapat kembali pulih.





