Bangunkan Raksasa Tidur

0
89

Saudaraku, dunia menjuluki abad ke-21 ini sebagai Abad Asia. Dalam era kebangkitan Asia ini, apakah takdir Indonesia sbg negara-bangsa besar hanyalah semenjana yg mendekam di halaman belakang dinamika kawasan?

Sesungguhnya, Indonesia adalah bangsa pelopor. Kesimpulan itu disematkan oleh David van Reybrouck dlm bukunya, Revolusi: Indonesia and the Birth of the Modern World (2024).

Menurut penulis Belgia lulusan doktoral Universitas Leiden tersebut, ”Sejarah Indonesia menorehkan peristiwa tanpa preseden dgn signifikansi global: negara pertama yg mendeklarasikan kemerdekaan pasca-Perang Dunia II.”

Revolusi kemerdekaan Indonesia berdampak besar bagi semesta kemanusiaan dan membentuk ekspektasi ttg watak dekolonisasi: tidak bersifat gradual. Tak terbatas pada porsi kecil daerah koloni atau sebagian kekuasaan tertentu; melainkan suatu proses transisi segera menuju kemerdekaan, meliputi seluruh wilayah kekuasaan dan transfer kedaulatan politik scr penuh.

Reybrouck menyebut Indonesia tidak saja sbg pelopor dekolonisasi, tapi juga penggalang solidaritas dan kerja sama negara-negara bekas jajahan melalui inisiatif Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955. Ini konferensi pertama para pemimpin dunia tanpa Barat, dgn mewakili lebih dari 1,5 miliar penduduk dunia saat itu.

Sedemikian penting dampak KAA bagi kemanusiaan global sampai-sampai penulis kulit hitam Amerika Serikat yg hadir di KAA, Richard Wright, menyebutnya ”momen yg sangat menentukan dlm membangkitkan kesadaran baru bagi 64 persen ras manusia.”

Efek domino KAA sangat luas cakupannya dan dalam penetrasinya. Hal itu terentang mulai dari kebangkitan dan solidaritas bangsa-bangsa Dunia Ketiga dan Gerakan Non-Blok, perlawanan thd penjajahan dan rezim apartheid di berbagai belahan Bumi, penggalangan Pan Arabisme dan Pan Afrikanisme, nasionalisasi Terusan Suez oleh Gamal Abdul Nasser sbg katalis bagi pembentukan Uni Eropa, perubahan komposisi keanggotaan PBB, hingga kemunculan gelombang civil rights movement di Amerika.

Kini, kita berdiri di ufuk milenium baru menyaksikan fajar kebangkitan Asia. Saatnya kita bangkitkan kembali raksasa yg tertidur lelap itu. (Edulatif, No. 47)

Advertisement div class="td-visible-desktop">

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here