BANJARAN DURNA (13)

Durna menjajal jas pinjaman dari Durmagati. Tapi sama sekali tidak pas. Kata Durmagati, jas itu dulu nggenteni Fadli Zon.

SIANG itu sidang selapanan Istana Gajahoya membahas rencana persiapan perkawinan Pendita Durna melawan Dewi Rukmini putri Prabu Bismaka dari Kumbina. Tampak hadir di hadapan Prabu Jakapitono, wrangka dalem Ngastina, Patih Sengkuni, Adipati Karno dan Prabu Baladewa. Ada juga Kartomarmo, tapi dia duduknya menjauh di belakang. Maklum dia ini hanya tokoh pelengkap penderita, jarang dimintai pendapatnya. Pokoknya apapun program negeri Gajahoya dia tinggal mendukung.

“Maaf, mohon informasi. Paman Durna ini sudah positif mau menikah dengan Rukmini atau baru wacana?” Prabu Baladewa memberanikan diri bertanya pada Prabu Jakapitana.

“Menurut WA yang saya terima, dia baru melamar. Karenanya kita harus mengantarkannya sebagai pengombyong. Cukup pakai mobil pribadi atau pakai bus pariwisata?” jawab Prabu Jakapitono.

“Namanya orang melamar, kemungkinannya hanya dua; bisa diterima, bisa pula ditolak. Karenanya kita-kita ini aja kesusu, lihat perkembangan selanjutnya.”

“Tapi kan biasa sudah ada lobi-lobi khusus, sehingga lamaran itu nantinya hanya tinggal simbolis.” Ujar Patih Sengkuni mencoba menengahi.

Tapi sambil berbisik para peserta sidang selapanan menilai bahwa Pendita Durna terlalu kepedean. Bagaimana tidak? Usia sudah oversek kok naksir cewek usia 20 tahun yang lebih pantas jadi anaknya. Mbok kalau mau kawin lagi cari janda usia 40 tahun ke atas, sehingga resiko punya anak lagi sangat kecil. Kalau model Dewi Rukmini, bisa-bisa nanti punya anak tak lama ketunggon bapa, karena Pendita Durna keburu meninggal dimakan usia tua.

Prabu Baladewa dan Adipati Karno justru kasihan pada putra Begawan Durna, si Aswatatama. Usia sudah 25 tahun belum pernah punya pacar, apa lagi “mbelah duren” jatohan. Mestinya Begawan Durna lebih memikirkan masa depan putranya, bukan malah memikirkan diri sendiri. Bertambah usia mestinya pikiran semakin meneb (matang) bukannya malah nggrangsang doyan hal-hal yang seger merangsang.

“Sudahlah, kita tak perlu mencampuri urusan pribadi Bapa Pandita Durna. Dia mau cari bini, harus kita dukung, agar jabatan Ketua Darma Wanita Sokalima segera terisi. Kan begitu, paman Sengkuni?” kata Prabu Duryudana menyapih perdebatan macam di warung kopi itu.

“Akur, anak prabu. Yang penting kita siap jadi pengombyong. Jika benar nanti kakang Durna diterima lamarannya dan nikah, kita kan cukup kondangan dan nyumbang. Selesai….”

Ternyata rencana besar Begawan Durna ini tak hanya disampaikan kepada keluarga Ngastina belaka. Para mantan murid keluarga Pandawa juga di WA, sehingga Prabu Puntadewa beserta adik-adiknya ikut dibuat sibuk karenanya. Mereka juga sepakat hendak ke Kumbina, dalam rangka memberikan dukungan lamaran Begawan Durna atas sekar kedaton negeri Kumbina. Cuma, agar negeri Ngamarta tak sampai kekosongan pejabat, yang berangkat hanyalah Harjuna dan Werkudara, itupun cukup naik bis malam Rosalia Indah.

Bangga sekaligus terharu menyelimuti hati Begawan Durna, karena rencana menikahnya dapat dukungan penuh para muridnya. Mereka mendukung dengan tulus, tanpa pamrih secuilpun. Beda dengan dukungan Ketum partai, katanya siap berkoalisi menuju 2024, tapi dalam hatinya semuanya berambisi yang dapat tiket ke Pilpres. Sukur-sukur jadi Capresnya, jadi Cawapresnya juga lumayan.

“Aswatama, kamu nggak usah ikut ke Kumbina ya. Cukup tunggu padepokan saja, karena yayasan pendidikan ini tak boleh kosong.” Pesan pendita Durna pada putranya.

“Nggak diliburkan saja rama, barang 2-3 hari, agar rama Begawan bisa fokus pada agendanya.” Saran Aswatama.

“Ya nggak bisa, dan nggak umum itu. Masak cuma gurunya jadi pengantin saja murid diliburkan. Rugi dong yayasan, karena tak ada pemasukan.”

Aswatama hanya bisa manggut-manggut. Demi mendapatkan putri cantik, sang ayah siap mengaktualisasikan diri. Jubah kebesarannya dilepas, ganti pakai jas, pakai dasi dan sepatunya pun berkaos kaki. Rambutnya juga pakai ilmu hitam alias disemir, sehingga penampilannya menjadi tampak lebih muda. Ketika dipertanyakan Aswatama, jawabnya enteng saja, “Negeri Arab saja sekarang perempuannya boleh mengemudi dan melepas jilbab.”

Tapi Aswatama juga tertawa dalam hati, sebab jas yang dikenakan ayahnya agak kegedean. Ternyata itu barang pinjaman dari Dursasasono. Semula dipinjami Prabu Jakapitono, tapi terlalu kegedean. Coba pinjam punya Citraksa-Citraksi, kekecilan. Sampai kemudian dipinjami pula oleh Durmagati. Tapi makin lucu di tubuh Begawan Durna, badan kegedean, tapi celana cingkrang jadi mirip kadrun.

“Durmagati, jasmu nggak cocok untuk saya. Badan terlalu longgar, tapi bagian celana kependekan.” Ujar Begawan Durna.

“Kalau nggak pas ya nggak papa, wong jas itu dulu saya nggenteni Fadli Zon politisi Senayan, he he …..!” jawab Durmagati sambil tertawa ngakak.

Dengan diiringkan sejumlah petinggi Ngastina, rombongan calon pengantin Begawan Durna mencarter bis White Horse nan mewah. Benar-benar wangi dan lumayan sejuk. Disebut lumayan lantaran AC sengaja dikecilkan, karena Begawan Durna takut bengeknya kumat. Pendita Sokalima ini memang tidak bakat jadi orang kaya, gara-gara tidak tahan AC.

Tiba di negeri Kumbina tepat pukul 10:00. Ternyata rombongan Begawan Durna disambut dengan gegap gempita.  Umbul-umbul dipasang sepanjang jalan, jathilan dari Yogya juga ikut menyambutnya. Bahkan murid-murid SD dengan seragam putih merah tampak berjajar di sepanjang jalan menuju istana.

“Ternyata Wakne Gondel merupakan tokoh lintas negara. Lihat tuh sambutan rakyat Kumbino, mereka mengelu-elukan sebegitu rupa,” ujar Patih Sengkuni sambil acungkan jempol tangan kiri, niru emotikon di medsos.

“Aku kok…..!” jawab Begawan Durna pendek dengan hidung bengkoknya semakin kembang-kempis.

Pukul 11:00 acara lamaran dimulai. Setelah MC membuka acara dengan membacakan susunan acara, disusul sambutan oleh tuan rumah langsung oleh Prabu Bismaka sendiri. Di antaranya dikatakan, di era gombalisasi seperti sekarang ini, istilah atau peribahasa kebo nyusu gudel semakin nyata. Artinya, soal jodoh orangtua hanya mengikuti kehendak anak, tidak bisa mencampurinya. Diterima lamaran, alhmadulillah. Ditolak ya jangan masgul. Sebab yang menentukan si anak sendiri, selaku pihak yang akan menjalaninya. (Ki Guna Watoncarita)