Alif Bayi Tujuh Bulan Jadi Yatim Piatu Atas Tenggelamnya KM Sinar Bangun

Penumpang yang membludak dan tumpukan sepeda motor merupakan hal biasa bagi pelayaran rakyat di Danau Toba yang memicu musibah seperti terjadi pada KM SInar Bangun (18/6)

SIMALUNGUN – Alif Septian, bayi berusia tujuh bulan kini menjadi seorang yatim piatu karena Ayahnya Donni Septian (28) dan ibundanya Airinsyah (29), dua dari 164 penumpang KM Sinar Bangun 6 yang belum ditemukan saat tenggelam di perairan Danau Toba, Senin (18-6-2018) pukul 17.10 WIB.

Kakek dan neneknya, Muhammad Saleh (51) dan Muntia (50) tak kuasa menahan tangis saat upacara tabur bunga Selasa (3/7/2018), setelah pencarian korban resmi dihentikan.

Selain merundung nasib cucunya, duka Saleh dan Muntia juga makin mendalam, karena anaknya yang lain Juriko (23) bersama istrinya Suyeni (21) dan cucu mereka Riki Dirgantara (3) turut dalam musibah memilukan itu.

Juriko adik dari Donni, hanya dua bersaudara, pergi berlibur merayakan Lebaran 2018 ke Kabupaten Samosir, bersama kerabatnya berjumlah enam orang. Malang, kapal KM Sinar Bangun 6 yang ditumpangi dari Pelabuhan Simanindo Samosir menuju Pelabuhan Tiga Ras Simalungun pada tanggal 18 Juni 2018 terbalik dan tenggelam menjelang 1 mil dari tujuan.

Pemerintah melalui Basarnas dan instansi lainnya dengan peralatan berteknologi tinggi bergabung melakukan upaya pencarian dan pertolongan. Sampai hari ke-14 yang menjadi akhir pencarian di Danau Toba, mereka belum ditemukan. Bukan mereka saja, ada 158 penumpang lainnya yang bernasib sama.

Atas kuasa Tuhan, ada 18 penumpang yang selamat. Begitu pula nakhoda dan dua anak kapal tersebut. Tiga penumpang lainnya ditemukan telah meninggal.

Garis keturunan mereka nyaris habis. “Hanya tinggal si Alif ini,” sebutnya lirih.

Mereka juga mengaku sering menitiskan air mata saat memandang cucunya yang sedang tidur pulas, terharu dengan ketidakrewelannya dan nasibnya kelak.

Saleh mengaku masih merasakan adanya beban berat bila Alif nantinya menanyakan keberadaan orang tuanya dan reaksi dari cucu semata wayangnya itu. Sekarang ini, Alif menjadi penghibur duka. Entah bagaimana perasaannya kelak ketika sudah besar.

Syukur, dalam kesedihan itu, sanak keluarga dan tetangga memberikan semangat dan penghiburan, mengingatkan akan kuasa Allah yang telah menjalankan takdir atas diri hamba-Nya.

Harapan baru juga datang, saat Bupati Simalungun JR Saragih berkunjung ke rumah dan berjanji memberikan bantuan biaya untuk Alif sebesar Rp 1 juta setiap bulan dari anggaran pemerintah. “Alif menjadi anak Pemkab Simalungun, dan biaya tetap berjalan selama saya menjabat sebagai bupati,” kata JR Saragih, dikutip Antara.

Untuk memberikan semangat baru bagi pasangan Saleh dan Muntia, Bupati menyerahkan uang Rp 50 juta untuk pembuatan balai pertemuan desa mengabadikan nama Alif.

 

Advertisement