Aksi Unjukrasa Meluas di Iran

Gelombang unjukrasa di sejumlah kota-kota di Iran, AS dan Eropa marak sejak kematian gadis etnis Kurdi, Mahsa Amini (22) akibat dianiaya polisi di Teheran (13/9) hanya karena dianggap tidak benar mengenakan penutup kepala (hijab).

ALIH-alih reda setelah kota-kota di Iran lebih sepekan dilanda aksi protes massa akibat kematian gadis etnis Kurdi, Mahsa Amini (22) yang diduga dianiaya Polisi Susila akibat tidak benar mengenakan hijab, penangkapan terus berlangsung.

Di dalam negeri, aparat keamanan berusaha meredam eskalasi aksi-aksi massa yang turun ke jalan, termasuk menangkapi wartawan yang gencar memberitakan dan juga sejumlah aktivis.

Sementara terkait aksi-aksi serupa yang digelar di AS dan negara Eropa, rzim Teheran menudingnya sebagai intervensi AS dan pihak Barat untuk menggoyang stabilitas pemerintah Iran yang syah.

Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) yang bermarkas di Washington melaporkan (26/9), 20 wartawan lokal di Iran ditahan sejak awal aksi unjukrasa (17/9) termasuk reporter foto Yalda Monaery dan Nilufar Hamedi dari IranWire yang pertama kali memublikasikan kondisi Amini saat dirawat di RS Kasra, Teheran sejak 13 Sept.

Dilaporkan oleh IranWire, sejak ditahan karena dianggap tidak benar mengenakan tutup kepala (hijab) saat berada di pusat perbelanjaan di Teheran (13/9) ia dalam kondisi mati otak (brain dead) , diduga akibat penganiayaan fisik oleh Polisi Susila yang menangkapnya.

Amini berasal dari kota Saghez, Prov. Kurdistan di perbatasan dengan Irak yang berfikiran modern dan gemar melancong diumumkan dalam kondisi koma dan menghembuskan nafas terakhir pada 16 Sept.

Tak hanya wartawan yang menurunkan tulisan tentang kematian Amini, sejumlah aktivis dan kuasa hukum korban juga ikut ditangkap, termasuk aktivis kebebasan mimbar, Hossein Ronaghi yang semula lolos, namun kemudian ditangkap saat menemu jaksa di penjara Evin, Teheran.

Sebaliknya, kelompok garis keras Iran malah menyerukan penangkapan terhadap para pembangkang termasuk mantan bintang sepakbola Iran, Ali Karimi yang saat ini menjadi pelatih.

Namun penangkapan-penangkapan yang dilakukan aparat keamanan justru memicu bentrok dengan para pengunjuk rasa yang meluas ke puluhan kota di Iran seperti Teheran, Tabriz, Karad dan Yazd yang sudah menewaskan lebih dari 40 orang.

Sementara Kepala HAM PBB Nada Al-Nashif (27/9) menyerukan dilakukannya penyelidikan independen yang tidak memihak atas kematian Amini.

Rezim pemerintah Ebrahim Raisi masih bisa bertahan di tengah  meluasnya aksi unjukrasa saat terjadi krisis ekonomi Iran pada 2019 yang menewaskan sekitar 1.500 orang, entah kini, menghadapi meluasnya protes atas kematian Amini. (AP/AFP/Reuters)